
"Gawat, cepetan ke posisi kalian masing-masing. Kita siap bertempur," ucap Renata memberitahu ponakannya.
"Siap tante!" Ponakan Renata memberi hormat padanya.
"Cepet!" perintah Renata.
"Oke."
Ponakan Renata segera menghampiri teman-temannya. Dia mengumpulkan semua teman-temannya diruang tengah. Mereka semua dengan tertib berdiri sambil berbaris rapi.
"Ada musuh datang, siapkan persenjataan kalian!"
"Oke." jawab semuanya.
Semua ponakan Renata ganti baju compang camping, dandan menggunakan bedak hitam, rambut diacak-acak, tai ayam dioleskan ke seluruh tubuh kaya selai coklat untuk roti. Tak lupa eces membanjiri bawah bibir. Mereka juga memakan jus jengkol untuk pewangi mulutnya.
"Ingat, kalian harus membuat musuh ketakutan, bayangkan musuh lagi menghadapi ujian nasional."
"Boleh nyontek gak kak?"
"Boleh asalkan contekannya ditaruh diketek, biar gak ketahuan."
"Kalau aku naruh dimeja guru."
"Pinter, mencontek memang tidak benar, kalau nyalin jawaban teman, pilih teman yang tidak bodoh. Percuma kalau nyontek ditemen yang bodoh."
"Kak bukannya kita tadi mau perang, kok malah ujian sekolah gini."
"Eh iya, ayo absen nama kalian jangan sampai tertinggal."
"Anton."
"Anton."
"Hei sekali aja absennya, jangan double."
"Kami berdua memang namanya Anton kak."
"Yaudah, selanjutnya."
"Buluk."
"Bau."
"Hei siapa suruh kalian mengejek, absen."
"Buluk itu namaku kak."
"Oh.., kamu, Bau pasti namamukan?"
"Bukan kak."
"Terus kenapa kamu bilang Bau?"
"Itu kak, si Ica pup nya jatuh dibawah lantai."
Semuanya melihat ke lantai. Gunungan tai udah nimpluk dilantai. Cukup indah dan aromanya sudah mulai sedap.
"Kumpulin buat nyekokin musuh kita." perintah pemimpin diantara mereka.
"Oke beres."
Semua ponakan Renata bersiap. Tiba-tiba Kenan masuk ke ruang tengah. Dia terkejut melihat banyak gembel diruang tengah.
"Ada komunitas gembel sejahtera kah?" tanya Kenan.
Kenan berdiri didepan mereka semua. Dia merasa tinggal dirumah Renata banyak keanehan dari Renata sampai ponakannnya.
"Ini Om, kita akan bertempur dimedan perang, Om mau ikut?"
"Boleh." Kenan setuju, dia ingin tahu seperti apa yang sedang dilakukan ponakan Renata. Dia berpikir mungkin sedang main pertempuran anak-anak. Tidak salahnya dia bermain juga.
Kenan dimake over. Dia memakai baju compang camping.Rambutnya diacak-acak. Harus minum jus jengkol juga.
"Sudah...sudah, teler. Ini jus apa palal banget?" tanya Kenan sambil menunjukkan gelas yang masih berisi jus jengkol.
"Itu jus jengkol Om."
__ADS_1
"Apa? ngapain harus minum jus jengkol segala?" tanya Kenan.
"Untuk menyembur para musuh Om, kaya naga yang mengeluarkan semburan api, kita mah bau jengol Om."
"Bisa diterima akal, memangnya musuh kita seperti apa sampai harus seperti ini?" tanya Kenan.
"Nanti Om tahu deh."
Tak lupa tubuh Kenan dioles tai yang ada diwadah. Kenan kebauan saat tai-tai itu dioles ditubuhnya.
"Loh...loh...tunggu, bau banget. Ini apaan?" tanya Kenan.
"Itu tai ayam Om."
"Apa? bau banget." Kenan menutup hidungnya.
"Kak, itu bukan tai ayam?"
"Bukannya tai ayam tadi?"
"Yang tai ayam abis, itu tainya Ica. Kan kakak bilang kumpulin tadi."
"Tai orang toh, pantes sedep." Kenan terkejut saat tahu yang dioles ditubuhnya tai orang bukan tai ayam.
"Nah Om, kita akan kedatangan musuh, siapkan mental Om, bawa panci dan dandang."
"Ngapain, mau masak?"
"Iya betul, masak kolak."
"Bukan lah Om, kita bertempur, kaya dimedan perang."
"Oke siap," ucap Kenan.
Kenan asal setuju. Dia membawa panci dan dandang. Yang lainnya membawa gayung, sapu, lidi, sendok sayur, meja belajar dan tusuk gigi.
"Woi ngapain kamu bawa coklat dan snack? kita mau tempur."
"Ini coklat dan snack kadaluarsa, kalau dimakan dijamin sakit perut."
