
Sepulang kerja, tidak ku sangka Han menghampiri mejaku. Aku yang masih mengerjakan sesuatu di komputer, melihatnya dengan heran.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kenapa masih mengerjakan tugas kantor? Ini sudah waktunya pulang."
"Aku adalah karyawan. Jelas saja aku masih bekerja saat tugasku belum selesai."
"Bereskan pekerjaanmu. Kita akan pergi sekarang," gerutu Han.
"Pergi? Kemana?" Aku heran dengan kalimatnya yang menyebut kata 'kita' bukan dengan cemoohan seperti biasanya.
"Bukankah aku sudah bilang akan menjenguk ibumu yang sakit?" tanya Han dengan geram.
Oh, itu. Aku pikir dia lupa. Ternyata dia masih ingat dengan janjinya sendiri. Aku berpaling darinya dan melihat ke arah komputerku. Ku pikir dia akan lupa dan menemui Kayla.
"Tunggu sebentar. Aku harus menyelesaikan ini sebelum pulang. Ini sangat penting." Ku dengar gerutuan Han saat aku masih bersikeras mengerjakan tugas kantor. Aku pikir dia akan malas menungguku dan memilih pergi. Ternyata dia justru menarik kursi milik Memey yang kosong dan mendudukinya.
Aku melirik sebentar dan fokus pada pekerjaan. Mengabaikan dia yang berniat menungguku.
Gara yang tadi keluar dari ruangannya dan akan menemui Zia, berhenti. Saat melihat Hanen menemani perempuan itu, Gara merasa sedikit tergores di sudut hatinya. Bibirnya tersenyum. Aneh saat merasakan itu. Lalu tubuhnya berbalik arah dan pergi.
"Sudah hampir satu jam aku menunggumu. Kenapa tugasmu belum selesai?!" tanya Han marah.
"Selesai." Ku tekan enter di komputer dan selesai. "Tentu saja aku belum selesai. Karena aku tidak mau mengerjakannya terburu-buru. Aku tidak mau membuat perusahaan ini buruk karena aku lalai dalam pekerjaan." Sengaja memang aku sedikit mengerjai pria ini. Ku ambil mantelku di bahu kursi dan berdiri.
Ini hal pertama yang dia lakukan memang untukku. Suatu keajaiban dalam hidupku. Pria yang dengan terbuka mengumumkan pada diriku bahwa dia tidak mencintaiku dan menikahiku karena membenciku.
...----------------...
Di rumah sakit, ibu yang sudah lebih sehat senang melihatku menjenguk bersama Han. Dari raut wajahnya aku tahu bahwa beliau bahagia melihatku bersama suami. Seakan-akan kita berdua sangatlah rukun tanpa ada suatu masalah.
"Terima kasih sudah menjenguk ibu, Tuan." Kebiasaan ibu menyebut putra atasannya masih melekat. Aku tidak bisa menyalahkan itu.
"Ya. Maaf terlambat menjenguk."
"Tidak apa-apa. Saya tahu Tuan Han sangat sibuk. Anda pasti sudah menyuruh Tuan Gara untuk mewakili." Sepertinya ibu mendengar kedatangan Gara kala itu dari kakak. Mewakili? Ibu salah sangka. Gara itu datang atas keinginannya sendiri.
__ADS_1
"Ya. Saya memang menyuruh Gara untuk mengantar Zia terlebih dahulu karena saya masih ada urusan." Rupanya Han memanfaatkan pemikiran ibu yang polos.
"Bagaimana, Zia? Apa dia bisa memperlakukan tuan dengan baik?" Aku melihat ibu dengan mata melebar. Bukan itu pertanyaan yang harus di ajukan ibu padanya. Seharusnya ibu bertanya apa Han sudah memperlakukanku dengan baik. Namun apa dayaku. Aku hanya bisa diam mendengarkan ibu bicara.
"Ya. Dia sudah menjadi istri yang baik. Meskipun bekerja, dia meluangkan waktu untuk memasak dan menyiapkan sarapan pagi." Ku lirik Han. Kalimatnya benar. Itu tidak salah. Tidak ku sangka, dia berkata sebenarnya. Menilik sikap tidak menerimanya padaku, aku pikir dia akan menjelek-jelekkanku.
"Ibu bangga, Zia." Ibu tersenyum. Raut wajahnya sangat bahagia. Inilah yang membuatku harus bertahan dengan Han. Bisa membuat beliau bahagia. Aku yang hanya anak pungut tentu saja harus berbakti pada beliau.
...----------------...
"Aktingmu sebagai menantu baik, sangatlah natural. Aku patut acungi jempol," ucapku pada Han yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.
