Enam Dewa Kehidupan

Enam Dewa Kehidupan
Diterimanya Zunho Di Akademi Gao


__ADS_3

.


.


.


Zunho berjalan menuju ruang penerimaan, ia mengikuti saran pria tadi, Zunho mengambil arah kanan saat berada di pertigaan lalu kembali berjalan lurus, sampai ia menemukan sebuah ruangan bertuliskan “penerimaan”, ia kembali berbaris di belakang calon murid akademi Gao yang lain, banyak para wanita yang seumuran Zunho berbicara mengenai wajah tampan miliknya.


“Hei lihatlah anak yang berada di belakang itu, bukankah dia sangat menawan”


Salah satu wanita menoleh ke arah Zunho yang saat ini sedang menguap, wanita itu memandang dari atas hingga bawah lalu kembali berbicara kepada teman nya.


“Bahkan saat menguap dia masih terlihat menawan”


Tak lama kemudian barisan mulai memendek satu persatu, ia kembali melihat Jirou sedang berbicara dengan dua orang wanita, Zunho beranggapan itu teman Jirou, ia tidak terlalu perduli dengan urusan orang lain apalagi urusan pribadi seperti itu, Zunho terus menunggu menit demi menit, ia akhirnya masuk ke ruangan saat giliran nya telah tiba.


“Permisi, saya ingin mengantarkan surat ini kepada anda”


Zunho berjalan pelan memasuki ruangan sambil berbicara, seorang wanita berdiri dari kursinya lalu berjalan mendatangi Zunho, wanita itu menutup pintu saat Zunho memasuki ruangan.


“Duduklah”


Zunho kemudian duduk di kursi kayu, wanita itu berjalan menuju meja, ia duduk dan mengambil kertas yang diletakan Zunho sebelumnya, wanita itu mulai membaca kertas, ia sedikit terkejut dengan penjelasan surat, wanita mengambil sebuah bulu lalu mencelupkanya ke kotak tinta, wanita itu kembali menyerahkan kertas kepada Zunho.

__ADS_1


“Selamat kau diterima di akademi Gao, ambil kunci asrama milikmu di ( Ruang Bukti ), kau melewati pertigaan kan tadi ?”


“Iya saya melewatinya tadi”


“Nah kamu lurus saja nanti jika dari sini, maka kamu akan menemukan Ruangan Bukti, serahkan kertas ini kepada orang yang ada di dalam ruangan”


“Baiklah terima kasih”


Zunho membungkukan badanya sambil mengucapkan terima kasih lalu keluar dari ruangan penerimaan, menuju ruang bukti, ia hanya perlu berjalan lurus saja saat berada di pertigaan, tak selang berapa menit, Zunho melihat sebuah tulisan di sebuah kayu yang tertancap di lantai bertuliskan “Ruang Bukti “, ia kembali mengantri untuk masuk ke dalam ruang bukti.


Zunho masuk ke dalam ruangan saat giliranya telah tiba, ia meletakan surat di meja, pria yang bertugas memberikan kunci kamar asrama mulai membaca kertas milik Zunho, mata pria itu sedikit terbelalak, pria mengambil sebuah kunci lalu menyerahkanya kepada Zunho.


“Ini nak, gedung asrama ada di luar, kau bisa pergi ke arah kiri jika kau berada di luar nanti, selamat bergabung”


Zunho membungkukan kembali badanya lalu berjalan keluar mencari kamar asrama miliknya, ia belok ke kiri saat berada di luar sesuai anjuran pria di dalam ruangan bukti tadi, Zunho melihat kunci kamar yang menunjukan angka 61.


“59, 60, nah ini”


Zunho membuka pintu asrama, ia masuk kedalam lalu merapikan ruangan, mulai dari tempat tidur dan kamar mandi serta ruang makan, Zunho membaringkan badanya di kasur yang terbuat dari kayu.


“Ya aku sudah terbiasa dengan ranjang seperti ini dirumah paman, cukup nikmat”


TOK TOK TOK

__ADS_1


Sebuah ketukan terdengar, Zunho bangkit dari kasurnya lalu berjalan ke luar, ia membuka pintu dan mendapati seorang wanita sedang menatap dirinya dengan pandangan bingung, Zunho mengingat ingat wajah wanita, ia adalah wanita yang sebelumnya ia temui sedang berbincang bincang dengan Jirou.


“Permisi apakah ini kamar no 62 ?”


“Bukan ini kamar 61, kamar 62 di sana”


Zunho menunjuk kamar di seberang, wanita itu memandang arah telunjuk Zunho lalu mengulurkan tanganya kepada Zunho sambil mengalihkan kembali pandanganya.


“Perkenalkan aku Xiaona, salam kenal”


Zunho menjabat tangan wanita tersebut.


“Aku Xu Zunho, salam kenal”


Setelah berjabat tangan, wanita itu mengudurkan diri menuju kamarnya, Zunho menutup pintu saat wanita sudah masuk ke kamar 62.


.


.


.


Thanks for read

__ADS_1


__ADS_2