
.
.
.
Zunho beserta yang lainya mulai berjalan kembali menyusuri hutan untuk sampai di Benua Tengah, banyak hewan hewan suci yang memperhatikan mereka namun hewan hewan tersebut tidak bertindak, mereka hanya memandang sejenak lalu kembali ke kegiatan mereka masing masing seperti tidur maupun bermain dengan anak anak mereka.
“Kenapa binatang di sini sangat besar bahkan hampir seukuran bangunan akademi” tanya Jirou.
“Binatang suci memang kebanyakan seperti itu Jirou, kau tidak perlu takut karena mereka semua tidak akan menggangu kita selagi kita sopan masuk ke wilayah mereka dan tidak bertindak sembarangan, alasan kenapa hewan suci ini sangat besar, karena Dewa Hewan memberikan mereka anugerah yang berlimpah”
Jirou semakin tidak paham, ia mengangguk setelah mendengar penjelasan Ketua Neuna lalu kembali fokus ke jalan, semakin dalam memasuki area hutan maka akan semakin banyak hewan suci yang memandangi mereka sampai tanah yang mereka pijaki mulai bergetar.
BUM…BUM…BUM
“Eh ada apa ini” ucap Zunho sambil mempertahankan posisi dirinya agar tetap berdiri di tanah.
WUSHHH…BAMMMM
Tak lama kemudian getaran tersebut hilang, namun bukanya pergi, hal tersebut malah menghampiri mereka, sesosok hewan berbulu meloncat menuju Kelompok Ketua Neuna, namun hal yang membuat mereka lebih terkejut, hewan tersebut bisa bicara.
“Hei kalian pergilah dari sini, atau aku akan menendang kalian” ucap binatang tersebut.
Saat hewan itu mulai mendekat, terlihat sosok tupai raksasa sedang berjalan mengarah mereka, gigi besar serta ekor yang panjang menjadi ciri khas hewan tersebut.
“Perkenalkan lah aku Tu Dong, binatang Suci bintang biru, sekali lagi aku katakan kepada kalian agar pergi secepatnya dari sini atau aku akan menendang paksa kalian keluar dari hutan”
Zunho memandang tupai dari atas hingga bawah, tupai menyadari arah sorot mata Zunho.
“Apa kau terpesona dengan wajah ku yang tampan”
Zunho terkekeh pelan sambil berkata.
__ADS_1
“Ya tampan sekali, bahkan dugong pun tak ingin melihat wajah mu” ejek Zunho
“KAU !!”
Tupai melontarkan tinjunya kepada Zunho, ia menghindari tangan tupai dengan mudah, Ketua Neuna kembali melakukan telepati kepada guru pendamping agar tidak ikut campur dan mundur ke belakang, saat guru pendamping dan Ketua Neuna sudah mundur beberapa langkah, barulah Zunho dan teman temanya maju.
“Sudah lama tidak ada yang membuat ku senang, aku sangat merindukan hal seperti ini sejak perkelahian dengan pemburu sialan 500 tahun yang lalu, mari kita mulai” Tu Dong menyegir bahkan kilauan keluar dari gigi besarnya.
Energi sekitar mulai menjadi semakin kuat, angin berhembus tak karuan serta gucangan membuat Zunho dan teman temanya sedikit khawatir.
“Mustahil ada angin di dalam hutan seperti ini” ucap Jirou tak percaya.
“Aku pun tidak percaya, kita harus berhati hati dengan yang satu ini” balas Zunho
Tu Dong mengeluarkan aura biru di dalam tubuhnya, ia mengepal erat kedua tanganya sambil memejamkan mata, sebuah bintang dengan angka 800 muncul di pundak Tu Dong.
Rein terkejut serta mulai khawatir, ia memutuskan berbicara kepada Ketua Neuna.
Ketua Neuna berbalik memandang Rein, ia tersenyum sebelum membalas pernyataan Rein.
“Jangan khawatir, mereka lebih kuat dari yang kamu kira, kita lihat saja nanti”
Ketua Neuna kembali memandang arah pertarungan, Zunho dan teman temanya bersiap di posisi masing masing lalu mulai menerjang Tu Dong.
“Tangan Bayangan” ucap Jirou
SRETTTT….WUSHHH
Tangan bayangan mulai mengincar badan Tu Dong, ia menyadari ada sebuah pergerakan menuju dirinya, Tu dong langsung menghantam tanah untuk membuat tangan bayangan retak.
TRAAKKK
__ADS_1
“Tidak mungkin” ucap Jirou dengan nada tak percaya.
Yuan dan Xiaona mulai menerjang Tu Dong secara bersamaan, mereka mengetahui serangan Jirou tak mempan kepada Tu Dong.
“Jebakan Akar”
SWUSSHHH… SRATTTT
Akar tumbuhan tumbuh dari tanah dan melesat menuju Tu Dong yang tak fokus, akar mulai melilit Tu Dong, Yuan langsung menimpali serangan Xiaona dengan Kemampuan miliknya.
“Putri Duyung”
SESSSSS… BYURRRR
Air mengitari tubuh Yuan lalu melesat menuju Tu Dong yang berusaha melepaskan diri dari ikatan, siluet wanita berekor kembali muncul saat ingin menerjang Tu Dong, sampai cukup dekat dengan Tu Dong, putri duyung meledak menjadi serpihan air kecil nan tajam.
SRETT…SREETTT…SREET
Terdengar luka sayatan di Tubuh Tu Dong, Zunho membuat penutupan untuk Tu Dong, ia menggunakan langkah angin miliknya mendekati Tu Dong.
“Langkah Angin” ucap Zunho dengan datar.
SWUSSHHH
“Tinju Angin”
BAMMMM
Zunho berhasil mendaratkan tinju di kepala Tu Dong, tupai besar tersebut bahkan tidak sempat berkata kata.
.
.
__ADS_1
.
Thanks for read