
.
.
.
Setelah kedua orang itu selesai makan, mereka bersantai terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali aktifitas mereka.
“Biarkan saya yang mencuci piringnya Master”
“Kau tidak perlu melakukanya Zunho” ucap Rein sambil melambaikan kedua tanganya ke depan.
“Tidak apa Master, anda bisa duduk dan bersantai”
Zunho merapikan peralatan makan, ia menumpuk piring piring serta gelas agar tidak perlu repot bolak balik, Zunho berjalan ke pencucian, ia mulai mengambil sabun yang terbuat dari tanaman herbal lalu mengambil sebuah kain yang berada di gantungan, Zunho mulai menggosok piring dan gelas, ketika semuanya sudah di gosok baru di bilas air bersih.
Zunho meletakan piring di sebuah rak kayu terbuka kemudian.
“Zunho kemarilah” Rein menggerakan telapak tanganya.
Zunho mendatangi Rein, ia duduk di sebelah Rein, ia menghadap ke Zunho lalu mengeluarkan kembali mata kejujuran miliknya, ruangan makan seketika menjadi putih, Zunho menutup kedua matanya, ia kembali membuka mata setelah pemandangan ruangan kembali ke sedia kala.
“Huh masih di jingga rupanya” ucap Rein sambil memandang pelangi di pundak Zunho.
“Ya saya hanya harus berusaha lebih keras agar mendapatkan tahap kuning, memberikan ayam makan bukanlah cara yang tepat untuk mendapatkan tahap kuning” ucap Zunho sambil menggaru leherenya
__ADS_1
“Kata siapa, aku mendapatkan tahap kuning dengan mudah, saat aku membantu orang tua yang sedang di jarah oleh bandit sialan”
“Anda melenyapkanya ?”
“Tidak, hanya membuat kaki mereka patah”
“Kalo anda mempunyai kekuatan, kenapa anda membiarkan diri anda ditindas anak anak itu, bukankah kita harus memberikan mereka sedikit pelajaran ?”
Zunho menonaktifkan mata kejujuran, dirinya memandang ke atap lalu berkata.
“Tidak Zunho, aku tidak bisa melukai anak anak akademi begitu saja, aku bisa menganggap bahwa sifat mereka masih labil, jadi aku tidak keberatan sama sekali selagi mereka masih membiarkan aku untuk bernafas”
Zunho sedikit menurunkan pandangan matanya ke meja makan, sebenarnya Rein bisa saja melawan anak anak tersebut namun ia lebih memilih untuk tidak melawan anak anak tersebut, ia berdiri dari kursi lalu izin pamit kembali ke asrama untuk beristirahat.
“Baiklah Master, saya izin pergi, terima kasih untuk makananya”
Zunho berjalan menuju pintu, ia menutup pintu lalu berjalan keluar menuju asrama, sepanjang jalan ia melihat orang berlalu lalang dengan aktifitas mereka masing masing, ada yang berdagang, ada yang mengantarkan barang dan ada juga yang sekedar berjalan jalan.
Pandangan Zunho tertuju ke seseorang yang ia kenali, sesosok wanita dengan rambut hitam terlihat sedang berbelanja sayur di sebuah gerai, Zunho berjalan mendekati wanita tersebut lalu menyapanya.
“Yuan ?”
Wanita itu berbalik dan mendapati seorang pemuda dengan rambut coklat gelap menatap dirinya, wanita yang tak lain Yuan segera membalas sapaan Zunho.
“Oh hai Zunho, apa yang kau lakukan di sini ?”
__ADS_1
“Kebetulan aku baru saja selesai latihan dengan Master dan sekarang mau pergi ke asrama, mau bareng ?” Tawar Zunho kepada Yuan.
“Boleh, tunggu sebentar ya”
Yuan mengeluarkan sebuah bingkisan kecil dari jubah yang ia kenakan, ia menyerahkan 25 koin perak kepada penjual, penjual memberikan sayur kepada Yuan kemudian, mereka berdua mulai berjalan menuju asrama.
Sepanjang jalan mereka berdua hanya berdiam diaman, Yuan akhirnya membuka mulut untuk bertanya kepada Zunho mengenai ranah pelangi miliknya.
“Apakah kau sudah memiliki ranah pelangi ?” Tanya gadis itu dengan tatapan penasaran.
“Ya aku punya, tahap jingga” ucap Zunho santai.
“Kau hebat, aku baru saja pada tahap merah” ucap Yuan dengan nada pasrah.
“Kau bisa meningkatkan nya Yuan, kita masih 10 tahun, masih banyak tahun yang kita jalani nantinya untuk menambah tahap warna lainya” Ucap Zunho menghibur hati Yuan.
“Kau benar teman, aku akan terus berusaha agar sampai di tahap Jingga seperti kau” Yuan berkata dengan nada semangat sambil memandang Zunho.
Mereka sampai di asrama kemudian, Yuan mengucapkan salam sampai jumpa kepada Zunho.
.
.
.
__ADS_1
Thanks for read