
.
.
.
Zunho menutupi dirinya dengan Tangan Angin miliknya saat Terjangan Pisau Sisik kemampuan Audas melesat.
TINGGGG…BUMMMM
Pisau yang melesat menuju Zunho tertahan dengan bunyi dentingan menghiasi jalan nya acara, setelah Pisau Sisik terjatuh dari Tangan Angin Zunho, ia meledakan Tangan Angin yang menutupi dirinya bermaksud mengalihkan perhatian Audas yang tengah berharap Pisau Sisik miliknya berhasil membuat Zunho takluk.
Zunho melesat dengan kemampuan Langkah Angin menuju Audas, sesampainya di belakang Audas, Zunho lantas melayangkan tebasan menuju leher Audas yang kosong tanpa perlindungan.
TRINGGGGGGG…KRAKKK
Pedang yang digunakan Zunho retak saat menyentuh kepala Audas, buaya humanoid tersebut berbalik memandang Zunho sambil memberikan beberapa kata hinaan kepada Zunho.
“Sungguh keparat yang malang, kau tidak tahu betapa kerasnya badan ku ini, ceroboh sekali, LEMPARAN KAPAK BAJINGAN” Audas memutar rantai kapak di tangan kananya.
Kapak melesat menuju Zunho, kapak sudah terbungkus sebuah aura merah bercampur kemerahan, seperti sebuah jiwa yang tengah meraung marah, Zunho mengeluarkan Tinju Belalang Sembah miliknya yang sudah lama beristirahat.
“TINJU BELALANG SEMBAH” dua buah capit bewarna hijau muncul di pundak Zunho.
TRINGGGGG…BUMMMMM
Ledakan hebat terjadi saat dua wujud itu saling menyapa satu sama lain, Audas dan Zunho sedikit termundur karena ledakan.
“Wah wah menarik, aku sangat menunggu hal hal seperti ini terjadi kepada diriku” Audas melepaskan rantai kapak yang ada di tangan kananya lalu meraih pedang yang tersarung di punggungnya.
__ADS_1
Pedang besar seukuran tangan Audas itu sendiri, gerigi kecil nan tajam menghiasi ujung mata pedang, pedang yang haus darah dan siap meminum darah siapa saja yang berani bertarung dengan dirinya.
Zunho memanggil pedang Angin Kerakusan miliknya, tak lama kemudian sebuah pedang longsword bewarna Hijau dengan ukiran tengkorak kepala yang diliit ular terlihat, Audas memandang pedang Zunho dengan tatapan tertarik.
“Boleh juga pedang mu, namun Pedang Darah Perawan milik ku tidak akan pernah kalah dengan siapapun, kau tahu” ucap Audas melebih lebihkan fakta tentang pedang yang dia pegang saat ini.
“Sangat lucu, aku akan menghujani pedang mu itu dengan senang hati dan ku pastikan pedang dan pemiliknya akan berakhir disini” balas Zunho dengan nada dingin, berjanji untuk mengakhiri Audas dengan pedang yang tergenggam erat di tangan kanan buaya humanoid tersebut.
Audas dan Zunho melesat untuk beradu pedang, kali ini bunyi dentingan kedua pedang itu menggema di ruang terbuka, percikan api kecil muncul saat Zunho dan Audas saling menangkis satu sama lain.
TRINGGGGG
Audas menambahkan serangan dadakan untuk Zunho, ia mengarahkan tangan kirinya ke perut Zunho, mencoba menghunuskan cakarnya yang sudah terbungkus cahaya merah ke perut Zunho.
SWUSHHHH…UGHHHH
Zunho menerima cakar Audas, membuat dirinya terpental beberapa meter ke belakang karena intensitas kekuatan cakar Audas yang terbilang cukup kuat, Zunho memandang luka cakar yang berada di perutnya.
“AHAHAHAHAHA, hanya begitu saja Audas, menarik menarik” Zunho mulai berkata seperti orang yang tak waras.
Senyuman keji keluar dari wajah Zunho saat menatap wajah Audas yang terlihat senyum kemenangan, Zunho langsung melesat menuju Audas sambil memposisikan pedanganya ke depan.
“Hahaha menarik sekali, RAUNGAN PEMECAH PERASAN” Audas kembali berteriak saat Zunho melesat ke arahnya.
GROARRRRRRRRR
Suara Audas benar benar memekakan telinga, Zunho menghilangkan dirinya saat Audas meraung, setelah Audas kembali ke posisi bertarungnya barulah Zunho menimbulkan batang hidungnya di belakang Audas, ia mengirimkan langsung Tebasan Angin menuju tengkuk leher Audas.
Audas yang menyadari pergerakan di belakang punggungnya membalikan tubuhnya sambil melayangkan tebasan langsung mengarah Zunho.
__ADS_1
“TEBASAN MATI PERASAAN” teriak Audas saat melayangkan pedangnya mengarah Zunho.
“TINJU TORNADO” Zunho meninju tanah dimana dia dan Audas tengah berdiri.
GRURRRRRR
Tanah membuat diameter lubang yang dalam, Audas yang tak Siap dengan kejadian tak terduga ini terjatuh ke dalam tanah, Zunho memunculkan Sayap Angin lalu menukik ke dalam lubang untuk memberikan tebasan ke perut Audas.
“SAYAP ANGIN” Zunho menukik ke bawah menuju Audas.
“A-apa dia memiliki sayap !! ” gumam Audas tak percaya.
“MATILAH KAU BUAYA JADI JADIAN, TEBASAN ANGIN KERAKUSAN” Zunho melayangakan tebasan menuju perut Audas.
SLASHHHHHH…BUMMMMMM
Ledakan skala sedang terjadi saat Zunho mengirimkan tebasan langsung ke Audas, energi kehidupan yang banyak dari Audas menyebabkan ledakan ini terjadi.
Zunho melesat ke atas lubang, setelah sampai di atas, Zunho segera berjalan masuk ke istana, sesampainya di ruangan utama yaitu ruangan singgasana, terlihat Raja Sang bersama seorang pria berpakaian armor tempur lengkap sedang bertempur dengan dua sosok wanita dan salah satunya adalah Lin Nanxie.
“Rupanya kau adalah penerus Dewi Kesesatan, Putri Lin Nanxie” Zunho berjalan dengan santainya menuju keduanya.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1