DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 3 : Mirip


__ADS_3

Elina sedang joging bersama Atnan. Pagi itu mereka joging ditepi jalan sambil jajan berbagai makanan yang dijajakan ditepi jalan. Atnan sengaja berangkat agak siangan agar bisa menemani Elina joging pagi.


"Sayang kau mau martabak mini? ramai sekali, sepertinya enak?" tanya Atnan.


"Mau Mas," ucap Elina.


"Kau disini dulu, aku belikan martabak mininya ya," ucap Atnan.


"Iya Mas," jawab Elina.


Atnan ikut mengantri demi membeli martabak mini untuk Elina. Sedangkan Elina menunggu dibawah pohon sambil duduk melihat ke arah jalan yang masih sepi. Ada seorang anak kecil yang terjatuh saat dia sedang berjalan. Elina menghampiri anak itu dan menolongnya. Dia membersihkan luka anak itu.


"Siapa namamu?"tanya Elina.


"Bagas"ucap Bagas.


"Lukanya masih sakit tidak?"tanya Elina.


"Tidak, terimakasih tante cantik," ucap Bagas.


"Iya, oya rumahmu dimana? kok jalan sendirian?"tanya Elina.


"Rumahku didekat sini tante," ucap Bagas.


"Oh, tapi kau tidak boleh pergi sendirian, dijalan raya berbahaya," ucap Elina.


"Aku hanya ingin membeli sarapan untuk Bundaku," ucap Bagas.


"Sarapan apa? biar tante antar," ucap Elina.


"Bubur ayam tante cantik," ucap Bagas.


"Oke, ayo kita beli bubur ayamnya," ucap Elina.


Elina menemani Bagas membeli bubur ayam. Tak lama Atnan datang menghampiri mereka yang sedang berdiri didepan gerobak tukang bubur ayam.


"Sayang kau mau beli bubur ayam?" tanya Atnan.


"Tidak, tapi aku sedang menemani Bagas membeli bubur ayam," ucap Elina.


"Bagas?" Atnan penasaran. Dia melihat anak kecil disamping Elina. Anak yang sedikit mirip dengannya.


"Dia siapa Elina?" tanya Atnan.


"Ini Bagas Mas, tadi dia jatuh dijalan. Aku menolongnya dan menemaninya membeli bubur ayam ini untuk Bundanya," ucap Elina.


"Kau memang baik Elina," puji Atnan pada Elina.

__ADS_1


Atnan dan Elina mengantar Bagas sampai depan rumahnya. Kemudian mereka pulang. Bagas masuk ke rumahnya, Lara langsung memeluk keponakannya itu. Bagas tak lupa mencium pipi Tante kesayangannya yang sudah merawatnya sejak kecil itu.


"Bagas dari mana?" tanya Lara.


"Beli bubur ayam buat Bunda," ucap Bagas.


"Kalau gitu, ayo kita sarapan bersama," ucap Lara.


"Oke tante," ucap Bagas.


Lara mengajak Bagas sarapan diruang makan. Bagas duduk dikursi makan menunggu Laura untuk sarapan bersama.


"Tante Lara, Bunda kemana? bukannya dia hari ini sip siang ya?"tanya Bagas.


"Bundamu lagi ngojeg online, lumayan buat jajan Bagas selama sekolah di TK"ucap Lara.


"Bunda kerja terus, ojeg online terus kerja dicafe juga, belum lagi ngreditin berbagai elektronik ke temen-temennya dan tetangga disini. Apa uangnya belum banyak juga ya Tante?"tanya Bagas.


"Nanti kalau uangnya udah banyak kata Bunda mau ngajak Bagas jalan-jalan, sudah lamakan Bagas gak jalan-jalan ya"ucap Lara.


"Iya, tapi Bagas kasihan sama Bunda, pasti capek nyari uang terus"ucap Bagas.


"Makanya Bagas harus rajin sekolah dan belajar yang benar, jadi anak yang baik supaya usaha Bunda Bagas tidak sia-sia sayang"ucap Lara.


"Iya, Bagas akan jadi anak yang baik dan pintar supaya Bunda senang"ucap Bagas.


"Bagas, Bunda sayang banget sama Bagas. Meskipun kau benih laki-laki yang tak dikenal. Tapi hadirnya dirimu dalam hidup Bunda, membuat Bunda bahagia Bagas"ucap Laura.


Laura memeluk Bagas sambil berbaring disampingnya. Lalu Bagas terbangun dan mencium Bundanya.


"Bunda sudah pulang"ucap Bagas.


