Enam Dewa Kehidupan

Enam Dewa Kehidupan
Ranah Pelangi


__ADS_3

.


.


.


“Kenapa ranah pelangi selalu ada dipikiran ku saat ini”


Zunho gelisah di malam hari, ia bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.


“Ranah pelangi, tingkatan kultivasi seseorang, aku harus menanyakan hal ini kepada master, siapa tahu dia bisa menjelaskan beberapa hal tentang ranah pelangi”


Zunho menengak air mineral dengan sekali tegukan, ia meletakan gelas di meja lalu berjalan kembali menuju kasur untuk tidur.


Besok


TOK TOK TOK


“Master apakah kau ada di dalam ?”


KRIETTT


Pintu kayu terbuka, Rein terlihat kemudian, ia menggosok kedua matanya sambil menguap, Zunho saat ini berada di kediaman Rein yang berada di luar akademi, lebih tepatnya di kota Sie.


“Masuklah Zunho”


Rein menyuruh Zunho masuk ke dalam rumah, selagi Rein membuat teh ia menyuruh Zunho untuk duduk terlebih dahulu, ia kemudian duduk di ruang tamu rumah Rein, Zunho memandangi rumah Rein, semua barang barang tersusun rapi, ia sedikit kagum dengan Rein.


“Maaf menunggu lama”


Rein keluar dari dapur sambil membawa teh dengan nampan kayu, ia meletakan nampan di meja, Zunho menuangkan teh ke gelas satu persatu.


“Aiya, aku bisa menuangnya sendiri Zunho” ucap Rein dengan nada malu malu

__ADS_1


“Tidak apa Master, akan sangat tidak sopan saya jika tidak menuangkan teh kepada orang yang telah membuatnya”


“Haha ada ada saja kamu, oh ya Zunho, apakah ada keperluan khusus kamu datang kemari ?”


“Sebenarnya saya hanya ingin mengetahui apa itu ranah pelangi” ucap Zunho dengan nada santai.


Pandangan bingung keluar dari mata Rein, ia menatap Zunho dengan tatapan tak percaya, semua orang di benua Dratan dan Lautan pasti tahu dengan Ranah Pelangi.


“Kau benar benar tidak tahu ?”


“Sebenarnya saya sudah mengetahuinya dari Xiaona, namun masih banyak hal yang ingin saya ketahui tentang Ranah pelangi”


Rein menyandarkan kepalanya di kursi sambil memegang gelas dan menyeruput teh panas tersebut secara perlahan lahan, ia meletakan gelas di meja lalu mulai berbicara memberikan penjelasan lebih mendetail kepada Zunho.


“Ranah pelangi merupakan tingkatan kultivasi seseorang, jika seseorang menguasai warna pelangi tingkat biru tua maka kekuatan orang tersebut sangat besar, tingkat kekuatan ini katanya dimiliki kedua Raja benua, warna pada ranah pelangi juga memiliki arti dari masing masing warnanya, semakin jauh warna tersebut maka akan semakin dalam cara peningkatan kultivasinya”



Penjelasan:


Jingga: mulai mengembangkan pola pikir serta kekuatan.


Kuning: melambangkan keseriusan seseorang dalam tujuan yang ingin ia capai.


Hijau: mampu mengelola keseimbangan energi alam di dalam diri.


Biru muda: melambangkan kecerahan diri seperti warna langit di siang hari.


Biru tua: keseriusan tekad seseorang yang sudah mencapai dalam nya samudra.


Ungu: puncak dari kultivasi, semua yang telah di pelajari akan menjadi ilmu yang sangat berguna.


Zunho mengangguk paham saat Rein menjelaskan tingkatan tingkatan Ranah Pelangi kepada dirinya.

__ADS_1


“Diamlah sebentar Zunho” Rein menengapkan duduknya


“Baiklah”


Rein mengeluarkan Ranah pelangi, saat ini dia berada di warna hijau.


“Mata kejujuran”


SIUTHHHHHHHH


Cahaya putih bertebaran kemana mana, Zunho menutup kedua matanya karena silau, saat cahaya memudar, sebuah pelangi muncul di pundak Zunho, saat ini warna pelangi miliknya berada di tahap jingga, Rein sedikit senang, hanya 2 ranah lagi dia dan Zunho berada di tingkatan yang sama.


Rein memeluk tubuh Zunho sekuat tenaga, ia bingung kenapa Rein secara tiba tiba memeluk tubuhnya dengan penuh semangat.


“Terima kasih telah menjadi murid ku Zunho, kau murid pertama yang tak akan kulupakan”


“Ehm Master, pelukan mu ini terlalu menyiksa tubuh ku”


“Hehe maaf”


Rein melongarkan pelukanya, ia menonaktifkan mata kejujuran miliknya, pelangi di punggung Zunho dan di tubuh Rein hilang kemudian, mereka berdua kembali duduk untuk minum teh serta berbicara ringan mengenai kejadian kemaren yang menimpa Zunho dan teman teman.


“Anak anak itu, kita akan membalasnya nanti saat ujian akademi, apakah kau sudah menentukan ingin menguasai energi apa ?”


“Belum”


Zunho menjawab santai sambil menyeruput teh.


.


.


.

__ADS_1


Thanks for read


__ADS_2