Getir

Getir
Bukan pemenang


__ADS_3


"Aku terima tawaran Han. Aku mundur," ujar Gara pada akhirnya.


Gara ..., batin Zia.


Mendengar itu, seketika airmata Zia semakin berderai. Hingga dia sendiri kebingungan menghapusnya. Berulangkali menghapus, airmata selanjutnya terus meleleh. Hanen menangkap tangan Zia yang gemetaran mengusap air mata. Lalu dia membantu Zia mengusapnya. Perempuan ini semakin terisak hingga Han harus memeluk tubuh yang semakin bergetar itu.


Tangis Zia meledak dalam pelukan Hanen. Rara mengusap airmatanya. Dia ikut terenyuh. Mama di peluk oleh papa karena juga menangis. Gara membuang wajah ke arah lain. Tangannya di bawah meja mengepal keras. Keputusannya menerima tawaran Han bukanlah keinginannya sesungguhnya. Dia hanya ingin menyelamatkan Zia dari kebimbangan. Dia mengambil satu pilihan Zia hingga dia tidak bisa lagi memilih.


"Jadi, Zia ... bagaimana denganmu?" Papa mulai bertanya. Hanen sudah melepaskan tubuh Zia. Wanita itu sudah tidak menangis seperti tadi. "Ambillah keputusan yang kamu anggap baik. Kita tidak akan menyalahkanmu atas hasil dari keputusan itu. Karena memang kesalahan berawal dari kita yang menganggap Hanen akan menjadi suami yang baik."


"Aku ... " Kalimat Zia terjeda oleh tangisan yang masih tersisa. "Aku tidak memilih siapa-siapa. Se-sejak awal Hanen memang suamiku." Saat mengatakannya, Zia hanya menatap lurus ke depan. Ke arah mertuanya. Dia tidak ingin pandangannya bersirobok dengan Gara. Itu bisa meluluhkannya lagi.


Walaupun terdengar egois, Zia mengambil keputusan ini dengan hati yang terluka juga. Gara tersenyum pedih mendengarnya. Rara tahu dengan perasaan kakaknya. Hingga tidak terasa airmatanya meleleh lagi.


Meskipun keluarga Laksana menerima keputusan apapun yang akan di buatnya, dia juga harus memikirkan keluarganya di rumah. Tidak mungkin dia berkata pada ibunya bahwa dia berselingkuh dengan Gara karena Hanen menyakitinya. Ibu pasti begitu malu dan terluka. Dia memilih mencoba berdamai dengan Han. Ya, pria yang pernah di cintainya, juga yang selalu menyakitinya.


Keputusan ini memang kejam dan bodoh. Zia dan Gara tahu itu.


"Jadi kamu menerima dia kembali dan ... " Mama hendak menyebut nama Gara, tapi segera di urungkannya. Melihat raut wajah putra keduanya itu, dia tahu pasti putranya juga terluka. Lebih terluka daripada Hanen. "Jadi kamu bersedia menerima Han kembali sebagai suamimu?" Zia mengangguk pelan.


Melihat anggukan kepala menantunya, mama langsung beranjak berdiri. Papa dan Rara yang ada di dekat mama heran. Ternyata mama mendekati Zia kemudian merunduk. Memaksa lututnya menjadi tumpuan bagi tubuhnya guna bisa memeluk menantunya yang duduk di sofa.

__ADS_1


"Mama ..., " ujar Zia tertahan. Semua mata tidak menyangka mama akan melakukan hal ini. Papa ikut mendekat dan mengajak beliau untuk berdiri. Mama menggeleng. Hingga papa terpaksa berdiam diri di dekat istrinya.


"Terima kasih sudah bersabar dan tetap menjadi istri Hanen, walau dia menyakitimu. Mama sangat berterima kasih padamu."


"Jangan begini, Ma. Mama tidak pantas berlutut padaku. Aku bukan siapa-siapa. Berdirilah, Ma." Zia berusaha memaksa mertuanya untuk tidak memeluknya sambil berlutut. Namun pelukan mama begitu erat. Hingga Zia tidak mampu berontak. Rara, Gara dan Papa hanya bisa melihat mama mereka memeluk dan meminta maaf pada Zia. Tidak ada yang bisa di lakukan lagi. Jadi mereka membiarkan mama melakukan apa yang ingin di lakukannya.


