
.
.
.
Ke esokan harinya di pagi hari yang indah Zunho bangun dari tempat tidurnya dengan perasaan riang, ia duduk sebentar lalu berniat berdiri dan berjalan menuju dapur menyiapkan sarapan pagi untuk Lian dan Feng.
“Oy nak, bisakah kau pergi ke Gunung Diu sekarang ini, ada sebuah hadiah yang ingin ku berikan kepadamu karena keberhasilan mu mengantarkan kitab Zhanzue ke Aula Surgawi.” Dewa Win He mulai berbicara kepada Zunho seperti biasa.
“Ya nanti, aku ingin sarapan dulu, boleh ?” Zunho mencoba membuat kesepakatan kepada Dewa Win He.
“Baiklah baiklah, setelah selesai sarapan datang lah ke Gunung Diu” suara Dewa Win He memudar.
Zunho berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, ia mengetahui bahwa Lian dan Feng saat ini masih belum bangun dari tidur mereka.
“Mari kita lihat” Zunho membuka sebuah ember kayu yang tertutup kain yang berlobang.
__ADS_1
Zunho melihat 3 buah ikan besar yang mencoba berenang, sebuah ide terlintas di kepala Zunho kemudian, lantas ia pergi dan mengambil tiga buah ranting yang sebelumnya disediakan Feng untuk bahan bakar tungku api.
Zunho mengambil ember dan pisau lalu membawanya ke area pencucian, Zunho membersihkan ikan, mengeluarkan isi perut ikan dan mencuci ikan sekali lagi.
Zunho menusuk ikan di ranting yang dia ambil sebelumya, satu, dua, tiga ikan berhasil Zunho sangkutkan di ranting.
Zunho berjalan ke tungku, meletakan beberapa ranting dan menyalakan api, setelah itu mulai melumuri ikan dengan perahan jeruk nipis, menambahkan sedikit garam dan kecap.
Zunho meletakan ikan di tungku, ia berjalan meninggalkan tungku untuk membuat saus yang akan ia poles ke ikan, hanya memerlukan kecap dan air, Zunho kembali ke tungku api dan membalikan ikan serta tak lupa mengoleskan saus yang dia buat.
Setelah ikan sudah dalam kondisi siap disajikan Zunho langsung mengangkat ikan dan meletakanya di piring yang sudah ia sediakan, saat ia berbalik untuk berjalan meletakan ikan, terlihat Feng dan Lian sudah terduduk rapi di meja makan.
“Tentu saja paman Feng” Zunho meletakan ikan di meja makan.
Mereka pun mulai menyantap hidangan yang sudah dibuatkan Zunho, Feng dan Lian sangat menikmati ikan bakar buatan Zunho.
Setelah selesai menghabisi sarapanya Zunho berjalan keluar dari dapur, ia harus pergi ke Gunung Diu seperti perintah Dewa Win He sebelumnya.
__ADS_1
Sesampainya di Gunung Diu sontak Zunho mendongakan arah pandangnya, tak lama kemudian ia kembali di tarik dan sampai di sebuah ruangan yang indah, ruangan yang pernah ia datangi.
“Nah akhirnya kau sampai, duduk aku akan memulai acaranya sekarang” Dewa Win He yang sedari tadi menunggu kehadiran Zunho lantas menyuruhnya duduk.
Zunho mengikuti perintah Dewa Win He, segera ia duduk, Dewa Win He berjalan kebelakang dan berhenti tepat di punggung Zunho.
“Tahan mungkin ini sedikit sakit dan membuat jantung mu serasa copot” Dewa Win He memperingatkan Zunho.
Zunho mengangguk dengan rasa kengerian di dalam hatinya, Dewa Win He memejamkan matanya, ia meletakan kedua telapak tanganya di punggung Zunho, telapak tangan Dewa Win He bersinar hijau menyinari seluruh ruangan.
“Arghhh benar benar sakit” Zunho mengungkapkan rasa sakit nya di dalam hati.
“Oy tahan saja kataku, tenang saja kau tidak akan tersiksa” Dewa Win He menenangkan Zunho.
.
.
__ADS_1
.
Thanks for readp