Enam Dewa Kehidupan

Enam Dewa Kehidupan
Perjalanan Menuju Kuil Suci


__ADS_3

.


.


.


Zunho tengah berjalan di bawah hangat nya sinar pagi, setelah semalam mendapat saran agar ia pergi ke kuil suci untuk berkultuvasi, Zunho langsung melakukanya, ia terus menyusuri arah timur Kerajaan Lotus Rue sampai menemukan keberadaan Kuil Suci tersebut.


Zunho juga banyak melihat orang berlalu lalang beraktifitas di pagi hari seperti berdagang dan bertani, ia juga tak luput dapat pandangan dari gadis yang seumuran dengan dirinya, para gadis terus menatapi Zunho seperti buah persik emas, ia menghiraukan tatapan gadis gadis itu karena menurutnya hal tersebut tidak memberikan keuntungan apapun untuk dirinya.


Zunho juga bertanya kepada sebagian orang yang ia temui di jalan, beberapa orang mengatakan Kuil Suci terletak 3 km lagi dari tempat mereka berdiri sekarang, Zunho mengangguk seraya mengucapkan terima kasih telah berbagi informasi.


Zunho kembali berjalan menuju Kuil Suci, ia tidak menggunakan kemampuan Langkah Angin miliknya karena harus menghemat energi tersebut untuk berjaga jaga jika ada hal yang tak di inginkan datang mengancam keselamatan dirinya.


“Haah lumayan jauh juga” Zunho menyeka keringat di dahinya sambil terus melangkahkan kaki menuju Kuil Suci.


Zunho semakin menjauh dari area pemukiman penduduk dan memasuki rimbunya hutan, suasana mulai mencekam setelah Zunho memasuki bagian hutan lebih dalam lagi, tak lama kemudian semak semak bergoyang saat Zunho menginjakan kakinya dekat dengan area tersebut.

__ADS_1


Beberapa mahluk serba hitam dengan penutup kepala kemudian keluar dari dalam semak, Zunho memandang datar kehadiran orang orang yang tak lain bandit.


“Bedebah, aku baru saja melahap bandit 2 hari yang lalu”


Zunho memutar lidah di bibirnya yang kering sambil menatapi bandit bandit yang siap menarik pedang mereka yang tersarung di pinggang, salah satu orang maju ke hadapan Zunho.


“Serahkan harta benda mu atau kami akan menghabisi mu” ucap orang yang diperkirakan ketua bandit.


“Apakah matamu kau taruh di dengkul, lihatlah, apakah aku terlihat seperti seorang saudagar maupun pedagang” Zunho menjawab dengan dingin.


Ketua Bandit tak terima mendengar cemoohan kalimat Zunho, ia mengambil pedang yang tersarung di pingganya lalu mengayunkanya ke Zunho, ia dengan mudah merunduk lalu melayangkan tinjunya ke perut ketua bandit lalu mementalkanya sejauh beberapa meter sampai tubuhnya menabrak pohon.


Anak buah bandit menyerang Zunho secara bersamaan, Zunho hanya perlu menghindar dan memukul bagian tubuh yang kosong jika mendapatkan peluang.


BUAGHHH…BRESSSSS


Kedua orang berhasil di tinju Zunho, ia kembali mengakis dan mengarahkan tinjunya kepada bandit lainya, setelah tanah benar benar penuh dengan tumpukan bandit yang tertidur, Zunho menarik nafas dengan tenang lalu menghembuskanya.

__ADS_1


“Hhhh…fuuuu, itung itung latihan” Zunho berjalan melewati bandit yang tergeletak di tanah.


Zunho kembali melanjutkan perjalananya menuju Kuil Suci, jalan demi jalan ia lalui demi mencapai Kuil, ia juga beristirahat sejenak di sebuah pohon, saat tengah rehat sejenak, Zunho didatangi gerombolan monyet dari dalam hutan.


Monyet berjalan mengarah Zunho lalu menaiki tubuhnya, ia mengelus kepala monyet sebentar sebelum dia tidak bisa bergerak lagi karena monyet lainya ikut menaiki badan Zunho, ia hanya bisa pasrah menjadi arena bermain untuk para monyet.


Setelah menunggu monyet monyet bepergian, walaupun cukup lama, akhirnya Zunho bisa kembali melanjutkan perjalanan, ia kembali melangkahkan kakinya ke timur untuk menemukan keberadaan Kuil Suci.


“Harus aku cuci, banyak tanda tangan yang hinggap di baju ku hari ini”


Zunho tertawa sambil memandang baju miliknya yang penuh bekas telapak kaki dan bekas tangan monyet.


.


.


.

__ADS_1


Thanks for read


__ADS_2