
"Iya, kau tak ingin menjenguknya Mas?" tanya Elina.
Atnan terdiam. Memikirkan ucapan Elina. Sudah sangat lama sekali dia berpisah dengan Davina. Perasaannya kini sudah berubah. Dia tak ingin mengingat masa lalu yang menyakitkan. Tapi kondisi Davina sangat memprihatinkan.
"Baiklah, kita akan menjenguk Davina bersama ya sayang," ucap Atnan.
"Iya Mas," ucap Elina.
"Aku beruntung memilikimu Elina, kau bisa memahamiku, maafkan semua sikapku dimasa lalu," ucap Atnan.
"Mas aku tahu dulu kau butuh proses untuk mengenalku dan menerimaku sebagai istrimu," ucap Elina.
"Aku bahagia memilikimu Elina," ucap Atnan.
"Aku juga bahagia menjadi milikmu Mas," ucap Elina .
Atnan senang ada Elina dalam hidupnya. Kini kebahagiaan menghampirinya apalagi hadirnya buah hati diantara mereka membuat semuanya lebih indah. Dia takkan menyia-nyiakan Elina seperti sebelumnya. Kedepan Atnan akan berusaha membahagiakannya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kenan pergi bersama Renata jalan-jalan bersama disebuah Mall bersama ponakannya. Mereka semua memakai kaos yang sama biar gak ilang. Maklum ponakan Renata banyak, udah kaya ngasuh anak kucing. Wajib dipantau kalau tidak belok sana sini gak jelas. Mereka semua antri membeli es krim.
"Yah aku paling belakang, kebagian gak ya?"
"Sabar, es krim dispanduknya masih ada."
"Emangnya enak dimakan?"
"Enak, coba bayangin."
"Iya, tapi bayangan doang."
"Sama-sama es krimkan."
Ponakan Renata ricuh. Mereka sama-sama ingin dapet es krim. Si abang tukang jualan es krim sampai bingung.
"Sabar, semua kebagian kalau masih ada ya."
"Kamu ngapain bawa ember segala?" Tukang es krim terkejut melihat anak didepannya membawa ember.
"Biar dapet banyak, dah lama gak makan es krim."
"Oke."
Mereka silih berganti mendapat es krim.
__ADS_1
"Kamu ngapain bawa plastik?"
"Buat ngumpulin kalau pada gak abis, lumayankan."
"Pinter juga."
"Kamu juga ya bawa baskom pasti untuk ngumpulin yang gak pada abis?" Penjual es krim menebak.
"Bukan."
"Lalu buat apa? biar dapet banyak?"
"Buat nutupin bersin, tiap makan es krim pasti bersin."
"Oh kirain, lalu kamu bawa payung pasti takut kena bersinnya diakan?" penjual es krim bertanya lagi.
"Bukan."
"Terus buat apa?"
"Biar esnya gak ke kepanasan dan keujanan, soalnya aku mau makannya diluar."
"Aneh-aneh aja, kamu bawa tas supaya es krimnya gak dicuri orangkan?"
"Bukan."
"Buat jualan es krim, saya mau beli yang banyak terus ditaruh ditas es ini, lumayan untung seribu dua ribu."
"Kecil-kecil otak ekonomisnya jalan."
Mereka semua tak hanya ricuh ditukang es krim. Di play ground anak juga. Kenan dan Renata seperti mengasuh kesebelasan.
"Om Kenan tolongin." Seorang ponakan menghampiri Kenan.
"Tolongin kenapa?" Kenan mendekat.
"Tolong jadi pacarnya tante cantik yang itu, katanya masih jomblo."
Kenan langsung merinding mendengar ucapan ponakan Renata. Dia tak berani menatap Renata.
"Sayang kau mau kesana, nolongin cewek itu jadi pacarnya?" tanya Renata pada Kenan.
"Gak dong sayang, paling nolongin jadi suaminya aja, boleh juga," ucap Kenan.
Mata Renata melotot. Kenan sampai takut, berusaha senyum manis ke Renata.
__ADS_1
"Kau lupa aku akan melakukan apa kalau kau macam-macam?" ucap Renata.
"Ampun sayang, bercanda," ucap Kenan.
Bisa habis kena bogem mentah kalau macam-macam. Dia tak mungkin melakukan itu.
Habis jalan-jalan di Mall, Kenan mengantar Renata dan ponakannya pulang ke rumah. Lalu Kenan kembali ke rumah orangtuanya. Dia melihat Rafka sedang mencuci mobil. Kenan menghampiri ayahnya.
"Pa, nyuci mobil?"
"Iya, habis bosen diem dirumah terus," ucap Rafka.
"Aku bantuin ya Pa," ucap Kenan.
"Boleh, kita berkeringat bersama," ucap Rafka.
"Aku ambil sponnya dulu Pa," ucap Kenan.
"Digudang ada spon baru," ucap Rafka.
"Oke Pa," ucap Kenan.
Kenan berjalan ke gudang. Membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Kenan mencari spon yang dibutuhkannya, tapi justru menemukan sebuah mobil lama yang dulu kecelakaan.
"Mobil Kak Atnan yang waktu itu ku pakai, inget banget dulu patah hati ditinggal pacar nikah. Eh mabuk sama temen, bener-bener hal nakal yang gue lakuin," ucap Kenan.
Kenan meraba mobil milik Atnan yang dulu digunakannya. Mobil itu sudah tidak dipakai lagi. Menjadi kenangan untuk Kenan saat masa-masa patah hati.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Atnan dan Elina pergi ke rumah tempat Davina berada. Mereka turun dari mobil masuk ke dalam rumah. Suster Eka menyambut mereka dengan ramah. Dia mengantar Atnan dan Elina masuk ke kamar Davina. Didalam Davina duduk disudut kamar, menangis dan berteriak. Atnan terkejut melihat kondisi Davina. Dia menghampiri Davina tapi Davina justru ketakutan.
"Pergi... pergi... jahat... jahat... kalian semua jahat ha ha ha," ucap Davina.
"Davina ini aku Atnan," ucap Atnan.
Davina melempar boneka, sisir, buku yang ada disampingnya ke arah Atnan. Dia ketakutan, semua orang yang mendekat dianggap Pak Edi dan Eros.
"Pergi... pergi... jangan sentuh aku, kalian brengsek hik hik hik," ucap Davina.
Elina hanya menangis melihat itu. Kondisi Davina belum juga membaik, justru semakin memburuk. Emosinya semakin tidak terkendali. Bahkan kedatangan Atnan semakin membuatnya emosi dan ketakutan.
Atnan coba mendekat, meraih tangan Davina tapi justru Davina mencekik Atnan. Dia ingin membunuh Atnan. Dimatanya Atnan adalah orang jahat yang akan menyakitinya.
"Davina jangan," teriak Elina.
__ADS_1