
.
.
.
Kini usia Zunho telah menginjak umur 18 tahun, ia tidak mendapatkan misi selama satu tahun sejak misi terakhir perampasan kitab Zhanzue, kini Zunho tengah berjalan jalan menikmati indahnya Desa Sie.
Saat melewati wilayah yang merupakan kekuasaan Sekte Deng terdengar suara gaduh dari salah satu rumah yang terkesan cukup besar, seketika semua orang yang ada di dalam rumah berlari berhamburan keluar dari dalam rumah.
Zunho memandangi orang orang yang berlari dengan tergesa gesa, tak lama kemudian keluarlah ayahnya Jirou yang merupakan Ketua Sekte Deng, Yenbu merasa dirinya sedang di perhatikan seseorang memutuskan melirik orang yang memandangi dirinya dengan tatapan bingung.
“Zunho senang bertemu dengan mu, ah maaf aku tidak bisa berbincang bincang sekarang ini karena Tombak Buaya Hitam baru saja di curi sekelebat bayangan hitam, baru saja bayangan tersebut keluar dari dalam rumah, apakah kau melihatnya tadi ?” Tanya Patriak Yenbu kepada Zunho.
Zunho yang sedari tadi jalan tidak pernah melihat bayangan yang dimaksud Patriak Yenbu kecuali bayangan dirinya sendiri.
“Tidak paman, aku tidak melihat bayangan hitam seperti yang paman bilang.” Zunho mengungkapkan kejujuranya kepada Patriak Yenbu.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, mungkin ini hanya bisa dilihat oleh Sekte Deng, sampai jumpa lagi Zunho.” Patriak Yenbu berlari dengan cepat menyusul anggota sekte lainya.
Zunho memandang punggung Patriak Yenbu yang tengah berlari kencang membelakangi dirinya, Zunho pun melanjutkan perjalananya.
Kini Zunho memasuki wilayah kediaman keluarga Hu, keluarga teman Zunho yaitu Hu Yuan, terlihat dua orang gadis sedang duduk di bawah pohon lebat, berbaju kuning dan baju biru, Zunho mendekati kedua gadis yang terlihat sedang bergosip.
“Pagi Yuan, Xiaona” Zunho menyapa teman temanya.
Yuan dan Xiaona mengarahkan pandangan mereka kepada Zunho lalu membalas sapaan Zunho.
Zunho pun mengangguk dan duduk, Yuan dan Xiaona kembali bergosip, kali ini mereka membahas tentang Mata Jiwa yang baru saja mereka dapat beberapa bulan yang lalu.
“Jadi kau juga mendapatkan Mata Jiwa Xiaona, pasti ada suara yang bergumam di dalam hati mu agar kau datang ke Gunung Diu kan ?” Tanya Yuan dengan antusias.
“Em kau pun begitu ?” Tanya balik Xiaona kepada Yuan.
Yuan pun mengangguk, Zunho merasa ada yang salah karena akhir akhir ini tidak melihat kehadiran Jirou, sebenarnya Zunho ingin bertanya kepada Patriak Yenbu namun melihat Patriak Yenbu sedang terburu buru membuat Zunho mengurungkan niatnya, akhirnya Zunho memutuskan bertanya kepada Yuan dan Xiaona barang kali mereka mengetahui kemana perginya Jirou.
__ADS_1
“Ehm maaf menyela pembicaraan penting kalian, apakah kalian mengetahui kemana Jirou pergi, aku tidak melihat keberadaanya akhir akhir ini ?” Tanya Zunho dengan nada penasaran.
Xiaona membuka mulutnya kemudian, memberitahukan Zunho bahwa Jirou pernah berkata bahwa ia berencana pergi ke Benua Lautan untuk sebuah tujuan.
“Oh sebelum Jirou pergi ia pernah berkata bahwa ia akan pergi ke Benua Lautan untuk sebuah tujuan namun aku tidak tahu pasti.” Jelas Xiaona kepada Zunho.
“Jadi begitu, terima kasih.” Zunho mengucapkan terima kasih kepada Xiaona.
Xiaona dan Yuan kembali berbicara mengenai Mata Jiwa, Zunho mendengarkan pembicaraan mereka berdua seolah olah tak tahu menahu apa itu mata jiwa, sampai Xioana mulai berbicara kepada Zunho.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1