
.
.
.
Zunhi terus menyusuri rumah besar tersebut, kamar, kamar mandi, dapur, loteng, bahkan ruang keluarga namun ia tidak menemui kehadiran saudagar, setiap kali pintu ruangan terkunci, Zunho selalu menendang pintu tersebut dengan keras sampai pintu terbuka.
“Kenapa harus bersusah payah, setahuku setiap tawanan biasanya tertawan di ruang bawah tanah” Zunho menepuk jidatnya sambil mengehal nafas.
Zunho mulai berjalan mencari ruang bawah tanah, menyusuri ruang satu persatu, sampai ia menemukan sebuah pintu kayu dengan jeruji besi hitam menutupi pintu tersebut, Zunho memusatkan kembali energi kehidupan, ia mundur beberapa langkah sebelum mengeluarkan kembali kemampuan Tangan Angin.
“Tangan Angin”
WUSHHHH…DARRR
Zunho melipat pergelangan tanganya lalu menempatkanya di jidat, setelah acara peledakan berhasil di luncurkan, pintu dan besi yang melindunginya akhirnya berserakan dan jatuh ke lantai, ia melangkahkan kakinya menuju ruang yang diperkirakan ruang bawah tanah.
Sesampainya di ruang tersebut, ia melihat seorang saudagar pria tua sedang terkurung di dalam jeruji besi, pria itu tidur membelakangi Zunho, ia melirik ke sana ke mari dan menemukan sebuah kunci berwarna hitam pekat berada di sebelah lemari usang.
Zunho meraih kunci, ia berjalan menuju jeruji besi dan membukanya.
KLETEKKK…KRIETTTT
__ADS_1
Pak Tua bangun dari tidurnya, ia langsung bangkit dan berbalik menatap orang yang membuka pintu, ia melihat seorang remaja dengan topeng menatap dirinya, pak tua yang merupakan seorang Saudagar berjongkok dan melipat kedua tanganya dan menempatkanya di atas kepala sambil memohon.
“Tolong jangan tawan aku lagi, aku cukup tersiksa di dalam penjara ini” ucap pak tua dengan nada penuh ketakukan.
Zunho berkata kepada pak tua bahwa ia tidak perlu khawatir, kehadiranya di sini tak lain untuk menyelamatkan beliau.
“Pak saya di utus yang mulia untuk menyelamatkan anda” ucap Zunho sambil menggaruk telinganya yang gatal.
Pak tua berdiri lalu menatap Zunho, sebuan senyum kebahagiaan muncul di wajah pak tua, ia mengucapkan terima kasih berulang kali untuk mengekpresikan kebahagianya.
“Terima kasih, terima kasih, terima kasih nak muda” ucap pak tua sambil membungkukan badanya berulang kali.
“Sama sama, lebih baik kita segera pergi ke Istana Lotus Rue, saya yakin yang mulia telah menunggu kehadiran anda Zunho membalikan badanya lalu berjalan keluar di ikuti pak tua.
Setelah sampai di Kerajaan Lotus Rue, pak tua mencoba memberanikan diri bertanya kepada Zunho.
“Nak, bolehkah bapak tahu siapa namamu ?” Ucap pak tua.
“Saya Xu Zunho pak, senang bertemu dengan anda” Zunho membalikan badanya mengarah ke pak tua lalu membungkukan kepalanya.
“Salam kenal kembali nak” pak tua menyatukan kedua telapak tanganya.
Zunho dan pak tua masuk ke dalam istana, ia bertanya dimana kehadiran raja saat ini kepada pelayan istana, kemudian salah satu dari mereka dengan senang hati menunjukan kehadiran raja saat ini kepada Zunho dan pam tua, mereka berjalan mengikuti pelayan.
__ADS_1
Sesampainya di sebuah ruangan yang penuh dengan meja, peralatan makan, makanan, pelayan dan Zunho langsung memasuki ruangan yang tak lain ruang makan.
Mereka bertiga melihat seorang pria tua sedang memakan hotpot di meja makan, pandangan pria tua teralihkan kepada rombongan orang yang menatap dirinya.
“Yang mulia, anda memiliki tamu” ucap pelayan tersebut.
“Kau bisa kembali bekerja” pria tua yang tak lain Raja Meijin membalas pernyataan pelayanan, Raja Meijin mengambil kain lalu mengelap mulutnya.
Raja Meijin berjalan mengarah Zunho dan pria tua di sebelahnya.
“Terima kasih nak Zunho, Ketua Neuna merekomendasikan anda sebagai penyelamat saudagar yang ditawan Bandit Awan Hitam” ucap Raja Meijin sambil menyentuh bahu Zunho.
“Suatu kehormatan bisa menjalankan misi dari anda yang mulia” balas Zunho.
Kini pandangan Raja Meijin teralihkan kepada pak tua di sebelah Zunho, mereka mulai berbicara ringan, Zunho meminta izin undur diri kepada Raja Meijin, setelah mendapat persetujuan, Zunho langsung pergi dari ruangan untuk kembali ke rumahnya.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1