
Tidak. Aku harus tetap fokus. Aku harus tetap melakukan ini. Gara tidak bisa menahan ku melakukan ini. Ini tidak boleh gagal.
Hanen melanjutkan kalimatnya. "Jadi ... kabar tentang istriku itu ..."
"Diam Hanen!!" Gara sudah tepat berada di samping kakaknya.
Bug!
Tanpa menunggu kalimat Hanen utuh terlebih dahulu, Gara langsung melayangkan pukulan pada wajah Hanen. Semua orang yang di awal sudah terkejut dengan kemunculan Gara, kini makin membulatkan bola mata mereka lebar-lebar karena kejadian ini.
Sebagai pencari berita yang tangguh, mereka tidak begitu saja terpukau dengan kejadian yang mengejutkan barusan. Mereka langsung mengarahkan lensa mereka pada kedua kakak adik dari keluarga Laksana ini. Tidak boleh ada kejadian satu pun yang luput dari jepretan kamera mereka. Semuanya harus bisa di abadikan tanpa terkecuali. Ini bisa jadi berita yang langka.
Kilat lampu dari alat alat yang di bawa mereka menyinari Hanen yang mundur karena pukulan Gara. Bahkan Gara belum menurunkan kepalan tangannya yang terasa panas karena dia mengerahkan semua kekuatannya pada buku-buku jarinya. Ia marah. Ia murka. Pun hatinya sakit tatkala mendengar kalimat-kalimat dari kulit Hanen.
__ADS_1
"Harusnya kau menutup mulutmu soal Zia! Bukankah dia sudah kembali padamu?! Apalagi yang kau inginkan, hah?!" teriak Gara berang. Wajahnya sedikit memerah. Rupanya, kemarahan Gara memuncak. Dia bahkan tidak peduli pada kalimatnya yang sebenarnya membenarkan gosip adanya skandal dia dan kakak iparnya.
Hanen menyentuh ujung bibirnya yang terasa perih. Ada darah mengalir dari sana. Sepertinya sobek karena pukulan barusan. Para karyawan yang melihat itu juga menganga melihat tindakan yang di lakukan Gara.
"Bisa tunggu aku menyelesaikan kalimat-kalimatku?" tanya Hanen dengan mendesis menahan perih. Meskipun sudah di pukul oleh Gara, tapi Han tidak membalas. Dia membiarkan adiknya begitu saja. Bahkan dia ingin tetap melanjutkan konferensi pers yang ia buat.
"Lalu kamu tetap menjelek-jelekkan Zia?!" tanya Gara tetap dengan amarah yang masih menggunung.
Ini kesempatan bagi mereka bertanya langsung mengenai kabar ini dari tokoh utama. Jadi mereka langsung saja mengajukan pertanyaan pada Gara. Semua orang kini beralih pada pria dingin ini.
“Aku belum selesai bicara. Sebaiknya Anda sama semua tidak mengalihkan perhatian dariku,” kata Hanen seraya bergerak mendekati Gara. Dia sengaja. Han ingin kejadian barusan lepas dari pandangan mereka dan beralih lagi padanya.
“Jawablah Tuan. Anda bukan pria tidak laku atau sulit mendapatkan wanita, tapi kenapa justru Anda tertarik untuk menjalin hubungan asmara dengan kakak ipar Anda?"
__ADS_1
Namun upaya Hanen untuk membuat mereka berpaling dari Gara gagal. Mereka tetap memfokuskan diri dari Gara. Kalau ada tokoh utama, kenapa harus mewawancarai tokoh pendukung?
Hanen memberi kode pada bodyguard mereka untuk melindungi Gara dari serbuan para wartawan. Mereka mendekat meskipun Gara tadi menolak.
"Mundurlah. Aku tahu apa yang kau pikirkan," bisik Hanen. Dia mengerti kalau Gara takut nama Zia makin memburuk. Dia akan mendapatkan sanksi sosial karena berita ini. Itu lebih menakutkan.
Sial!! Aku membuat mereka mengalihkan perhatian pada Hanen. Bodoh! Umpat Gara menyadari dia keliru bertindak.
...______...
__ADS_1