Enam Dewa Kehidupan

Enam Dewa Kehidupan
Perjalanan Benua Udara II


__ADS_3

.


.


.


“Oy oy bangun” sebuah gerakan kecil menguncang tubuh Zunho.


Zunho yang merasa terusik membuka matanya dan mendapati Tu Dong sedang menggoyangkan pelan tubuhnya, tupai besar itu tersenyum melihat kehadiran Zunho di Hutan Suci.


“Wah apakah kau ingin berkunjung ?“ Tanya Tu Dong kepada Zunho.


Zunho menggelengkan kepalanya sambil berkata.


“Aku tidak ingin berkunjung” Zunho menjawab dengan santai.


Seketika wajah Tu Dong sedih, Zunho segera menghibur hati tupai besar tersebut.


“Ya berhubung kau ada disini apakah kau mau menjadi teman jalan ku lagi ?” Tawar Zunho kepada Tu Dong.


“Benarkah, aku tidak keberatan, kalau begitu mari kita jalan.” Tu Dong bersemangat.


Mereka berdua pun berjalan, Tu Dong bercerita kepada Zunho mengenai teman teman baru yang dia dapatkan akhir akhir ini, Zunho mendengarkan cerita Tu Dong dengan saksama berharap tidak ada yang lewat.


“Zunho bagaimana jika kita makan malam dulu” ucap Tu Dong.

__ADS_1


“Baiklah, tidak terasa sudah malam saja.” balas Zunho.


“Haha mungkin karena cerita aku yang membuat kita lupa waktu” ucap Tu Dong sambil terkekeh.


“Benar sekali haha” balas Zunho ikut terkekeh.


Zunho memandangi alam yang mereka pijaki dan mendapati hewan yang sangat familiar di kepalanya, hewan yang pernah menjadi sumber koin baginya, Zunho mulai tersenyum kejam menatap hewan tersebut.


“Langkah Angin” Zunho bergerak mendekati hewan tersebut.


Hewan yang lengah tak menyadari ada sebuah pergerakan yang mengingkan dirinya, lantas Zunho pun muncul di depan hewan sambil mengarahkan tinjunya.


“Tinju Tornado” Zunho melandaskan tinjunya tepat di jidat hewan.


“Sapi badak sudah lama aku tidak makan daging enak mu ini, Tu Dong mari kita masak daging ini, kau bisa makan daging bukan ?” Zunho memanggil Tu Dong yang tengah kebingungan.


“B-bisa sedikit sedikit.” Tu Dong mendekati Zunho.


Mereka mulai menggotong tubuh hewan besar tersebut ke pinggiran hutan, Tu Dong dengan cakar tajamnya mulai menguliti tubuh sapi badak.


Sementara Zunho mengumpulkan ranting dan menumpuknya, banyak Hewan Suci berkumpul namun kali ini hewan yang paling banyak berkumpul yaitu Harimau dan Serigala.


“Kalian lapar juga kan, ambil saja bangkai nya untuk kalian, tidak perlu sungkan.” Zunho berbicara tanpa memandang lawan bicaranya.


Hewan Suci tanpa ragu mendekati tubuh sapi badak yang sudah tak utuh, hanya menyisakan tulang dan sedikit daging yang tertempel di tulangnya.

__ADS_1


Setelah berhasil membuat api dengan bantuan Tu Dong, Zunho mulai membakar daging yang sudah ia tusukan ke ranting, mereka menunggu sampai daging bewarna coklat kehitaman.


“Makanlah” Zunho mengambil satu daging yang panas.


“E-em baiklah” Tu Dong terlihat ragu saat mengambil daging.


Mereka berdua pun mulai makan malam bersama dengan Hewan Suci lainya, setelah selesai makan Zunho dan Tu Dong beristirahat.


Ke esokan harinya Tu Dong menggoyang tubuh Zunho pelan bermaksud membangunkan pemuda tersebut, Zunho pun bangun, ia langsung bangkit dari tempat dia tertidur.


Zunho dan Tu Dong pun mulai berjalan melanjutkan perjalan mereka, sepanjang jalan Tu Dong kembali bercerita mengenai teman teman barunya yang menurutnya sangat menarik.


“Jadi begitulah mereka, kami berbagi kisah satu sama lain dan memberikan saran.” Ucap Tu Dong dengan bangga.


“Baguslah kalau begitu, akhirnya kau mengikuti apa yang ku ucapkan, sekarang kau punya banyak teman.” Balas Zunho senang.


“Ya terima kasih Zunho.” Tu Dong mengucapkan terima kasih.


.


.


.


Thanks for read

__ADS_1


__ADS_2