
.
.
.
Selama perjalan menuju ruang makan untuk menyantap sarapan pagi, Penatua Qieqie, Eunji dan Zunho membungkam mulut mereka, tak ada satu pun dari mereka yang membuka pembicaraan, Eunji merasa kesal melihat Penatua Qieqie tidur seranjang dengan Zunho.
Mereka bertiga pun akhirnya sampai di ruang makan, segera mereka meraih kursi yang kosong dan duduk untuk menyantap masakan yang sudah disediakan di depan mereka, Penatua Qieqie memimpin doa sebelum makan, semua orang yang ada di meja makan mulai berdoa mengikuti Penatua Qieqie.
Setelah selesai berdoa barulah mereka semua mulai menyantap makanan, Zunho tidak berani mengarahkan sorot pandangnya kepada Penatua Qieqie yang saat ini terlihat curi pandang kepada Zunho.
Penatua Qieqie yang sudah selesai makan terlebih dulu meninggalkan ruang makan di ikuti sebagian orang lainya.
“Terima kasih untuk jamuan enaknya, saya sangat menyukainya” Zunho bangkit dari kursinya setelah selesai memakan sarapan paginya.
Sisa orang yang ada di meja makan pun ikut berdiri sambil mengucapkan pujian seperti yang di lemparkan Zunho sebelumnya.
Zunho pun keluar dari ruang makan, ia berencana kembali ke Benua Daratan karena misi dari Dewa Win He sudah ia laksanakan sebaik mungkin.
Zunho mengarah ke pemandian air panas, sesampainya di pemandian air panas Zunho melepas pakaianya dan menyisakan pakaian dalam lalu mulai berendam, setelah memanjakan dirinya dengan air panas dan mengenakan pakaianya, Zunho kembali berjalan ke kamarnya.
__ADS_1
“PERGILAH KAU DARI SINI, KAU SUDAH LANCANG MENGAMBIL KITAB ZHANZUE, TIDAK SEPANTASNYA KAU ADA DISINI !!” teriak seseorang pada saat Zunho berada di lantai dasar Aula.
Zunho pun berniat mendekati sumber kegaduhan dan mendapati Nang Gafu sedang berjalan tergesa gesa menuju sebuah kamar.
“KEMARI KAU BAJINGAN, PANAH LUDAH” seorang petinggi tingkat Sulit menyusul Nang Gafu.
Nang Gafu dengan mudahnya menghindar, segera Zunho mengikuti langkah kaki Nang Gafu, Zunho melirik ke kiri dan melihat para petinggi lainya sedang bertempur dengan sekelompok pria berkepala plontos ber Hanfu putih.
“Kemana orang itu mengarah ?” Tanya Zunho saat ia berada di samping petinggi yang mengikuti langkah Nang Gafu.
“Ruang Penatua Qieqie, sebaiknya kita bergegas” petinggi memberitahukan Zunho bahwa Nang Gafu pergi ke ruang Penatua.
Saat mereka sampai di ruang Penatua, terlihat Penatua Qieqie sudah dalam kondisi setengah terbuka, pakaian yang dia kenakan sudah sobek dan memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya yang putih seperti susu.
“Dual Kultivasi, jika aku tidak bisa mendapatkan kitab Zhanzue maka sebagai gantinya aku akan mendapatkan mu, KUCING EMAS” tubuh Nang Gafu mulai di kelilingi aura bewarna emas.
“JANGAN HARAP, PELIKAN UNGU” tubuh Penatua Qieqie di bungkus aura bewarna ungu.
Mereka berdua pun mulai beradu, namun kemampuan Kucing Emas Nang Gafu lebih unggul dari Pelikan Ungu Penatua Qieqie, bahkan Penatua Qieqie langsung dibuat tak sadarkan diri dan terlempar beberapa meter.
Nang Gafu menyadari ada orang di belakangnya, ia berbalik dan menatap pemuda yang pernah berkunjung ke rumahnya.
__ADS_1
“Wah wah kita bertemu lagi Linyu namun kali terakhir kalinya aku bertemu dengan mu karena aku akan membunuh mu” Nang Gafu berlari menuju Zunho.
Zunho menyuruh petinggi yang berada di sebelahnya menyelamatkan Penatua Qieqie, ia akan membawa Nang Gafu keluar Aula agar tidak menghancurkan Aula.
Zunho berlari keluar Aula, beberapa pria berkepala plontos mencoba menyerang Zunho namun ia tidak perduli, Zunho hanya menghindar tanpa menyerang.
Sesampainya di luar Aula Surgawi dan berhasil memancing Nang Gafu keluar barulah Zunho berbalik dan berbicara.
“Linyu, ingatlah nama ku yang satu ini karena nama ini akan membunuh mu dan membuat kehidupan mu kekal di alam lain, Langkah Angin” Zunho berlari mendekati Nang Gafu.
“Itu mudah” Nang Gafu mengarahkan tinju yang terbalut cahaya kuning arah jam 10.
Disaat itulah Zunho muncul, sontak Zunho menerima tinju dari Nang Gafu.
BAMMMM…UGHHHH
.
.
.
__ADS_1
Thanks for read