
.
.
.
“Aduh bokong ku” Xiaona mengelus bokongnya yang sakit karena gerobak menabrak sebuah batu besar.
Zunho dan Jirou tertidur dengan lelap sampai bersandar di bahu satu sama lain, sedangkan Yuan dan Xiaona, mereka lebih tertarik untuk memandangi alam sekitar yang mereka lalui ketimbang tidur seperti Zunho dan Jirou.
Pedagang melajukan gerobak menuju Desa Sie, saat gerobak pedagang kembali menabrak batu, kepala Zunho dan Jirou berbenturan satu sama lain, kedua orang itu kemudian bangun untuk menyalahkan satu sama lain.
“Kau kenapa ikut ikutan sandar di bahuku” Jirou berkata sambil memposisikan kembalu topeng nya.
“Bicara apa kau Jirou, kaulah yang bersender di bahu ku” pembelaan Zunho.
“Aku tidak peduli, ayo kita main batu gunting kertas untuk memastikan siapa yang benar, jika kau menang maka aku akan berteriak di Desa Sie bahwa kau memang benar dan maafkan lah kesalahan ku, namun jika kau kalah, maka kau harus berteriak bahwa aku ini benar dan meminta maaf atas kesalahan mu”
“Apa hubunganya batu gunting kertas dengan ini semua, aku tidak ingin melakukan hal seperti itu” ucap Zunho sambil membuat sandaran dengan kedua tanganya lalu meletakanya di kepala bagian belakang.
Jirou tak mudah menyerah begitu saja, ia langsung memancing Zunho agar dirinya ikut dalam permainan anak anak ini.
“Kau takut kan, hahaha berarti kau mengakui bahwa kau lah yang bersandar di bahuku saat tidur”
Zunho bangkit dari sandaranya, ia membunyikan tangan serta mengubah arah duduknya menghadap Jirou yang saat ini meragukan kemampuan batu gunting kertas Zunho.
__ADS_1
“Baiklah jika kau memaksa, siapa yang menang tiga kali akan jadi pemenangnya”
“Baiklah sepakat” Jirou mengulurkan tangan dan berjabat dengan Zunho.
Mereka mulai melakukan batu gunting kertas kemudian, saat tangan Jirou terlihat ingin membentuk kertas, Zunho langsung membentuk tanganya menjadi gunting.
“1-0”
Jirou mendengus kesal, ia kembali bermain batu gunting kertas dengan Zunho, saat ia ingin mengeluarkan batu, Zunho langsung mengeluarkan kertas, Jirou menepuk jidatnya sekali karena kalah dari Zunho untuk kedua kalinya.
“2-0”
Kini Jirou meneguk liurnya, ia lebih fokus ke gerakan bentuk yang akan dibuat Zunho nanti, saat ia melihat Zunho akan membuat gunting, Jirou langsung membuat batu.
“2-1”
“2-2”
Muka Zunho mulai serius dari balik topeng yang ia kenakan, ia mulai membentuk sebuah batu, Jirou membaca pergerakan tanganya dan segera mengubah tanganya menjadi kertas namun Zunho langsung mengganti batu menjadi gunting.
“3-1”
Zunho mengarahkan gunting menuju kertas, Jirou menghela nafas, ia mengangguk dan berjanji akan berteriak jika sudah sampai di Desa Sie.
“Hei kalian berhentilah bermain, lebih baik kalian istirahat saja kembali, kalian ini sangat bising” ucap Xiaona dengan nada mengejek.
__ADS_1
“Aiya kau tidak sadar dengan dirimu sendiri Xiaona” Jirou juga tak ingin kalah dari Xiaona.
Zunho dan Yuan hanya diam sambil menahan tawa di dalam diri mereka, tak lama kemudian, pedagang berkata bahwa mereka sudah berada di desa Sei, benar saja, tempat yang akrab kembali mereka lihat setelah hampir beberapa hari di akademi.
Zunho dan teman temanya turun dari gerobak, mereka mengucapkan terima kasih kepada pedagang, saat sampai di Desa, terlihat Jirou ingin kabur, Zunho segera menahan tanganya agar tidak kabur.
“Aiya teman ku yang baik, ayo sekarang lakukanlah”
“hhh baiklah baiklah”
Xiaona dan Yuan menutup telinga mereka menggunakan tangan, Zunho memandang Jirou dengan senyum kemenangan di wajahnya.
“KAU BENAR ZUNHO, MAAFKANLAH KESALAHAN KU”
Semua orang yang lewat memandang ke arah Zunho, Jirou, Yuan dan Xiaona, orang orang bingung dengan kelakuan Jirou, untung saja mereka menggunakan topeng saat ini, jika tidak bisa dipastikan mereka berempat akan sangat malu.
Jirou, Yuan dan Xiaona mengucapkan kalimat sampai jumpa kepada Zunho, ia pun membalas kalimat yang sama kepada mereka, Zunho berjalan menuju rumah Feng dan Lian.
TOK TOK TOK
.
.
.
__ADS_1
Thanks for read