DUDA JANDA HOT

DUDA JANDA HOT
Generation 2 : Harus Memilih


__ADS_3

Renata masuk ke kamarnya. Duduk di ranjang. Matanya menyapu seluruh ruangan kamar, handphone milik Kenan tertinggal di atas laci. Renata langsung mengambil handphone itu. Menyalakan layar handphonenya. Untung Renata tahu sandi handphone milik Kenan. Renata tersenyum saat fotonya jadi wallpaper handphone Kenan.


"Ternyata Kenan romantis juga," ucap Renanta.


Renata membuka beberapa aplikasi di dalamnya. Saat galeri foto dibuka, ada foto Bagas yang sedang bermain.


"Ini foto anak siapa? Kenan tak pernah cerita," ucap Renata.


Semakin discroll ke bawah ternyata foto-foto itu begitu banyak. Semuanya foto Bagas saat bermain.


"Untuk apa Kenan menyimpan foto anak kecil ini? banyak lagi," kata Renata. Dia mulai berpikir. Apa yang dilihatnya tak wajar. Suaminya menyimpan foto-foto anak kecil sebanyak itu.


"Apa karena Kenan ingin punya anak? kalau aku hamil, Kenan pasti senang," ujar Renata.


Renata menutup kembali habdphone Kenan, meletakkannya di atas laci. Dia ingin segera hamil agar Kenan senang. Ada buah hati yang memperkuat cinta mereka.


Di halaman Atnan menemani Elina jalan pagi. Sejak Elina hamil, Atnan rutin menemani Elina jalan pagi sambil berjemur.


"Sayang capek ya?" tanya Atnan.


Elina menggeleng. Dia hanya mengelus perutnya yang mulai buncit. Atnan mengajak Elina duduk di kursi untuk beristirahat sambil minum.


"Papa dan Mama kapan pulang?" tanya Elina.


"Minggu depan sampai kondisi Kakek membaik," jawab Atnan.


Raka dan Azura pergi menengok Arian yang di rawat di rumah sakit. Sudah satu bulan mereka pergi ke luar kota belum kembali.


"Elina, apa perlu ku carikan perawat untuk menemanimu?" tanya Atnan.


"Perawat?" tanya Elina.


"Iya, selain merawatmu selama hamil, dia juga bisa menemani semua aktifitasmu seharian," ujar Atnan.


"Apa perlu, aku bisa sendiri?" tanya Elina.


Atnan mengelus perut Elina mencium keningnya.


Semenjak pekerjaan di kantornya semakin banyak, Atnan sering pulang malam. Dia kasihan pada Elina yang sering sendirian, meskipun ada Renata dan Jingga tapi mereka juga punya kesibukan masing-masing begitupun dengan pembantu yang ada di rumah mereka.


"Setidaknya ada teman untuk mengobrol dan nonton tv," jawab Atnan.

__ADS_1


Elina mengangguk. Benar juga kata Atnan. Akhir-akhir ini dia kesepian, Atnan sering pulang malam. Mungkin memiliki seorang perawat yang menemaninya akan lebih baik.


"Nanti biar sekretarisku yang mencarikan perawat untukmu," ujar Atnan.


"Iya," jawab Elina.


"Perutmu semakin buncit sayang," ucap Atnan.


"Bukan hanya buncit, dede bayinya mulai menendang dan menggerakkan tangannya," ungkap Elina.


"Oya?" tanya Atnan sambil melihat perut Elina.


Tangan Elina mengarahkan tangan Atnan untuk memegang pergerakan bayinya. Atnan terkejut dan senang bukan main saat bayinya menggerakkan tangan dan kakinya.


"Eh iya sayang, dede bayinya bergerak, lucu ya?" ujar Atnan.


"Iya kan? dia sering seperti ini, setiap hari lagi," ucap Elina.


"Sayangnya aku jarang di rumah, moment seperti ini jarang ku saksikan, maafkan aku ya sayang," ujar Atnan.


Elina mengangguk. Dia tahu kesibukan Atnan sebagai kepala keluarga yang harus bertanggungjawab pada keluarga dan perusahaannya. Semua itu demi kebahagian Elina, buah hati mereka dan keluarganya.


Malam itu Kenan masih menemani Bagas tidur di sampingnya. Bagas demam tinggi, Kenan ingin mengajaknya ke rumah sakit tapi Bagas menolak, dia hanya ingin bersama Kenan. Laura masuk ke dalam kamar Bagas untuk memeriksa kondisi Bagas. Dia melihat Kenan tidur di samping anaknya. Laura berinisiatif mengambil selimut, menyelimuti tubuh Kenan. Tiba-tiba Kenan terbangun.


"Maaf aku hanya ingin menyelimutimu, itu saja," ucap Laura.


"Iya," ucap Kenan.


Laura berjalan menghampiri Bagas yang tidur di sisi kiri ranjang. Dia mengigau memanggil Kenan.


"Ayah ... ayah ..., jangan tinggalkan Bagas, ayah ... Bagas kangen," ucap Bagas.


Laura langsung memeluk Bagas, tubuhnya panas. Masih mengigau dan belum sadar.


"Bagas sayang Bunda di sini," ujar Laura.


Melihat itu Kenan mendekati Bagas.


"Ayah di sini Bagas, ayah tidak akan meninggalkanmu," ucap Kenan.


Mendengar suara Kenan, Bagas membuka matanya, memeluk Kenan.

__ADS_1


"Ayah ...," ucap Bagas.


"Kita ke rumah sakit ya, biar Bagas sembuh," ujar Kenan.


"Tapi ayah akan menemani Bagas terus?" tanya Bagas.


"Iya ayah janji," jawab Kenan.


Akhirnya Kenan dan Laura membawa Bagas ke rumah sakit. Kenan menyetir di depan, sedangkan Laura duduk di belakang memangku Bagas. Di perjalanan menuju rumah sakit, Renata menelponnya. Terpaksa Kenan mengangkatnya karena Renata terus menelponnya.


"Assalamu'alaikum sayang," sapa Kenan.


"Wa'alaikumsallam," balas Renata.


"Ada apa sayang?" tanya Kenan.


"Cepetan pulang, ada hal penting yang harus kau tahu," ujar Renata.


"Maaf sayang, aku sedang ada urusan penting di luar," ucap Kenan.


"Ini lebih penting, kau harus pulang," ujar Renata.


"Oke, nanti ku usahakan pulang cepat," jawab Kenan.


Setelah bicara dengan Renata, Kenan menutup telponnya. Dia mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Bagas di tangani Dokter. Bagas mengikuti berbagai pemeriksaan. Kemudian Kenan bicara dengan Dokter hasil pemeriksaan Bagas. Ternyata Bagas terkena demam berdarah. Dokter menyarankan Bagas untuk dirawat. Kenan dan Laura setuju. Akhirnya Bagas dirawat inap.


Di dalam ruangan rawat inap, Bagas terus memegang tangan Kenan. Dia tak ingin jauh dari ayahnya.


"Ayah, Bagas takut," ujar Bagas.


"Jangan takut, ada ayah di sini, Bagas harus sembuh ya," ucap Kenan.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan Bagas," ucap Bagas.


"Ayah akan di sini oke," kata Kenan.


Bagas mengangguk.


Kenan dilema, dia harus tetap di rumah sakit bersama Bagas, tapi Renata memintanya segera pulang. Dia bingung harus bagaimana.

__ADS_1


__ADS_2