"Sudah sayang, Bunda beli camilan kesukaanmu, donat coklat bertabur ceres"ucap Laura.


"Asyik, Bagas suka. Terimakasih Bunda"ucap Bagas.


"Tadi Bagas membeli bubur ayam buat Bunda, makasih ya," ucap Laura.


"Iya Bunda, sebenarnya tadi Bagas terjatuh dijalan, ada tante cantik yang menolong, terus dia menemani Bagas membeli bubur ayam," ucap Bagas.


"Bagas sudah berterimakasih padanya?" tanya Laura.


"Sudah Bunda," ucap Bagas.


Setelah itu Bagas terlihat sedikit murung, Laura ingin tahu apa yang membuatnya murung.


"Bagas kok diem aja, kenapa?" tanya Laura.

__ADS_1


"Bunda, Bagas ingin bertemu ayah. Apa Bagas punya ayah?" tanya Bagas.


"Bagas, Bunda laper banget, kita makan donatnya yuk," ucap Laura mengalihkan pembicarasnnya.


"Iya Bunda," ucap Bagas.


Laura tidak tahu siapa ayah kandung Bagas. Dia sedih setiap ingat kejadian itu. Apalagi saat Bagas selalu menanyakan ayah kandungnya. Untung saja Bagas anak yang baik jadi mudah diberi pengertian.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Atnan dan Elina kembali ke rumah. Mereka langsung naik ke lantai atas untuk beristirahat. Elina duduk diranjang ditemani Atnan sambil mengelus perutnya. Sudah jadi kebiasaan, setiap hari Atnan selalu mengelus perut Elina. Dia ingin segera melihat buah hatinya. Elina senang sekali Atnan semakin perhatian dan sayang padanya.


"Mas, kalau dilihat-lihat Bagas sedikit mirip kamu tapi matanya mirip Kenan ya," ucap Elina berspekulasi.


"Iya, tadi aku juga berpikir seperti itu. Dia mirip aku tapi matanya mirip Kenan," ucap Atnan. Dia sudah melihat sendiri Bagas memang mirip dirinya walaupun matanya mirip Kenan.


"Gantengnya juga mirip seperti Papa saat masih kecil," ucap Elina menyamakan Bagas dengan Rafka. Dia pernah melihat foto ayah mertuanya saat masih kecil yang dipajang dirumah kakek dan nenek Atnan. Bagas memang tampat mirip juga dengan Rafka.


"Iya, mirip Papa saat kecil" ucap Atnan. Dia juga merasa Bagas mirip Papanya saat masih kecil.


"Kok bisa ya ada anak kecil yang mirip dengan mu," ucap Elina penasaran. Dia heran Bagas mirip dengan Atnan secara tidak langsung atau mungkin hanya kebetulan.


"Iya ya, mungkin kebetulan sayang, didunia inikan ada beberapa orang yang mirip walau bukan anggota keluarganya," ucap Atnan.


Elina berpikir masuk akal juga kalau Bagas kebetulan mirip Atnan, Kenan dan Rafka. Saat mereka sedang berbincang handphone Elina berdering. Elina melihat ke meja didekat ranjang. Ada panggilan dihandphone miliknya.


Kriiing...kriing... kriiiing...


"Mas kuangkat telponnya dulu ya," ucap Elina.


"Iya sayang," ucap Atnan.


Elina beranjak dari ranjang. Dia mengambil handphone miliknya. Terlihat panggilan dari Suster Eka. Elina langsung berjalan keluar kamarnya. Dia pergi ke taman dihalaman rumah. Dia tidak ingin Atnan mendengar percakapannya dengan Suster Eka. Barulah dia mengangkat telpon itu.


"Hallo Suster Eka," ucap Elina.


"Nyonya Elina, Davina menyayat lengannya," ucap Suster Eka.


"Apa?" Elina terkejut.


"Saya sedang membawanya ke rumah sakit," ucap Suster Eka.


"Oke, aku akan segera kesana suster," ucap Elina.


Elina langsung menutup telponnya. Dia menuju ke arah parkiran mobil didepan dirumahnya. Elina naik mobil meninggalkan rumah besar itu. Atnan yang melihatnya dari atas balkon penasaran kenapa Elina menelpon ditaman dan pergi keluar rumah tanpa pamit.


"Elina mau kemana? sepertinya buru-buru? kenapa dia tidak bilang atau pamit padaku?" Pertanyaan demi pertanyaan terlintas dipikiran Atnan. Dia merasa Elina menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi Atnan tidak tahu apa yang disembunyikan Elina darinya.

__ADS_1


__ADS_2