
Laura terus mengejar mobil di depannya hingga kakinya tersandung dan terjatuh. Dari arah depan sebuah motor hendak menabraknya, Laura berusaha berdiri. Ketika sudah berhasil berdiri dia justru terserempet motor itu. Laura terjatuh. Beberapa orang langsung menghampirinya dan mengerumuninya. Namun tak ada satupun orang yang menolongnya. Tiba-tiba seseorang mendekati Laura dan berjongkok di depannya. Dia menolong Laura yang sedang memegang kakinya yang sakit.
"Apa kau tak apa-apa?" tanya Kenan.
Suara itu membuat Laura menatap ke arahnya. Lelaki di dekatnya itu Kenan yang tadi dikejarnya.
"Tidak, aku ingin bangun," ujar Laura.
"Ayo ku bantu," ucap Kenan.
Laura mengangguk. Kenan membantu Laura bangun, tapi karena kakinya sakit Laura kesulitan bangun. Melihat itu Kenan tak tega, dia berinisiatif membopong Laura. Langkah demi langkah, mata Laura terus melihat wajah Kenan, wajah yang mirip dengan Bagas. Aroma tubuhnya membuat Laura mengingat malam itu, di mana kehormatannya direnggut lelaki tak dikenal.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit," ujar Kenan.
Laura hanya diam. Dipikirannya hanya mengingat lelaki pada malam itu. Dia tak menyangka sekarang bertemu, meski ini baru dugaan. Namun feeling-nya kuat.
Kenan mendudukkan Laura di kursi belakang. Dia mengendarai mobilnya ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan sesekali Kenan melihat ke belakang melalui spion di dalam mobilnya, memastikan kondisi Laura. Sampai di rumah sakit Kenan kembali membopong Laura masuk ke UGD. Di dalam Laura mendapatkan penanganan dan di pindahkan ke ruang rawat inap setelah menjalani berbagai pemeriksaan dan pengobatan.
Ruang rawat inap Flores No 211, tempat Laura dirawat. Kenan menemani Laura, menunggu keluarganya datang. Kenan juga membantunya makan, minum air dan obat. Kenan duduk di samping ranjang menemani Laura.
"Terimakasih atas bantuannya," ujar Laura.
"Sama-sama," sahut Kenan.
"Namaku Laura Diana," ucap Laura memperkenalkan diri.
"Namaku Kenan Alexsandro," balas Kenan yang juga memperkenalkan dirinya.
Laura memperhatikan Kenan. Dia yakin betul Kenan ayah Bagas.
"Apa sudah menikah?" tanya Kenan.
"Belum, tapi aku punya anak," jawab Laura.
__ADS_1
Kenan terdiam sesaat. Memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Laura.
"Aku hamil tapi tidak tahu siapa yang ayah anakku" ujar Laura.
"Kok bisa? hamil tanpa tahu ayah anakmu?" tanya Kenan.
"Aku diperkosa," jawab Laura.
"Diperkosa?" Kenan terkejut.
Laura langsung berurai air mata. Dia teringat saat lelaki itu merenggut kehormatannya secara paksa.
"Maaf aku mengingatkanmu kembali," ujar Kenan.
"Tidak papa, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang memperkosaku, anakku ingin bertemu dengannya," ungkap Laura.
"Seperti apa ciri-cirinya, mungkin aku bisa membantumu," ucap Kenan.
"Aku tidak tahu, aku diperkosa di dalam mobil, saat itu malam hari dan tempat itu jauh dari penerangan lampu," ujar Laura.
Laura hanya mengangguk. Tak lama Lara dan Bagas masuk ke dalam ruangan itu. Bagas langsung lari memeluk Laura.
"Bunda ...," ucap Bagas menangis dipelukan Laura.
"Bagas, jangan menangis sayang, Bunda tidak apa-apa," sahut Laura.
"Kata Tante Lara, Bunda sakit, Bagas takut," ujar Bagas.
"Tidak sayang, besok Bunda sembuh kok," ucap Laura.
Bagas mulai tenang mendengar ucapan Laura. Lara segera menghampiri mereka. Dia menyapa Laura, dan berkenalan dengan Kenan. Mereka satu sama lain memperkenalkan diri termasuk Bagas. Laura juga menceritakan kalau Kenan yang sudah menolongnya pada Lara dan Bagas.
"Om makasih ya, sudah menolong Bunda," ucap Bagas.
__ADS_1
"Iya Bagas," jawab Kenan. Matanya tertuju pada wajah Bagas yang mirip dengan foto ayahnya saat kecil begitupun dengan fotonya saat kecil. Tanpa disadari Kenan berjalan mendekati Bagas dan memeluknya.
"Kenapa aku memeluk anak ini? rasanya aku ingin dekat dengannya," batin Kenan.
"Aku seneng dipeluk Om, kaya punya ayah," ujar Bagas yang masih polos.
"Om juga seneng meluk Bagas," jawab Kenan.
Kenan merasa nyaman memeluk Bagas begitupun Bagas. Ada perasaan yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Melihat keduanya berpelukan Laura dan Lara terharu. Selama ini Bagas begitu merindukan sosok ayah.
"Om aku punya mobil-mobilan kecil," ujar Bagas usai berpelukan dengan Kenan.
"Mana?" tanya Kenan.
Bagas mengeluarkan mobil-mobilan kecil dari sakunya.
"Ini untuk Om, biar besok kita ketemu lagi," ujar Bagas sambil memberikan mobil-mobilan kecil pada Kenan.
"Om akan simpan, nanti kalau kita ketemu lagi, Om akan belikan mobil-mobilan yang besar ya," ucap Kenan sambil memegang mobil-mobilan dari Bagas.
"Oke Bos," sahut Bagas sambil tersenyum pada Kenan.
"Kita foto ya?" tanya Kenan.
Bagas mengangguk. Segera Kenan berfoto selfi berdua dengan Bagas. Kemudian dia pamit pulang. Di dalam Bagas berbaring di ranjang memeluk Laura, lama-kelamaan tertidur.
"Kak, lelaki yang tadi mirip Bagas ya?" tanya Lara.
"Iya, aku juga berpikir seperti itu," jawab Laura.
"Matanya, rambutnya, wajahnya, mirip Bagas," ucap Lara.
"Bagas juga seneng banget bersamanya, padahal Bagas susah deket kalau ketemu orang baru," ujar Laura.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan dia memang ayahnya Bagas Kak?" Lara menduga. Meskipun dia belum memiliki bukti.
Laura terdiam. Apa yang dipikirkan Lara sama persis yang dipikirkan olehnya.