
.
.
.
“Aku harus membantunya menjadi lebih kuat” gumam Sharai saat melihat tanda yang terukir di punggung Zunho.
Zunho yang bingung mulai membuka mulutnya kenapa Sharai diam saja.
“Ada apa Sharai ?” Tanya Zunho dengan nada sedikit khawatir.
“Ehm ini hanya efek samping dari air suci ini saja, tidak apa apa kok” bohong Sharai kepada Zunho.
Zunho kembali melanjutkan meditasi tanpa menghiraukan gangguan nyeri di punggungnya, Sharai keluar dari air suci lalu pergi ke tepian, ia menunggu Zunho sampai selesai melakukan meditasi, Sharai terus menerus memandangi Zunho dengan serius.
Sampai Zunho bangkit dari tempat meditasinya dan berjalan menuju Shirai, ia tersenyum lalu mengucapkan terima kasih kepada Sharai karena telah menuntunya menuju air suci, Zunho benar benar terisi banyak energi kehidupan di dalam tubuhnya.
__ADS_1
“Terima kasih Sharai, berkat bantuan mu aku bisa merasakan energi kehidupan yang banyak di dalam diriku” Zunho tersenyum tipis kepada Sharai.
“Bukan hanya energi kehidupan yang banyak saja Zunho, namun ranah kultivasi pelangi mu saat ini sudah berada di tahap hijau” Jelas Sharai menguap.
“Benarkah” Zunho bertanya dengan nada keingin tahuan.
Sharai mengangguk kepada Zunho dan memutuskan membawa dia kembali ke rumah, Sharai ingin tidur sejenak, Zunho mengangguk lalu berjalan mengikuti Sharai.
Di jalan Sharai dan Zunho berbincang bincang ringan mengenai satu sama lain, seperti makanan favorit, kebiasaan dan lain sebagainya, sampai sebuah tawaran keluar dari mulut Sharai.
“Apakah kau ingin menjadi lebih kuat lagi, aku bisa saja mengajarimu ?” Tawar Sharai kepada Zunho.
Sharai kembali berjalan, ia membiarkan Zunho memandangi nya dengan tatapan bingung, Zunho tersadar dari lamunanya dan segera menyusul Sharai, ia kembali berbicara kepada Sharai untuk memberikan jawaban.
“Baiklah Sharai, jika kau bersedia” jawab Zunho.
Sharai tersenyum, mereka berdua terus berjalan menuju kediaman Sharai, saat melewati sebuah sungai bewarna hijau dengan ikan salmon melompat lompat di sungai, Sharai membelokan badanya ke sungai, ia mengangkat cakarnya lalu meraih sebuah ikan salmon, sebuah pikiran terlintas di kepala Sharai kemudian.
__ADS_1
“Pelatihan pertama mu, tangkap ikan salmon itu sebanyak mungkin” Sharai mengarahkan kaki kiri depanya ke sungai.
Zunho tersenyum, ia berjalan mengendap endap ke sungai lalu berdiri di tepian, saat satu ikan salmon meloncat di depan Zunho, ia langsung menangkapnya, namun ikan berhasil lepas karena Zunho kurang tangkas.
“Coba lagi, dan jangan coba untuk mengunakan energi kehidupan mu” Sharai memberikan aturan kepada Zunho.
Zunho tersenyum masam saat mendengar peraturan Sharai, ia menghiraukanya dan kembali fokus, saat ikan salmon lainya melompat lagi ke arah Zunho, ia langsung menangkap ikan tersebut dengan cepat dan menahanya agar tidak lepas.
“Akhirnya dapat satu” Zunho berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari sungai, ia meletakan ikan di tanah lalu kembali ke tepian.
Zunho kembali menangkap ikan dengan modal tangan kosong, ia berhasil mendapatkan beberapa ikan sampai membentuk sebuah tumpukan, Sharai tertawa bahagia karena ia bisa makan enak tanpa harus bersusah payah menangkap ikan.
“Baiklah Zunho sudah cukup, mari kita bawa ikan ini ke rumah, aku sudah tidak sabar ingin memasaknya” air liur Sharai menetes.
Zunho berbalik dan menatap Sharai yang berliur, ia menertawakan Sharai sebentar lalu mengambil ikan dan membawanya pergi kembali menuju kediaman Sharai.
Gambar sebuah tanda dari dewa angin yang ada di tubuh Zunho, Sharai sengaja tidak memberitahukan Zunho dan membiarkanya tahu sendiri.
__ADS_1