
.
.
.
Setelah dekat dengan kediaman Sharai, Zunho menatap sesosok beruang hitam sedang berdiri memandanginya, Zunho menggaruk kepala bagian belakanganya yang tak gatal.
“Kemana saja kau” tanya Sharai.
“Aku baru saja selesai latihan di sana” Zunho menunjuk ke arah belakang.
Sharai tersenyum lalu menjentikan jarinya, Zunho kembali ke dimensi putih dimana ia dan Sharai pertama kali bertemu, beruang hitam tersebut mulai menerjang Zunho secara tiba tiba, tentu saja Zunho langsung menggunakan Langkah Angin untuk menghindari terjangan Sharai.
“Langkah Angin” Zunho berlari saat Sharai ingin meraih wajahnya, lalu muncul di belakang Sharai.
Zunho mengeluarkan Tinju Angin dan meninju bokong Sharai dengan tenang.
“Tinju Angin” Zunho memutar kepalan tanganya di bokong Sharai.
BWUSHHHH…GEDEBUGGGG
Sharai terlempar beberapa meter dan mendarat kasar di tanah, Sharai segera bangkit dengan senyum kebahagiaan miliknya, Zunho sekarang lebih menarik dari sebelumnya.
“Tinju anak itu lebih berasa, aku sangat bersemangat mengalahkanya” tekad di dalam diri Sharai bangkit.
Sharai berdiri dengan kedua kakinya lalu mengeluarkan kembali bintang miliknya, Zunho sudah bisa membaca pergerakan Sharai segera membukus dirinya dengan tangan angin.
__ADS_1
“RAUNGAN MISTIK” Sharai mulai meraung.
“Tangan Angin” Zunho membiarkan angin membungkus dirinya.
ROARRRRRRR…SWUHHHH….ZASHHHH
Setelah raungan Sharai berakhir, ia langsung menghilangkan dirinya dan muncul di belakang Zunho sambil menaikan cakarnya.
“TINJU KEHIDUPAN AKHIR” Sharai menutup telapak tanganya dan mengarahkan tinjunya menuju tangan angin Zunho.
“LEDAKAN” tangan angin Zunho meledak, membuat Sharai sedikit terhuyung ke belakang.
Zunho berlari dengan langkah angin miliknya untuk membalas serangan Sharai, saat ia tiba di depan Sharai, Zunho langsung memberikan kemampuan barunya.
“TINJU TORNADO” Zunho mendaratkan tanganya yang sudah terbungkus angin dengan putaran skala kecil.
BUMMMM…SWUHHHHHH…GRASSSSSS
“Halo guru, Pukulan Belalang Sembah” capit belalang sembah dengan ranah pelangi Zunho keluar di pundaknya.
BAMMM...DARRRRRR
Capit menghantam tubuh Sharai, beruang itu tidak berkutik dengan Zunho, setelah dirasa cukup, Zunho menarik kembali capit belalang sembah, Sharai terpejam dan kembali membuka mata untuk memberikan Cakar Neraka kepada Zunho.
“Tidak semudah itu murid, CAKAR NERAKA” Sharai bangun dan melompat ke atas mengarahkan cakarnya ke wajah Zunho.
“Baiklah guru aku akan memberikanya juga kepada mu, Tinju Angin” Zunho membungkus tanganya dengan angin lalu melompat menuju Sharai untuk beradu.
__ADS_1
“ZUNHOOOOO” teriak Sharai.
“SHARAIIIII” balas teriakan Zunho sebelum mereka beradu.
BUMMMMMMM...DARRRRRRR...WUSHHHHHHHHH
Keduanya terlempar ke belakang, Zunho mendarat mulus dengan memposisikan kakinya dengan benar, begitu juga Sharai, mereka berdua berjalan mendekati satu sama lain, sesampainya di hadapan Sharai, Zunho menundukan setengah kepalanya ke bawah.
“Kau hebat guru” ucap Zunho dengan nada menggoda Sharai.
“Hahaha berhentilah memanggilku guru Zunho, mari kita kembali ke rumah” Sharai menjentikan jarinya.
POFTTTTTTTT
Zunho dan Sharai kembali ke rumah, Sharai berjalan masuk ke dalam rumah di ikuti Zunho, ia kemudian duduk di ruang tamu Sharai.
“Apakah kau ingin makan ?” Tanya Sharai.
“Jika kau mengizinkan” balas Zunho.
“Tentu saja, mari kita bakar ikan” Sharai membalas pernyataan Zunho.
Zunho berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Sharai untuk mengambil bahan keperluan bakar ikan.
.
.
__ADS_1
.
Thanks for read