"Apa kamu mau aku tunjukkan pada ibumu kalau aku sebenarnya tidak menginginkanmu?" tantang Hanen sambil mulai duduk di belakang kemudi.
"Kamu tahu itu adalah hal yang paling tidak aku inginkan," ujarku lalu membuang muka.
"Benar." Han mulai menyalakan mesin. Mobil mulia melaju pergi dari pelataran parkir rumah sakit.
Ponselku bergetar. Ku ambil di dalam tas dan melihatnya. Ada nama Gara di sana. Ini membuatku bergerak membetulkan posisi duduk. Nama itu membuatku gelisah seketika. Padahal aku belum membuka pesan itu, tapi dadaku sudah berdebar. Mungkin karena tidak ingin Han tahu.
"Lagi dimana, Zi?"
"Bersama Han?"
"Ya."
"Begitu. Jadi ... aku tidak bisa mengganggu?"
"Kamu sudah menggangguku dengan mengirim pesan ini." Ku tambahi emoticon tersenyum di belakang kalimat. Mungkin bibirku ikut tersenyum saat mengetik ini. Hingga Han menegurku.
"Siapa?" tanya dia ingin tahu.
"Apa?" tanyaku kurang jelas karena fokus pada ponselku.
"Siapa yang mengirim pesan?" Aku melihat ke samping. "Kamu terlihat senang saat membalasnya."
Aku ketahuan? "Memey," jawabku berusaha mencari nama orang lain dengan cepat. Dan ternyata jatuh pada nama dia. Sesudah mendapat jawaban itu, Han tidak lagi bertanya.
__ADS_1
"Kamu mengajaknya menjenguk?" lanjut Gara.
"Tidak. Dia sendiri yang ingin ke sana."
"Tumben."
"Entahlah." Aku sepertinya mulai larut dalam percakapan lewat pesan ini.
Han memang berhenti bertanya. Namun, dia tidak berhenti memperhatikan perempuan yang terus saja sibuk dengan ponselnya. Sesekali Han melirik. Ingin tahu ekspresi raut wajah Zia.
...----------------...
Ini hari pertama setelah pengakuan kemarin. Aku yang baru keluar dari kamar dan sudah berada di dua anak tangga, terkejut. Ada Gara di ujung tangga bawah.
Apa yang harus aku lakukan? tanyaku dalam hati. Setelah pernyataan cinta Gara dan sepertinya aku menerimanya, aku semakin tegang jika bertemu Gara. Lebih tegang karena ada dua kejadian yang telah terjadi pada kita berdua.
Di banding dengan percakapan lewat esan singkat kemarin, ini lebih menegangkan. Kakiku hendak kembali. Memutar tubuh dan balik lagi ke kamar. Namun ternyata pria itu hanya mendongak sebentar dan pergi. Sudah? Begitu saja? Ku kerjap-kerjapkan bola mataku karena kebingungan.
Bodoh! Apa yang kuharapkan? Apa aku berharap dia menyapaku dengan penuh cinta? Makiku sadar. Aku menghela napas. Oke, jangan berlebihan.
Ku ajak kakiku untuk turun ke bawah. Aku sudah siap dengan pakaian joggingku. Karena pagi ini, aku dan Rara berencana jogging bersama. Ini hari libur bekerja. Kita punya banyak waktu berdua.
Setibanya aku di lantai bawah, tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku. Hampir saja aku berteriak kencang karena terkejut. Namun suara lembut Gara saat menyapaku membuatku urung melakukannya.
"Ini aku." Aku mengatur napas sejenak untuk menenangkan kekagetanku. "Selamat pagi." Entah sejak kapan suara ini membuatku berdebar.
"Pagi," sahutku singkat. "Lepaskan tanganmu, Ga. Ini di dalam rumah." Aku melihat ke kanan dan ke kiri. Juga melihat kedepan. Aku merasa takut. Apalagi di depan sana adalah kamar Rara.
"Kamu tidak lupa dengan pernyataanku yang kemarin, kan?" tanya Gara sambil masih memegang tanganku.
Aku menggeleng sambil sedikit gugup. "Tidak."
"Terima kasih. Aku sempat khawatir."
"Sudah. Lepaskan aku. Mereka akan mendelik kaget melihat kita seperti ini." Yang aku maksud tentu Han dan Rara.
"Tentu." Belum selesai Gara melepaskan tanganku, terdengar langkah seseorang dari atas. Terburu-buru aku melepaskan tangan Gara dan setengah mendorong tubuhnya. Kemudian melangkah dan pergi dari tempat kita berdua tadi.
__ADS_1