
.
.
.
Rein mulai melayangkan tinju mengarah Zunho seperti biasa, ia memandang gurunya yang sedang melesat dengan tatapan santai, ia mulai berlari sambil mengepalkan tinju miliknya menuju pipi Rein, saat saling berdekatan satu sama lain, barulah Zunho memukulkan kepalan tangan sekuat tenaga.
BAMMMMM
BRAKKKK
UGHH
Setelah tertampar dan mendarat di pohon, Rein menyeka darah dimulutnya dengan ibu jari, Zunho masih mempertahankan pose santai miliknya, Rein mengangguk sebelum berbicara dengan senyum licik yang keluar dari mulut nya.
“Waw, kau semakin hebat, mari kita uji dengan hal yang lebih kuat dari sebelumnya”
TRAKKKK
Rein memunculkan pelangi, ia juga menghantam kedua tanah dimana dirinya sedang terduduk, tanah sekitar mulai bergerak saat Rein memukulnya dengan sedikit kuat, tanah mulai menaiki tubuh Rein dan menutupi bagian dada kanan miliknya.
“Pendekar Tanah”
SWUSHHHH
BAMM
SREK
Zunho menerima tinju Rein, ia terpental ke belakang dan menghantam kandang ayam yang besar dan cukup tajam, bahkan baju bagian belakang milik Zunho sobek saat dirinya mencoba berdiri.
Zunho mengeluarkan pelangi di tubuhnya, Rein menyengir bahagia mengetahui Zunho mulai serius terhadap dirinya.
“Langkah Angin”
SWUSHHH
__ADS_1
“Apa apaan itu”
Rein sedikit terkejut saat Zunho menghilang dari tempat ia berada sebelumnya, Zunho muncul di hadapan Rein sambil memfokuskan energi angin di tangan kananya, ia mengarahkan tinju ke wajah Rein.
“Tinju Angin”
BUGHHH
BAMMMMM
Rein langsung menangkis tinju angin Zunho, Rein semakin tertarik dengan kemampuan Zunho, ia mulai mengarahkan tinju ke perut Zunho namun anak itu kembali hilang dan muncul di belakang Rein.
“Tangan Angin”
CLAPPPPP
Tangan angin Zunho langsung menepuk saat Rein sedang tidak siap, seperti hal nya seseorang yang sedang menepuk nyamuk, saat tangan angin dan debu di sekitar Rein sudah hilang, Zunho mendapati Rein yang memandang pelindung dada kanan miliknya mulai retak karena tepukan tangan angin milik Zunho.
“Menarik sekali, hentakan tanah”
“Tanah Perangkap”
RASHHHHHH
Tanah mulai menjadi tanah hisap, Zunho meloncat ke kandang ayam Rein agar tidak terhisap ke tanah jebakan milik Rein.
“Kemarilah Zunho, apakah kau sudah menyerah hmm”
Rein menghilangkan perangkap tanah miliknya, ia berdiri sambil menghela nafas, Zunho tahu arah tujuan Rein selanjutnya, yaitu mengakhiri pertarungan dengan tebasan tanah kutukan miliknya, Zunho mulai mengikuti penjelasan Rein yang diberikan sebelumnya, ia menghela nafas sambil mengumpulkan energi kehidupan di dalam tubuhnya lalu memusatkanya di tangan, Zunho mengenggam kedua tanganya seolah olah sedang memikirkan senjata yang akan ia buat.
“Bermata tajam, bergagang ular dan tengkorak, bewarna hijau”
WUUWWWW
Angin mulai menjadi deras saat Zunho bergumam di dalam hati, sebuah Longsword dengan gagang ular melilit tengkorak kepala terbentuk kemudian, saat Rein selesai memanggil pedang miliknya, ia langsung berbicara.
“Pedang Tanah Kutukan” ucap Rein sambil menarik pedang tersebut dari tanah
__ADS_1
“Pedang Angin Kerakusan” Zunho membuka matanya sambil mengenggam berat pedang tersebut.
Rein menatap Zunho dengan tatapan licik, ia menginginkan kedua pedang itu saling beradu satu sama lain untuk menentukan siapa yang lebih unggul, Zunho langsung menggunakan langkah angin miliknya lalu berlari menuju Rein.
Rein ikut berlari menuju Zunho, mereka mulai menebas satu sama lain saat jarak mereka sudah dekat.
TING…TING…TING
Zunho dan Rein menghela nafas, mereka mengeratkan kembali genggaman tangan mereka di gangang pedang lalu menarik nafas perlahan lalu membuangnya.
“Tebasan Tanah Kutukan”
“Tebasan Angin Kerakusan”
TINGGG….
BAMMMMMM
Aura tengkorak bewarna hijau dan coklat keluar lalu berbenturan satu sama lain sampai sebuah ledakan putih tercipta, tebasan angin Zunho lebih kuat ketimbang tebasan milik Rein.
Rein terlempar ke belakang dengan luka sayatan di dada kananya yang kini tidak berperisai lagi, Zunho juga mendapatkan luka sayatan di pipi kiri wajahnya.
BRAKKKKK
SRAKK
Rein kembali terlempar menuju pohon, Zunho juga kembali terlempar ke kandang ayam tajam, ia menancapkan pedang di tanah lalu menahan arah dorong tubuhnya agar tidak sampai di kandang, senyuman puas keluar di wajah Zunho.
“Aku menang, Master”
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1