"Maaf atas semua perlakuan tidak pantas putra kami. Mama malu tidak bisa mendidik putra mama, dengan baik." ujar mama lagi.


"Tidak, Ma. Ini bukan kesalahan Mama. Han, tolong buat mama tidak melakukan ini," pinta Zia dengan suara serak.


"Mama berdirilah," pinta Han yang berdiri di dekat Zia. Dia hendak menyentuh tubuh mamanya tapi tertahan dengan kalimat beliau.


"Diamlah, Han. Kamu akan menjadi sengsara jika sekali lagi melukai Zia. Jika kamu melukainya lagi, itu berarti kamu juga melukai Mama. Ingat baik-baik apa yang di katakan mama." Han urung memaksa mamanya lagi. Tubuhnya membeku mendengar ancaman mamanya.



"Han," tegur Gara. Han menghentikan langkahnya. Melihat Han berhenti, Gara mulai bicara, "Keputusanku membiarkanmu menang atas Zia bukanlah jalan untukmu menyakitinya lagi, Han. Aku mengalah bukan ingin melihat dia menderita," ucap Gara di depan pintu ruang baca.


Zia yang memunggungi Gara memejamkan mata. Airmatanya hendak berderai lagi.


Jangan. Jangan menangis lagi.


"Aku bukanlah Hanen yang dulu. Aku bersungguh-sungguh ingin mengobati lukanya karena ku. Kamu jangan khawatirkan itu."

__ADS_1


"Kita bisa tetap menjadi teman dan saudara ipar meskipun sulit, Zi. Aku akan tetap mengawasi Hanen untuk memastikan sendiri bahwa semua perkataannya bukanlah bualan saja." Gara menatap tajam ke arah Han. Pria ini merasakan tatapan itu menusuk punggungnnya. "Semoga berbahagia, Zi."


Zia tidak mampu lagi menahan air matanya. Sekali lagi dia menangis. Setelah itu Gara pergi menuju ke pintu luar. Sepertinya pria itu enggan berada di rumah. Dia ingin membunuh rasa getir di luar dan sendirian.


Tanpa sepengetahuan siapapun, Gara menyeka setitik airmata di ujung manik matanya. Lalu melesat keluar dengan mobil berkecepatan medium.


Tangisan Zia masih tersisa. Namun Han dengan sabar menemani Zia yang enggan tidur.


"Maafkan aku, Zi," ujar Han seraya duduk di samping perempuan ini.


"Cukup meminta maaf. Lebih baik tunjukkan saja padaku bagaimana kamu memperbaikinya." Zia berulang kali menyeka sisa airmata.


"Terima kasih sudah menerima ku kembali."


"Kamu memang tetap menjadi suamiku. Hanya saja kamu sendiri yang melenyapkan aku dan mengaburkan posisi aku sebagai istri karena orang lain," jawab Zia dengan suara serak karena tangis. Meski wajahnya sembab karena air mata, dia tetap mampu memberikan sorot mata tajam pada pria ini.


"Kali ini tidak begitu, Zi," ujar Han seraya meraih tangan Zia dan mengecupnya. "Tidurlah. Kamu pasti sangat lelah." Zia hanya mengikuti intruksi dari Han. Dia berbaring sambil miring ke sisi yang berlawanan dengan Han.


Pria ini tahu, tidak mudah memaafkan dirinya. Dengan lembut, Han menutupi sebagian tubuh Zia dengan selimut. Lalu dia sendiri berusaha memejamkan mata.


Di balik punggung Han, Zia menangis lagi. Dia masih berpikir tentang Gara. Apalagi saat mendengar deru mobil pria itu melesat keluar di dalam malam.


Gara ... Kau tahu kamu tidak baik-baik saja. Namun aku berharap kamu tetap bisa berdiri dengan tegak. Maafkan aku sekali lagi. Terima kasih doamu. Aku juga akan berdoa demi kebahagiaanmu.

__ADS_1


Hanen mendengar isak tangis itu. Dia sendiri belum bisa tidur. Meskipun dia sendiri termasuk pemenangnya. Han tetap merasa sedih. Zia masih enggan dengannya. Dia belum menuju podium nomor satu memenangkan hati Zia. Han hanya dinyatakan sebagai pemenang tanpa trofi dan keberhasilan. Jalannya masih panjang jika ingin di sebut sebagai pemenang sesungguhnya.



__ADS_2