
Elina bergegas pergi ke rumah sakit mengendarai mobilnya. Dia cemas memikirkan keadaan Davina. Sampai dirumah sakit Elina langsung berlari menuju ke ruang rawat inap. Disana sudah ada Suster Eka yang menunggu Davina. Elina menghampiri Suster Eka.
"Suster Eka bagaimana keadaan Davina?" tanya Elina.
"Sudah stabil Nyonya Elina, tadi bekas sayatan ditangannya sudah diobati Dokter, dia juga sudah diberi obat tidur supaya tenang soalnya dari tadi dia mengamuk Nyonya Elina," ucap Suster Eka.
"Syukurlah kalau begitu, semoga Davina cepat sembuh kembali," ucap Elina.
Elina duduk dikursi bersama Suster Eka.
"Nyonya Elina, kenapa Anda begitu peduli pada Davina padahal dia bukan keluarga Anda ataupun teman Anda?" tanya Suster Eka.
"Aku hanya ingin menolongnya supaya dia bisa normal seperti semula," ucap Elina.
"Tidak banyak orang mau peduli pada orang lain apalagi orang seperti Davina yang notabennya seperti orang tidak waras," ucap Suster Eka.
"Dia sudah sangat menderita selama bertahun-tahun, aku ingin melihatnya bahagia lagi," ucap Elina.
"Semoga Anda selalu mendapatkan kebahagiaan Nyonya Elina, atas semua kebaikan dan ketulusan Anda," ucap Suster Eka.
Elina hanya tersenyum mendengar ucapan Suster Eka. Suster Eka tidak tahu kalau Davina adalah istri Atnan, yang selama ini dia cari. Hanya saja Elina belum bisa mempertemukan Atnan dengan Davina karena kondisi Davina yang seperti ini.
Elina mendekati Davina yang sedang berbaring diranjangnya. Dia mengelus rambut Davina. Elina sedih melihat kondisi Davina yang tak kunjung membaik padahal sudah satu bulan lebih Elina merawat Davina dan mengobatinya.
"Davina, jika Atnan melihatmu dalam kondisi seperti ini, pasti hatinya sangat hancur. Davina cepatlah sembuh. Aku berjanji akan mempertemukanmu dengan Atnan," ucap Elina dalam hatinya.
Setelah itu Elina pamit pulang pada Suster Eka. Dia berjalan keluar dari rumah sakit. Saat sedang berjalan menuju ke mobilnya diparkiran depan rumah sakit itu, Elina mendapat telpon dari sahabatnya Nabila. Elina langsung mengangkat telpon itu.
"Hallo Nabila," ucap Elina.
"Hallo Elina, aku kangen banget sama kamu. Aku lagi libur didalam negeri nih. Ayo ketemuan di cafe langganan kita," ucap Nabila.
"Aku juga kangen banget sama kamu Nabila, oke aku kesana sekarang," ucap Elina.
"Baik, aku menunggumu disana," ucap Nabila.
Elina menutup telponnya dan pergi ke Cafe Anggrek, tempat dia dan Nabila sering nongkrong dulu. Dia langsung masuk ke cafe itu. Nabila sudah menunggunya dimeja yang sudah dipilihnya. Elina menghampiri Nabila lalu memeluknya sebagai pelepas rindu karena cukup lama mereka tidak bertemu. Setelah itu Elina duduk didepan Nabila.
"Elina kau makin cantik aja dan mukamu berseri-seri," ucap Nabila.
__ADS_1
"Masa sih Nabila, perasaan masih sama seperti dulu," ucap Elina.
"Elina gimana hubunganmu dengan Atnan, apa dia masih sedingin es padamu?" tanya Nabila.
"Dia sudah berubah menjadi hangat dan mulai mencintaiku sekarang," ucap Elina.
"Yang benar?... pantas saja kau sekarang terlihat berseri-seri. Tapi Elina kok bisa dia berubah hangat, bukannya dia tidak mencintaimu sebelumnya?" tanya Nabila.
"Saat itu kami melakukan cinta satu malam, sejak saat itu dia mulai perhatian dan perlahan mencintaiku," ucap Elina.
"Wah, jadi hubungan kalian sudah sejauh itu, aku pikir kau masih tak disentuh olehnya, tapi ternyata dia menikmati cinta satu malam itu juga ya," ucap Nabila.
