
"Mungkin? tapi aku belum punya bukti apapun untuk menyimpulkan ke situ," ujar Laura.
"Kalau begitu kita harus cari tahu," kata Lara.
"Iya, kau benar. Bagas sangat merindukan ayahnya, dia pasti sangat senang kalau bisa bertemu ayahnya," ungkap Laura.
"Semoga saja ini benar, dia harus bertanggungjawab atas perbuatannya," ujar Lara.
"Aku hanya ingin mempertemukannya dengan Bagas," ucap Laura.
Lara memegang tangan Laura. Tangan yang terus bekerja keras untuk keluarganya.
"Kak, dia harus menikahi kakak kalau seandainya benar, dia sudah merenggut semuanya dari kakak, dia harus membahagiakan kakak," ujar Lara.
"Aku tidak tahu, bisa saja dia sudah menikah dan punya keluarga kecilnya, aku tidak tahu," ucap Laura.
"Apapun itu, dia harus tanggungjawab," kata Lara.
Laura tak berpikir banyak, dia hanya ingin Bagas bertemu ayahnya. Selama ini Laura sangat tersiksa melihat Bagas yang selalu merengek ingin bertemu ayahnya. Impiannya saat ini hanya ingin melihat Bagas bahagia.
***
Kenan pulang ke rumah besar orangtuanya. Dia melihat foto di atas lemari dekat tangga. Di sana terpajang foto-foto masa kecil ayahnya dan fotonya beserta kakak-kakaknya.
"Bagas memang mirip dengan fotoku masih kecil, kenapa bisa kebetulan begini? aku juga senang saat bersamanya, padahal kami baru bertemu sekali," ujar Kenan. Tiba-tiba dari belakang Renata menghampirinya.
"Kau sudah pulang Bos?" tanya Renata.
Kenan berbalik melihat istrinya begitu cantik mengenakan dress merah.
"Tumben kau dandan sayang?" tanya Kenan.
"Jangan ke geeran, aku cuma lagi ikut-ikutan trend aja," ujar Renata gengsi mengakui kalau dia berdandan untuk Kenan.
"Cantik, aku suka," ucap Kenan.
Renata tersenyum tipis sambil membuang muka. Melihat tingkah Renata. Dia langsung membopong Renata.
"Kenan, turunkan aku!" pinta Renata.
__ADS_1
"Kau sendiri yang menggoda, aku tak bisa melihatmu seperti ini, harus eksekusi secepatnya," ujar Kenan.
Kenan membawa Renata naik ke lantai atas. Mereka masuk kamar. Memadu cinta. Renata yang selalu gengsi tak bisa menolak kharisma Kenan, dia selalu nyaman dipelukan keromantisannya. Usai menyalurkan semua keinginan dan cinta yang membara. Mereka berbaring untuk beristirahat.
"Renata, bagaimana kalau seandainya aku menikah lagi?" tanya Kenan.
"Tinggalkan aku!" tegas Renata.
Kenan langsung diam. Jika benar Bagas anaknya,
dia akan berada di dalam posisi yang sulit. Satu sisi pernikahannya bersama Renata dan di sisi lain Laura, Bagas, yang akan jadi tanggungjawabnya. Sebagai seorang lelaki dia harus bisa bertanggungjawab. Pasti banyak kesulitan yang harus dilewati Laura tanpanya selama ini. Tak mudah membesarkan anak tanpa seorang suami. Apalagi saat Laura harus hamil di luar nikah. Kenan memikirkan semuanya.
"Kenapa kau bicara seperti itu Kenan?" tanya Renata.
"Tidak, hanya berandai," jawab Kenan.
Renata menatap wajah Kenan.
"Kalau seandainya itu benar, aku tidak bisa harus berbagi, itu sangat menyakitkan, lebih baik aku pergi," ucap Renata.
Kenan langsung memeluk Renata. Dia juga belum tahu apa yang akan terjadi esok hari. Sekarang yang terpenting untuknya membuktikan Bagas itu anaknya atau bukan.
***
"Ini seikat bunga untuk sayangku," ujar Atnan.
Elina terharu, dia pikir Atnan takkan memberinya bunga tapi ternyata tidak. Elina mengambil bunga itu, mencium aromanya.
"Kau suka?" tanya Atnan.
"Iya, suka," ucap Elina.
Atnan berlutut di depannya, mencium perut Elina, mengusapnya perlahan.
"Dede, Papa kangen," ucap Atnan. Elina tersenyum sambil mengusap rambut Atnan. Mereka terlihat mesra, Davina melihat ke arah mereka. Dia melihat Atnan.
"Atnan," ucap Davina. Mendengar suara memanggilnya, Atnan menengok ke samping. Davina menanggil namanya. Dia langsung menghampiri Davina.
"Davina kau bicara apa tadi?" tanya Atnan.
__ADS_1
"Atnan," kata Davina.
Atnan memegang pipi Davina dengan kedua tangannya.
"Iya Davina, aku Atnan, suamimu," ucap Atnan.
Davina tersenyum. Segera Elina menelpon Dokter yang menangani Davina. Perkembangan Davina dilaporkan pada Dokter. Akhirnya Dokter datang ke rumah mereka untuk memeriksa perkembangan Davina lalu bicara dengan Atnan dan Elina.
"Ada sedikit perkembangan, dia mulai bisa mengenali orang-orang terdekatnya dan beberapa ingatan di masa lalunya, itu bagus, harus terus di stimulasi," ujar Dokter Zainal.
"Alhamdulillah kalau sudah ada perkembangan Dok," ujar Atnan. Elina juga senang mendengar kabar baik itu. Kasihan Davina yang sudah menderita selama ini. Elina tahu peran Atnan sangat berarti untuk perkembangan Davina.
"Kalau begitu saya pamit, bila ada perkembangan lainnya segera hubungi saya," ujar Dokter Zainal.
"Iya Dok," sahut Atnan dan Elina.
Dokter Zainal pergi meninggalkan tempat itu. Atnan dan Elina kembali masuk ke dalam kamar Davina. Baru masuk, Davina langsung berlari ke arah Atnan dan memeluknya.
"Atnan," ucap Davina.
Atnan membalas pelukan Davina. Melihat itu Elina merasa harus membiarkan Atnan dan Davina berduaan, itu akan baik untuk memulihkan mental Davina. Elina keluar dari kamar.
"Aku harus ikhlas," ucap Elina.
Di dalam Atnan menyisir rambut Davina, memasangkan jepit rambut yang dulu sering dikenakan Davina.
"Udah cantik," ucap Atnan.
Davina memegang tangan Atnan.
"Atnan aku rin-du," ucap Davina.
Atnan tersenyum pada Davina. Perasaan yang dulu memang sudah berubah, cintanya kini sudah milik Elina, tapi Davina masih istrinya dan bagian dari hidupnya. Dia berusaha untuk memulihkannya, masalah nanti apa yang akan dilakukannya, sekarang fokusnya pada kesembuhan Davina.
Malam itu Atnan tak bisa kembali ke kamar Elina. Davina terus memeluknya berbaring di ranjang. Hatinya merindukan Elina. Ingin rasanya tidur memuluk Elina, tapi tangan Davina terus memeluknya erat.
"Elina aku ingin tidur bersamamu," batin Atnan.
Di sisi lain Elina juga tidak bisa tidur. Biasanya ada Atnan yang memeluknya erat saat tidur. Kini hanya guling yang menemaninya tidur.
__ADS_1
"Mas, aku kangen, ingin dipeluk, dielus perutku," ujar Elina.