"Pemikiran yang bagus."
Pruuuut....pruuuuut....pruuuut....
"Untung gak kenapa-kenapa? cuma buang kentut terus," ucap Kenan.
"Iya sih Om, tapi coba liat anak-anak yang dibelakang Om."
Kenan menengok ke belakang, anak-anak dibelakangnya pingsan.
"Sorry bocah-bocah, bau banget ya," ucap Kenan.
Tak lama Renata juga keluar dari kamar. Dia lebih parah. Kenan sampai tak mengenalinya. Seperti ratu kegembelan dari neraka.
"Itu orang gila?" tanya Kenan.
"Bukan, itu tante Renata."
Kenan lebih terkejut saat melihat Renata seperti orang gila. Dia tak menyangka Renata jauh lebih menjijikan darinya.
"Kalian semua sudah siap?" tanya Renata.
"Siap tante."
"Buka pintu serang!" perintah Renata.
"Oke tante."
Pintu dibuka. Sekumpulan tukang pukul sudah berdiri didepan pintu beserta seorang rentenir didepan mereka.
"Serang!" perintah Renata.
"Serang."
Ponakan Renata mulai menyerang rentenir dan tukang pukul. Mereka babu hantam. Tukang pukul dan Rentenir kualahan. Mereka semua diikat dibawah pohon.
"Renata aku kesini menagih hutang," ucap Rentenir.
__ADS_1
"Hutang? kau memberi bunga yang sangat tinggi," ucap Renata.
"Tunggu ini masalahnya utang piutang?" tanya Kenan.
"Iya, Renata ini punya hutang padaku," jawab Rentenir.
Sementara Renata, Kenan dan Rentenir berbincang, disisi lain tukang pukul dan ponakan Renata sedang berbincang juga.
"Celanaku balikin, bokongku digigit semut merah, sakit," ucap salah satu tukang pukul.
"Sorry Om, celananya udah ku buang ke atas genting," ucap Salah satu ponakan Renata.
"Kalau gitu balikin dompetku, ada tagihan mie instan yang belum dibayar," ucap Tukang pukul itu.
"Isinya tagihan semua nih Om, kere amet," ucap salah satu ponakan Renata mengenbalikan dompet pada tukang pukul rentenir.
"Tolong buka iketannya, gatel nih gak bisa garuk bokong lagi cacingan," ucap tukang pukul lainnya.
"Tenang Om, makan jus petai cina aja sembuh."
"Masalahnya gatelnya sekarang."
"Sabar Om, nikmatin aja dulu kesengsaraannya."
Rentenir kembali berdebat dengan Renata masalah hutang. Mereka tak mau berhenti, terus berdebat.
"Bayar."
"Gak mau," ucap Renata.
"Aku akan melaporkanmu ke polisi kalau gak bayar," ucap Rentenir.
"Gak takut, aku juga akan melaporkanmu karena memerasku dengan bunga yang tinggi," ancam Renata.
"Sudah-sudah, berapa hutang Renata?" tanya Kenan.
"100 juta," jawab Rentenir.
"Hei, hutangku hanya 50 juta kenapa jadi 100 juta?" ucap Renata.
"Itu karena kau tak bayar, bunga bertambah," sahut Rentenir.
"Renata kembalikan tasku, biar ku bayar hutangmu," ucap Kenan.
"Oke," ucap Renata.
Renata masuk rumah mengambil tas milik Kenan dan memberikan padanya. Kenan langsung membuka tas,menulis sebuah angka di Cek dan melemparnya pada Rentenir.
"Ambil Cek itu, mulai hari ini hutang Renata lunas. Jangan mengganggu Renata atau ponakannya lagi," ucap Kenan.
"Iya, makasih Bos," ucap Rentenir.
Kenan langsung merangkul Renata yang berdiri disampingnya.
"Sayang ayo mandi bareng, terus lanjut," ucap Kenan.
"Ha...ha...iya sayang," ucap Renata tersenyum wakaupun dia sebal mendengar ucapan Kenan.
"Anak-anak, bebaskan mereka!" perintah Kenan.
"Oke Om," jawab semua ponakan Renata.
Kenan membawa Renata masuk ke dalam rumah. Mereka berdua langsung masuk kamar dan kunci pintu.
"Kau ngapain ya bicara seperti itu didepan anak-anak, heh," ucap Renata sambil melotot ke arah Kenan.
"Tadi aku sudah membayar hutangmu, berbaiklah hati sedikit padaku sayang," ucap Kenan.
"Oke, kau mau apa?" tanya Renata.
"Mau kamulah sayang," ucap Kenan.
"Mau aku ya?" tanya Renata.
"Iya sayang," jawab Kenan.
Renata langsung mencium Kenan. Mengoles-ngoleskan pipinya ke mulut Kenan.
__ADS_1
"Sayang bau banget, apa ini tai ayam juga?" tanya Kenan.