Elina tersenyum. Sekarang dia benar-benar bahagia dengan pernikahannya.
"Oya Elina dulu bukannya kau juga tidak mencintainya, apa jangan-jangan kau mencintainya juga ya?" tanya Nabila.
"Kau benar, sejak kami bulan madu bersama sejak saat itu aku mulai mencintai Atnan, aku mulai melihat kehangatan dan perhatiannya ya walau hanya sebentar tapi itu telah membuatku jatuh cinta padanya," ucap Elina.
"Jadi kalian berdua sudah falling in love. Baguslah, aku senang mendengarnya," ucap Nabila.
Nabila senang mendengar Elina dan Atnan yang sudah saling mencintai. Dan Elina juga terlihat bahagia. Walaupun mereka sudah lama tak bertemu, tapi Nabila selalu memantau Elina dari jauh. Dia sangat menyayangi sahabatnya Elina.
"Aku sedang hamil Nabila," ucap Elina.
"Iya, amin," ucap Elina.
"Elina soal Davina, apa Atnan sudah tahu atau sudah bertemu dengannya?" tanya Nabila.
"Belum, aku belum bisa mempertemukannya dengan Atnan karena kondisi kejiwaannya. Aku tidak mau hati Atnan akan hancur jika melihat Davina seperti itu," ucap Elina.
"Sebaiknya juga jangan pernah kau pertemukan dengan Atnan, ingat Elina bisa saja Atnan akan kembali mencintai Davina dan bisa jadi dia meninggalkanmu," ucap Nabila.
"Tapi aku tidak ingin egois hanya demi kebahagiaanku, aku menyembunyikan Davina dari Atnan. Aku akan mempertemukan mereka saat Davina sudah kembali membaik," ucap Elina.
"Itulah kau Elina, selalu baik pada siapapun tanpa memikirkan dirimu sendiri. Semoga kau bisa bahagia Elina," ucap Nabila.
Mereka terus mengobrol bermacam-macam hal. Apalagi mereka sudah lama tak bertemu.Bagi Elina, Nabila bukan hanya sahabat dan teman curhat tapi juga sudah seperti saudaranya sendiri.
***********
__ADS_1
Elina mengendarai mobilnya dijalanan. Dia menuju arah pulang setelah bertemu dengan Nabila. Tak sengaja dia melihat Bagas dilapangan. Anak itu terlihat duduk sendirian. Elina memarkirkan mobilnya ke tepi. Dia turun dari mobil menghampiri Bagas yang sedang sendirian.
"Bagas kau sedang apa? kok sendirian?" tanya Elina.
"Eh tante cantik, Bagas sedang melihat teman-teman main bola," ucap Bagas.
"Kok Bagas gak ikut main bola?" tanya Elina.
"Gak, mereka mengejek Bagas gak punya ayah," ucap Bagas.
"Boleh tante Elina ikut duduk?" tanya Elina.
"Boleh," ucap Bagas.
Elina duduk disamping Bagas sambil melihat anak-anak main bola.
"Memang ayah Bagas kemana?" tanya Elina.
"Bagas tidak tahu dimana ayah Bagas berada,"
ucap Bagas.
"Apa ayah dan Bundanya Bagas sudah bercerai?"
tanya Elina.
"Tidak, Bunda juga tidak tahu siapa ayah Bagas," ucap Bagas.
Elina sedih mendengar ucapan Bagas, anak sekecil Bagas masih membutuhkan perhatian ayahnya tapi Bagas tidak tahu siapa ayahnya. Elina langsung menelus punggung Bagas.
"Bagas, yang penting Bunda sayang Bagaskan? jadi Bagas harus tetap bersyukur karena memiliki Bunda yang menyayangi Bagas," ucap Elina.
"Iya tante cantik," ucap Bagas.
"Kasihan Bagas, dia pasti merindukan ayahnya," batin Elina.
"Bagas mirip Atnan apa mungkin hanya kebetulan saja," batin Elina.
Setelah menemani Bagas nonton sepak bola, Elina mengendarai mobilnya kembali ke rumah. Dia turun dari mobil berjalan masuk ke dalam rumah. Elina naik ke lantai atas menuju kamarnya. Baru memutar gagang pintu kamar, Atnan menghampirinya.
__ADS_1
"Kau dari mana Elina?"
Elina terkejut melihat Atnan terlihat dingin menatapnya.