
Davina menengok ke samping. Dia melihat Elina yang berteriak. Selama ini hanya ucapan Elina yang didengar Davina. Elina menghampiri Davina.
"Davina ku mohon lepaskan tanganmu dari leher Atnan," pinta Elina.
"Davina ku mohon." Sekali lagi Elina meminta pada Davina.
Perlahan tangan Davina turun dari leher Atnan. Dia berjalan ke arah Elina dan memeluknya.
"Mereka jahat... mereka jahat," ucap Davina.
Atnan berusaha bernafas setelah tadi dicekik Davina. Sedangkan Elina berusaha menenangkan Davina.
"Kau lapar? aku bawa makanan," ucap Elina.
Davina mengangguk. Elina mengajaknya duduk ditaman bersama Davina sambil menyuapinya.
Davina asyik menyisir boneka barbie miliknya. Atnan melihat dari jauh. Dia tidak bisa mendekat khawatir Davina histeris kembali. Selama beberapa tahun Atnan tak menyangka Davina akan seperti itu. Ada perasaan iba melihat kondisi Davina. Dulu dia pikir Davina pergi karena egois tapi kini melihatnya keadaannya seperti itu Atnan jadi kasihan padanya.
Setelah makan Elina membacakan dongeng untuk Davina agar dia tidur. Biasanya Davina sangat senang mendengar Elina membaca dongeng untuknya. Sambil tersenyum Davina mendengarkan dongeng yang dibacakan Elina. Tak lama kedua netranya tertutup. Dia tertidur pulas. Atnan menghampiri Elina dan duduk dikursi dekat ranjang bersama Elina.
"Elina sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Davina?" tanya Atnan.
"Davina mengalami depresi berat karena pemerkosaan dan penyiksaan yang terjadi padanya," ucap Elina.
"Apa?pemerkosaan dan penyiksaan?" Atnan terkejut.
"Iya, Davina diperkosa ayah tiri dan kakak tirinya. Bahkan terjadi hampir setiap hari. Mereka tak hanya memperkosanya tapi juga melakukan penyiksaan fisik pada Davina. Lebih tragis lagi, Davina dipasung selama bertahun-tahun lamanya," ucap Elina sambil meneteskan air matanya. Tak tahan dengan penderitaan yang dialami Davina.
Atnan mengepalkan tangannya, kesal dengan ayah tiri dan kakak tiri Davina. Dia berdiri.
"Aku harus menghajar mereka, brengsek!" seru Atnan.
Elina berdiri menenangkan Atnan yang penuh emosi.
"Mas sabar dulu, semua itu percuma. Mereka sudah meninggal," ucap Elina.
"Apa? mereka sudah meninggal?" Atnan semakin dibuat terkejut. Tadinya dia ingin membalas, tapi takdir tak memungkinnya.
"Beberapa bulan lalu Pak Edi dan Ekos meninggal karena overdosis minuman keras," ucap Elina.
"Mereka harusnya mendapat bayaran setimpal," ucap Atnan.
__ADS_1
"Tenang Mas, semua perbuatan kita didunia pasti akan dipertanggungjawabkan diakhirat nanti," ucap Elina.
"Astagfirullah, aku sudah terbawa hawa ***** setan," ucap Atnan.
"Sekarang yang bisa kita lakukan adalah berusaha membuat Davina sehat lagi seperti dulu baik pikiran dan hatinya," ucap Elina.
"Pasti akan susah memulihkan pikiran dan hatinya," ucap Atnan.
"Mas asal kita berusaha tak ada yang tak mungkin," ucap Elina.
Atnan mengangguk. Dia senang Elina begitu baik pada Davina padahal bukan siapa-siapa.lnya Elina.
"Elina aku benar-benar beruntung memilikimu, kau bidadari yang baik hati," ucap Atnan.
"Iya Mas," ucap Elina.
Atnan duduk ditaman bersama Elina. Dia tak hentinya tersenyum sambil mengelus perut Elina. Seperti berlian itulah gambaran Elina dimata Atnan. Entah akan jadi apa hidupnya tanpa Elina. Sepertinya Allah berbaik hati padanya dengan memberikan Elina jadi jodohnya.
"Mas apa rencanamu pada Davina?" tanya Elina.
"Aku akan coba cari psikiater terbaik, semoga saja Davina bisa disembuhkan," ucap Atnan.
"Aku rasa dia butuh perhatian dan kasih sayang kita, hatinya sudah penuh luka Mas, luka harus diobati dengan cinta dan kasih sayang," ucap Elina.
"Dia sudah lama menderita dan tersiksa, aku ingin melihatnya bahagia seperti orang lain pada umumnya," ucap Elina.
"Kau memang bidadari surga Elina," ucap Atnan.
Elina tersenyum. Apapun yang akan terjadi nanti dia sudah ikhlas. Davina membutuhkan perhatian agar mentalnya cepat pulih kembali. Hadirnya Elina dan Atnan akan membuat hidup Davina tak merasa sendirian dan ketakutan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kenan pergi ke kafe untuk bertemu klien. Dia berjalan memasuki kafe. Matanya terus fokus ke handphone miliknya, tak sengaja bertubrukan dengan seorang pelayan kafe yang sedang membawa jus.
Dug...
Jus tumpah ke jas milik Kenan.
"Maaf Tuan, saya yang salah," ucap Laura.
Kenan melihat ke arah Laura yang berdiri didepan matanya.
__ADS_1
"Oh, tidak masalah. Akulah yang salah," ucap Kenan.
"Biar saya bersihkan," ucap Laura.
Laura mengambil tisu yang ada dimeja yang kosong. Dia mengelap jus dijas milik Kenan.
"Kenapa bau parfumnya sama dengan bau laki-laki yang sudah memperkosaku, apa?" batin Laura.
"Tidak usah, nanti saya bersihkan ditoilet," ucap Kenan.
Laura tetap membersihkan jas milik Kenan.
"Nah sudah bersih Tuan, hanya warnanya tidak bisa hilang. Maafkan kelalaian saya," ucap Laura.
"Tidak apa-apa," ucap Kenan.
"Sekali lagi saya minta maaf," ucap Laura.
"Oke, namamu Laura?" tanya Kenan sambil melihat ID Card milik Laura.
"Iya Tuan," ucap Laura.
"Saya duduk dulu," ucap Kenan.
"Sikahkan Tuan," ucap Laura.
Kenan berjalan melewati Laura.
Deg
Jantung Laura berdebar kencang. Rasanya tubuhnya tak asing dengan Kenan. Apalagi bau parfumnya yang masih diingat Laura.
"Apa dia ayah Bagas?" batin Laura.
Laura kembali bekerja sambil sesekali memperhatikan Kenan. Hatinya tak tenang. Dia ingin tahu siapa lelaki itu. Bagas sangat merindukan ayahnya.
"Apa aku harus menyelidikinya? tapi bagaimana jika benar? apa dia mau mengakui Bagas sebagai anaknya?" batin Laura.
Laura terus bekerja. Sampai matanya tak melihat lagi Kenan ada dikafe itu. Laura berjalan mencari Kenan ke semua sudut ruangan kafe.
"Kemana dia?" batin Laura.
__ADS_1
Laura berjalan keluar dari kafe. Dia melihat Kenan membuka pintu mobilnya. Laura segera berlari ke atah parkiran. Dia berusaha mengejar Kenan. Tapi Kenan sudah masuk mobil dan mengendarai mobilnya keluar area kafe. Laura mengejar mobil itu.
"Tuan tunggu... Tuan... " Laura terus mengejar mobil didepannya.