
.
.
.
Suasana malam yang tenang itu harusnya membuat orang terlelap dan mimpi indah namun faktanya semua orang yang ada di 4 benua sedang bertarung melawan pasukan iblis.
Darah demi darah tercecer, terangnya sinar bulan yang menyinari area pertempuran, perang bulan berdarah, beberapa hari telah berlalu saat perang ini dimulai, anehnya hari yang harusnya beranjak dari pagi ke siang sampai malam kini hanya malam saja yang terasa.
Banyak korban jiwa yang merelakan nyawa mereka demi keluarga yang mereka sayangi, Dewa He Jui memang merencanakan hal ini semua setelah mengetahui bahwa istrinya dan putri Nanxie telah pergi ke alam peristirahatan.
Ditambah lagi Jirou yang menjadi penerus Dewa He Jui membuat sebagian orang kecewa dan marah, apalagi bagi patriak Yenbu, Xiaona, Jiaolin, Yuan dan orang orang yang mengenalnya.
Cahaya bulan pun mulai meredup karena tertutup awan hitam nan gelap dan tebal.
BUMMMMMM
Jirou memukul Mabao sangat kuat sampai pria itu terlempar beberapa meter, Jirou menyusul Mabao yang terlempar, ia terus memberikan kemampuan miliknya kepada Mabao.
“CIUMAN IBLIS” ucap Jirou
Sebuah cahaya berbentuk bibir bewarna hitam keluar dari mulut raksasa Jirou, langsung mendarat deras di tubuh Mabao, memberi luka dalam yang sangat luar biasa.
WUSHHH…ROARRRRRRR
__ADS_1
Mabao menggantikan rintihan rasa sakitnya menjadi raungan yang memekakan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya, segera ia bangkit, meraih tangan raksasa Jirou lalu meninjunya kuat kuat.
“TINJU ENERGI” Mabao mengarahkan tinjunya tepat di wajah raksasa Jirou.
BUMMMMMMM…BRASHHHH
Raksasa Jirou terlempar, sekejap mata Mabao pun ada di pandangan Jirou, Mabao melompat ke udara sambil mengarahkan cakarnya.
“TAMPARAN SERIBU” Mabao mendarat sambil memberikan tamparan beruntun di wajah raksasa Jirou.
BUM…BUM…BUM
“Tidak ada celah sama sekali dari hewan ini !” celoteh Jirou dalam dirinya.
BUMMMMM
“BULU BABI BAYANGAN” Jirou langsung menyerang Mabao.
Mabao pun menghindari bulu babi yang sebentar lagu akan meledakan duri duri hitam tajam dan berbahaya miliknya, langsung Jirou memegang erat erat kedua tombak Buaya Hitam.
“BAJU PERANG BUAYA HITAM.” Sontak tubuh raksasa Jirou mulau tertutup baju perang bewarna hitam pekat.
TRING\~TRINGG\~TRINGGG
Logam besi nan berat itu terdengar jelas saat terpasang di tubuh raksasa Jirou, terakhir Jirou memanggil tombak Bayangan Kegelapan melengkapi penampilanya.
__ADS_1
“Aku baru tahu jika tombak itu bisa menjadi satu set pakaian tempur.” Patriak Bian bingung.
“Ya aku pun tak tahu, entah dari mana Jirou mengetahui hal tersebut, setahuku tongkat itu hanya memberikan tusukan Buaya Hitam saja.” balas Patriak Yenbu yang tidak tahu.
Jurang Lien
“Minum ini” Ghodae memberi satu pil kepada Zunho.
Zunho langsung meminum pil, rasa pahit menyebar di mulut Zunho.
“Fuah pahit sekali.” Zunho mengakui rasa pil yang tidak enak tersebut.
“Demi kebaikan mu, sekarang biarkan lah aku bersarang di tubuh mu, tahan rasa sakit nya.” Ghodae merubah tubuhnya menjadi susuna Array berbentuk cahaya lalu masuk ke dalam tubuh Zunho.
ARGHHHHHHH
Zunho mengerang kesakitan namun tak berselang lama rasa sakit nya hilang, disaat yang bersamaan munculah suara Ghodae.
“Disini lebih indah dari rumah ku, sebaiknya kita keluar Zunho, aku akan menteleportasikan tubuh mu langsung ke permukaan Jurang Lien.”
.
.
.
__ADS_1
Thanks for read