
.
.
.
“Oy jangan kau bunuh si Qin Hua , itu sudah cukup” suara tersebut membuat Zunho menghentikan tindakanya.
Zunho menjauh dari tubuh wanita yang tengah keringat dingin.
“Kau lumayan juga, rupanya bukan hanya penampilan kau saja yang menarik namun juga kemampuan mu” pujian mulai dilontarkan wanita tersebut kepada Zunho sebelum berjalan menghadapinya.
Setelah berhadapan dengan Zunho, wanita yang bernama Qin Hua itu meletakan telapak tanganya di perut Zunho, dimana ada bekas gigi ular yang menyerang Zunho sebelumnya.
“Selesai, kau bisa pergi, namun biarkan aku berkultivasi terlebih dahulu dengan mu” Qin Hua mendekatkan tubuhnya ke Zunho.
Zunho mundur beberapa langkah agar terhindar dari Qin Hua yang terlihat ingin melakukan sesuatu.
“Tenang saja nak, dia hanya ingin memberikan sesuatu kepadamu, dia tidak akan mengambil masa mudamu” suara kembali terdengar di kepala Zunho.
Zunho menghela nafas dan membiarkan wanita itu menghampirinya, wanita tersebut menghilangkan tongkat lalu meletakan tanganya di bahu Zunho.
“Berdansalah bersamaku, karena kau sebelumnya bersikeras menolak dual kultivasi bersamaku, maka aku putuskan untuk berdansa bersamamu.”
Zunho mengangguk pelan sambil menadahkan tanganya mengarah ke Qin Hua, mereka mulai berdansa, angin yang berhembus sedang menjadi musik alami penggiring jalanya acara dansa.
Qin Hua juga tak lupa menyalurkan sebagian besar energi spiritual miliknya kepada Zunho, setelah selesai berdansa wanita itu melepaskan genggaman tanganya dari Zunho.
__ADS_1
“Aku akan mengantarkan mu ke tangga akhir tingkatan langit, senang bertemu dengan mu” Qin Hua berjalan mendahului Zunho.
Zunho berjalan mengikuti Qin Hua, jarak yang terbilang cukup jauh harus Zunho tempuh agar sampai di tangga, sesampainya di tangga Zunho melihat sebuah tangga putih dengan 30 pijakan.
“Terima kasih telah mengantarkan ku” Zunho mengucapkan terima kasih kepada wanita tersebut.
“Sama sama, semoga kau tidak mengecewakan Dewa Win He” Ujar Qin Hua
Zunho membiarkan Qin Hua pergi, saat wanita itu bersampingan dengan Zunho tanpa ragu Qin Hua memberikan ciuman ke pipi Zunho.
CUP
Sebuah ciuman mendarat di pipi Zunho, wanita tersebut terlihat malu malu saat melayangkan ciuman ke pipi Zunho, Qin Hua pun menghilang kemudian dengan meninggalkan asap hitam.
Zunho melangkahkan kakinya di pijakan pertama, baru saja Zunho meletakan kakinya di pijakan pertama, tulang kakinya langsung patah.
KRAKKKK
Zunho kembali di buat merangkak saat berada di pijakan 25, tangan Zunho bahkan ikut patah saat dirimya merangkak naik ke pijakan 26.
“Sedikit lagi” Zunho mengacuhkan rasa sakit yang luar biasa dari tubuhnya.
Terus merangkak dan berisirahat di setiap pijakan tangga, setelah sampai di pijakan 30 Zunho bernafas lega.
Pemandangan kembali berubah, kali ini menampilkan sebuah ruangan berlatar putih nan besar, terlihat juga seorang pria tua yang tengah berdiri membelakangi Zunho.
“Akhirnya kau sampai penerusku.” ucap pria tua tersebut kepada Zunho yang tengah memejamkan matanya karena kelelahan dan harus menahan rasa sakit yang luar biasa.
__ADS_1
Zunho mengabaikan suara pria tua tersebut, ia terus memejamkan matanya sampai pria tua memutuskan mendekati Zunho.
“Aku Dewa Angin, Win He, senang bertemu dengan mu Xu Zunho” pria tersebut meletakan tanganya di dada Zunho.
SIUUUUUU
Sebuah cahaya hijau keluar dari telapak tangan dari pria tua yang bernama Win He, Zunho merasakan ada angin segar yang masuk ke dalam dirinya, merekatkan kembali susunan tulang tulangnya yang sebelumnya sudah patah.
Zunho bangkit dan memandang pak tua tersebut.
“Darimana anda mengetahui nama saya ?” Tanya Zunho bingung.
Dewa Win He tertawa pelan lalu menjelaskan bahwa ia mengetahui nama Zunho karena dia selalu mengawasi tingkah laku Zunho saat berada di luar, setiap kejadian yang melibatkan Zunho akan selalu di tonton oleh Dewa Win He.
“Mudah saja aku mengetahui nama mu, karena aku selalu mengawasi tingkah laku mu, aku memutuskan memanggil mu kemari karena kau berhasil menghabisi Dewi She Cing beberapa hari yang” jelas Dewa Win He kepada Zunho.
Zunho menggaruk kepalanya sambil memandai sudut sudut ruangan yang menurutnya sedikit menakjuban.
“Berhubung kau berhasil sampai ke sini, kau bisa langsung pulang, aku akan kembali berbicara di dalam pikiran mu jika ada sebuah misi, sampai bertemu lagi penerusku.” Dewa Win He menjentikan tanganya.
POFTTTTT
Zunho kembali tepat di dasar Gunung Diu, bulan bersinar dengan indahnya menyinari tubuh Zunho.
.
.
__ADS_1
.
Thanks for read