
.
.
.
“Kau tidak ingin pergi ke kamar asrama Zunho ?”
Xiaona, Yuan dan Jirou bertanya kepada Zunho yang saat ini ingin menuju rumah Rein, mereka sudah sampai di Kota Sie beberapa menit yang lalu.
“Aku ingin berkunjung sambil menanyakan sesuatu kepada Master, sebaiknya kalian juga mengunjungi Master kalian terlebih dahulu, kalian juga belum memberitahukan jika Master diperbolehkan ikut ke Ujian Saudara bukan ?”
Jirou, Yuan dan Xiaona berpikir sejenak, apa yang di katakan Zunho ada benarnya, Jirou menjawab pernyataan Zunho kemudian.
“Kau ada benarnya juga, aku mungkin akan pergi ke rumah Master untuk mengatur jadwal latiha”
“Kami juga” ucpa Yuan dan Xiaona serentak.
Jirou, Yuan dan Xiaona mengucapkan salam sampai jumpa kepada Zunho begitupun sebaliknya, ia berjalan menuju rumah Rein untuk menguji energi kehidupan miliknya sekaligus bertanya bagaimana seseorang bisa membuat satu senjata dari energi kehidupan yang mereka kuasai.
Sebuah pintu yang familiar kini beradapan dengan Zunho, sontak ia langsung mengetuk pintu tersebut.
TOK TOK TOK
Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan Rein yang sedang menggosok mata, ia memandang Zunho lalu menguap.
__ADS_1
“SIAPA KAU INI !!” Teriak Rein kepada Zunho yang mengenakan topeng saat ini.
Zunho membuka topeng di wajahnya, Rein menghela nafas lega lalu kembali berbicara kepada Zunho.
“Kau rupanya, ayo masuk”
“Terima kasih Master”
Zunho mengikuti Rein masuk ke dalam rumah, Rein kemudian menyuruh Zunho untuk duduk, ia meletakan topeng di meja, terlihat Rein ingin pergi ke arah dapur untuk menyiapkan suguhan namun Zunho menghentikan tindakanya.
“Master, anda tidak perlu repot repot, saya hanya ingin bertanya sesuatu kepada anda”
Rein menghentikan langkahnya lalu memutar kepala mengarah Zunho, ia menaikan alis sebelah lalu berkata.
“Senjata energi kehidupan”
Rein segera berjalan menuju salah satu kursi lalu duduk, ia menatap Zunho dengan tatapan tidak percaya.
“Apakah kau s-sudah menguasai energi kehidupan”
Zunho menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia sudah menguasai energi kehidupan namun ia tidak mau memberitahukan hal tersebut kepada Rein, Zunho ingin memberitahukan energi kehidupan ketika Rein langsung yang menguji kemampuan miliknya.
“Jadi begini muridku, jika kau ingin membuat senjata seperti pedang tanah kutukan milik ku kemaren maka kau harus menenangkan pikiran mu sambil mengumpulkan energi kehidupan dalam dirimu lalu mengalirkanya ke tangan kemudian, bayangkan senjata apa yang ingin kau buat dengan energi tersebut, namun kau hanya dapat membuat satu senjata saja dari energi kehidupan yang kau kuasai, jadi berpikirlah terlebih dahulu ingin membuat senjata apa”
Zunho mengangguk paham, Rein yang cukup curiga saat mendengar pertanyaan Zunho langsung menawarkan dirinya untuk bertarung di halaman belakang.
__ADS_1
“Bagaiamana jika kita bertarung di halaman belakang, berhubung kau ingin dikirimkan ke Benua Lautan Huanli maka kau harus memiliki persiapan yang matang” Rein berbicara sambil beranjak dari kursi.
“Apakah anda ingin ikut saya pergi ke sana Master, ketua akademi mengizinkan saya mengajak guru pendamping saat kunjungan nanti ?” Zunho berbicara dengan nada santai.
“Aku tidak akan menolak muridku, ayo kita bergegas ke belakang”
Rein kembalu berjalan menuju area belakang rumahnya untuk menguji kemampuan Zunho, ia mengikuti langkah Rein kemudian.
Sesampainya di halaman belakang, Zunho dan Rein mulai memasukan ayam ke dalam kandang agar mereka tidak terkena serangan dari mereka berdua.
“Aku menginginkan tinju yang kau berikan kepada anak itu Zunho, ayo berikanlah kemampuan terbaik mu”
“Dengan senang hati saya akan melakukanya Master”
“Hebat”
Rein meletakan kedua tanganya di tanah lalu menyerap tanah tersebut sampai sepasang sarung tinju terlihat di tangan Rein.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1