
"Mau minum?" tanya Kayla menawarkan minuman beralkohol di tangannya.
"Tidak," jawabku singkat.
"HH ... sepertinya aku tidak perlu bertanya. Karena kamu pasti akan menolak apapun dariku." Kayla menghela napas dengan mengejek. "Oke. Aku mau ganti baju dulu. Setelah itu kita pergi. Aku ingin belanja," kata Kayla dengan gaya manjanya.
"Aku ingin lepas darimu, Kayla," ungkap ku jujur. Tiba-tiba saja keinginan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Bukan hanya Kayla, aku sendiri saja terkejut mendengarnya.
"Lepas? Kamu? Mana bisa." Kayla tertawa meremehkan. "Aku memegang kartu mu. Kamu tidak akan bisa bergerak bebas karena aku tahu perselingkuhan istrimu," tunjuk Kayla yakin. Lalu melenggang masuk ke kamarnya.
...***...
...POV ZIA...
Siang hari.
__ADS_1
Dengan di jemput oleh Rara, akhirnya aku tiba di rumah tempat aku tinggal dengan keduanya. Gara dan Han. Rara berani mengajakku main ke rumah ini, karena Gara tidak ada di rumah. Menurut gadis itu, dia sedang ada acara di luar kota. Hingga memerlukan beberapa hari untuk tinggal. Hanen mengijinkan karena Rara memberitahu.
Melihat rumah ini, aku kembali teringat kenangan itu. Kakiku tanpa sadar berhenti melangkah.
"Maaf, jika kakak merasa tidak nyaman berada di rumah ini." Rara pasti melihat ekspresi ku berbeda. Juga dia menyadari ada kemelut di hati saat ingat itu. Ya. Bayangan Gara kembali terlintas sekilas di benakku barusan.
"Aku juga pernah tinggal di rumah ini. Tidak mungkin tidak nyaman," kilahku bodoh. Yang di maksud Rara pasti soal skandalku dengan Gara.
"Aku bercengkrama dulu dengan bibi," kataku mengurungkan niat untuk ikut Rara ke kamarnya. Ku langkahkan kakiku menuju ke arah bibi pembantu yang menunjukkan raut bahagia melihatku. Kita pun berpelukan. Lalu bibi mengelus perutku pelan.
...***...
Bibi membuatkan minuman untukku. Mataku beredar. Masih ingat aku dulu memasak dengan bibi di dapur ini. Terselip pula ingatan soal Hanen yang menolak makan saat tahu bahwa aku yang memasak untuk sarapan waktu itu. Namun justru Gara-lah yang peduli pada masakan yang sudah terlanjur di masak itu.
__ADS_1
Tak sadar aku mendengus pelan dengan ingatan itu.
"Senang sekali nona berkunjung ke rumah ini lagi. Bibi kangen masak dengan nona," kata bibi membawa camilan dan minuman hangat untukku.
"Iya. Aku juga kangen dengan bibi," kataku menunjukkan raut wajah bahagia. Meskipun diam, bibi tahu bahwa Hanen sempat mengabaikan aku sebagai istrinya. Makanya dia iba padaku.
"Oh, ya. Apa bibi punya alpukat? Aku ingin makan alpukat dengan susu bubuk cokelat," rengek ku pada bibi.
"Sebentar ya, Non. Coba saya lihat di kulkas. Biasanya ada. Tuan Gara kan suka buah alpukat juga. Jadi saya sering beli," kata bibi seraya berjalan menuju lemari pendingin dua pintu itu.
Kembali aku teringat pria itu lagi. Datang ke rumah ini memang membuat segala ingatan soal Gara akan muncul. Sejak awal Rara menawarkan untuk bertamu ke rumah ini, aku sadar akan itu.
"Oh, ada Non," kata Bibi menunjukkan buah alpukat dengan senang. Aku pun tersenyum ikut senang. Saat ini aku sangat ingin makan buah alpukat. