
.
.
.
“Kenapa hewan hewan disini memandangi kita seperti ini” ucap Xiaona sambil menyempatkan diri memandangi hewan hewan yang menatap kehadiran mereka.
“Mereka tidak akan membahayakan kita, aku pikir, setahuku hutan ini kebalikan dari Hutan Iblis di desa kita” Yuan membalas Xiaona.
Mereka bertiga terus berjalan menyusuri rimbunya hutan sampai Zunho dan teman temanya melihat sebuah cahaya yang sangat terang di ujung jalan, mereka bertiga langsung mempercepat langkah.
Zunho, Yuan dan Xiaona akhirnya keluar di dari Hutan Malaikat, kini pemandangan di depan mereka berupa gerbang besar yang menjulang tinggi.
“Aku kira kita sudah sampai di Desa Qie, karena pemandangan ini terlihat mirip sekali dengan Desa Sie” Xiaona beranggapan.
Zunho kemudian berjalan masuk ke dalam di ikuti Yuan dan Xiaona, mereka terus berjalan lurus dengan insting seadanya karena mereka tidak tahu harus ke mana menuju, Zunho dan teman teman ingin bertanya namun keadaan desa saat ini sedang sepi.
BAMMM…BAMMM…BAMMM
Terdengar suara dentuman yang keras dari arah jam 12, Zunho dan teman teman teman memasang kuping mereka, lalu berjalan lurus ke depan mengikuti asal suara.
__ADS_1
Zunho dan teman teman terus berjalan mengikuti asal suara, jalan demi jalan batu mereka tapaki untuk sampai ke tempat tersebut, suara semakin terdengar jelas saat mereka semakin mendekat, pemandangan mulai berganti saat mereka bertiga semakin mendekat ke sumber suara.
Pemandangan rumah warga dengan kedai dan area persawahan kini telah berganti menjadi lautan yang indah, Xiaona dan Yuan menyempatkan diri memandang indahnya laut yang mereka lalui.
“Aku rasa suaranya makin dekat” ucap Xiaona sambil mengalihkan kembali pandanganya ke depan.
Kini pemandangan Laut kembali berganti dengan susunan rumah rumah penduduk yang rapat.
“Sepertinya kita sudah sampai di Kota Qie” kini Yuan yang berbicara.
Setelah mengikuti sumber suara yang semakin jelas, akhirnya mereka sampai di sebuah lapangan dimana banyak orang berkumpul, kini sebuah acara pertarungan sedang dilangsungkan, Yuan dan Xiaona menyipitkan mata mereka saat melihat seseorang yang akrab di pandangan mereka.
“Mari kita kejutkan dia, bagaimana Yuan, Zunho ?” Tanya Xiaona dengan senyum jahil.
“Tentakel Bayangan” pemuda mengeluarkan kemampuan miliknya.
“Tangan Angin”
SRETTTTT…BAMMMMM
“Kemampuan tangan angin ?” Pemuda itu berhenti meronta ronta.
__ADS_1
Zunho dengan santai melepaskan bekapan tanganya, pemuda itu kemudian berbalik dan menatap seorang pemuda yang seumuran dirinya tengah tersenyum.
“A-apakah kau Zunho ?” Tanya Jirou dengan nada tak percaya.
Zunho mengangguk, Jirou langsung memeluk tubuh sahabatnya tersebut dengan erat, kini pandangan semua orang yang berada di lokasi memandangi kelakuan Jirou dan Zunho.
“Ehm bisa kau lepaskan, orang orang mulai memandangi kita” ucap Zunho.
“Hehe” Jirou melepaskan pelukanya.
Kedua orang yang melakukan pertarungan kembali bertarung, Zunho, Jirou, Yuan dan Xiaona mulai menontong acara festival hingga selesai, banyak kemampuan yang bagus dan hebat yang dikeluarkan kedua petarung, Zunho memandang salah satu petarung dengan wajah datar, ia mengingat ingat wajah orang tersebut pernah ia temui sebelumnya.
Jirou menyadari arah pandangan Zunho, ia kemudian menyenggol pergelangan Zunho dengan pelan sambil berkata.
“Itu ayahku, dan ditanganya itu, Tombak Buaya Hitam” Jelas Jirou kepada Zunho.
.
.
.
__ADS_1
Thanks for read