
.
.
.
Zunho tertidur saat ia bermeditasi 2 jam setelahnya, waktu malam berlangsung cepat dengan tidurnya Zunho dan Khunyi, kini mulut goa mulai diterpa sinar kuning, Khunyi yang tergerak dengan sendirinya mulai bangun dari tempat tidurnya.
Khunyi berjalan mendekati Zunho yang saat ini sedang tertidur posisi bersila, Khunyi mentapa wajah Zunho lekat lekat, saat menikmati memandang Zunho tiba tiba pemuda itu bangun.
Zunho membuka matanya perlahan lahan, ia mendapati Khunyi tengah berdiri menatapnya.
“Pagi” Zunho memberikan ucapan selamat pagi.
“Pagi juga untuk mu, kita langsung melanjutkan perjalanan ?” Tanya Khunyi memastikan.
Zunho mengangguk sambil berdiri dari tempat ia duduk lalu berjalan keluar dari gua di ikuti Khunyi, Zunho melihat lihat sekitaran siapa tahu ada buah yang bisa ia dan Khunyi makan.
“Apa yang sedang kau amati ?” Tanya Khunyi kepada Zunho.
Zunho menjawab bahwa ia mencari buah untuk dirinya dan Khunyi konsumsi.
“Aku sedang mencari buah yang bisa kita makan.” alasan Zunho mengamati alam sekitar.
Khunyi mengangguk, sambil jalan sambil mencari keberadaan buah sampai pada akhirnya Zunho menemukan beberapa pohon mangga dengan setengah buah yang jatuh di tanah dalam kondisi buruk, setengah buah yang berada di pohon.
Zunho mendekati pohon lalu mengeluarkan Tangan Angin miliknya meraih buah mangga yang berada jauh di atas Zunho.
“Tangan Angin” dua tangan angin keluar dan meraih banyak mangga sekaligus.
__ADS_1
Tangan Angin Zunho meletakan mangga di tanah, Zunho segera meraup mangga dan menghampiri Khunyi, Zunho menyerahkan mangga yang sudah ia petik kepada Khunyi.
“Terima kasih” Khunyi menerima mangga pemberian Zunho.
Zunho mengangguk, mereka berdua duduk menikmati mangga yang matang, Zunho juga menyempatkan diri mencari daun atau bekas kain untuk membungkus mangga yang akan menjadi persedian mereka beberapa hari.
Sampai ia menemukan sebuah kain bewarna hitam kusam di sebelah kanan dirinya, sontak Zunho berdiri dan berjalan mengambil kain itu.
“Ini lebih dari cukup” Zunho mengambil kain.
Zunho mulai membungkus buah mangga yang ia dapat lalu melanjutkan makan.
“Masih lapar ?” Tanya Zunho kepada Khunyi.
Wanita itu menggelengkan kepalanya bermaksud bahwa ia tidak lapar.
Zunho mengangguk, ia bangkit dari tempat ia terduduk di ikuti Khunyi, Zunho membiarkan Khunyi jalan terlebih dahulu karena hanya dia yang tahu jalan menuju Benua Udara.
Sepanjang jalan kondisi diantara keduanya terbilang canggung, Khunyi yang fokus ke depan sedangkan Zunho fokus dengan tujuan pelenyapan keluarga Kuan.
Tak lama kemudian di depan Khunyi keluarlah 3 pria dengan pakaian compang camping berbadan gempal dengan kumis panjang yang menjuntai.
“Oy serahkan harta benda yang kalian bawa kepada kami dan serahkan wanita itu kepada kami” ucap pria yang di anggap Zunho sebagai pemimpin kelompok bandit.
Zunho maju ke depan lalu menyuruh Khunyi mundur, ia mulai berbicara kepada pria yang tengah menarik pedangnya.
“Aku akan memberika harta ku dan dia dengan percuma asalkan kalian berhasil menghabisi ku.” Tantangan Zunho sontak membuat kelompok bandit itu menjadi bersemangat.
“SERANGGG !!” Perintah pria yang sebelumnya berbicara pada Zunho.
__ADS_1
Zunho dengan santai menghindari setiap tebasan yang bandit kirimkan.
BUGGGGG…BRASHHH
Zunho menahan tangan salah satu bandit lalu memukul wajahnya sekuat tenaga sampai gigi yang menghiasi mulut pria copot.
Zunho memandang dua orang yang tersisa tanpa ragu langsung melesat menuju mereka berdua.
“Tinju Angin” Zunho meninju tanah dimana dua orang terakhir sedang berpijak.
GRURRRRR
Tanah seketika bergetar, dua orang yang lengah itu kehilangan keseimbangan mereka dan terjatuh, Zunho meraih pedang pria yang ia tumbangkan sebelumnya lalu menusukanya di jidat.
Dua orang yang tersisa melihat teman mereka mati, Zunho langsung berlari menuju kedua orang yang terlentang di tanah lalu menusuk mereka secara bergantia sampai suara terakhir mereka yang Zunho dengar menjadi penutup sesi latihan hari ini.
ARGHHHHhh
Khunyi mendekati Zunho sambil menepuk pelan bahunya.
“Kau membunuh mereka seperti lalat.” Khunyi berbicara sambil memandang tiga orang yang terkapar di depanya.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1