
.
.
.
Kini usia Zunho sudah 15 tahun, ia juga lulus dari Akademi beberapa bulan yang lalu, Zunho memutuskan tinggal di Kota Sie, sebelum memutuskan pindah, ia terlebih dahulu meminta izin kepada Lian dan Feng, awalanya sepasang suami istri tersebut menolak, Zunho meyakinkan kedua orang yang sudah ia anggap seperti ayah dan ibu, ia berjanji akan menjaga diri dan selalu mengunjungi Lian dan Feng disaat waktu senggang.
Rein sangat bersemangat mengetahui anak didiknya akan menetap di Kota Sie, dialah orang yang bersikeras mencarikan rumah untuk Zunho, ia terus menawar dari satu agen perumahan ke agen perumahan lainya, sampai sebuah kesepakatan terjadi, rumah yang dekat dengan istana Lotus Rue, selain Zunho dekat dengan area bepergian ke Benua Lain, ia juga mudah melaporkan beberapa kejadian yang ia rasa aneh langsung kepada Raja Meijin.
“HACHUUUU, Hah banyak sekali debunya, orang ini sangat jorok, lihatlah area ruang makan ini, lebih buruk dari kamarnya Jirou” Zunho mengeluarkan nada keluh kesahnya saat berada di area rumah barunya.
Zunho mengambil sapu yang dia beli di pasar barusan lalu menyapu kan nya, ke lantai dapur, berapa kali hembusan bersin ia terjangkan ke udara, sampai lantai dapur sedikit bercahaya dan tak ada debu yang hinggap, Zunho mengambil kain lalu membasahinya, ia meletakan kain di lantai lalu meletakan tanganya di atas kain sambil memajukan dan memundurkanya berulang kali.
Zunho mulai mengepel rumah barunya tersebut, ia juga merapikan perabotan seperti meja makan, membuang bekas bekas sampah serta menata kembali ruang tidur yang berantakan, Zunho juga membeli kasur empuk untuk teman tidurnya.
“Hah selesai lebih baik aku langsung tidur, mumpung baru jam segini” Zunho merebahkan badanya di kasur sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Hari mulai bergulir dari siang menuju sore, saat Zunho mulai membuka matanya kembali, ia terkejut dengan kehadiran prajurit kerajaan yang menatap Zunho dengan senyum mengerikan.
“Apa yang ingin kalian lakukan disini” tanya Zunho datar kepada sekumpulan orang berbaju bangsawan itu.
Salah satu dari mereka maju lalu duduk di kasur, Zunho lantas bangkit dan duduk di kasur.
“Yang Mulia Meijin memberikan misi kepada anda, beliau mendapatkan rekomendasi dari Ketua Akademi saat melakukan kunjungan siang tadi” ucap prang yang duduk di kasur.
“Misi apa ?” Zunho bertanya dengan nada santai.
“Aku akan segera bersiap” Zunho berdiri dan ingin bersiap siap namun prajurit menahan tangan Zunho.
Prajurit tersebut mulai berbicara kepada Zunho agar ia bersabar terlebih dahulu dan tidak tergesa gesa.
“Anda harus menjalankan misi ini besok, perintah dari Yang Mulia Meijin, karena para bandit tidak akan ada di rumah mereka hari ini, setiap malam para Bandit akan berpesta di gerai minuman, jika anda ingin menyerang mereka malam ini juga tidak apa namun pikirkan lagi korban jiwa yang tak bersalah ikut terseret dengan tingkah laku ceroboh anda”
Zunho memandang prajurit yang memberikan penjelasan kepada dirinya sebelum menjawab.
__ADS_1
“Baiklah aku akan melakukanya sesuai keinginan Yang Mulia” Zunho kembali duduk di kasur.
“Terima kasih Tuan Zunho, kami izin undur diri, terima kasih sudah mau menerima misi ini, jika anda berhasil menyelamatkan saudagar, anda bisa menyerahkanya langsung kepada Raja”
Zunho mengangguk lalu berdiri sambil mengulurkan tangan nya, prajurit menangkap tangan Zunho, mereka berjabat tangan selama 10 detik sampai prajurit benar benar pergi dari kediaman Zunho.
“Aku akan mengunci pintu ini agar seseorang tidak masuk secara tiba tiba seperti prajurit tadi”
Zunho berjalan ke pintu, ia mengunci pintu tersebut dengan kunci rumah dan meletakan kunci di paku yang telah disediakan, Zunho bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badanya.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1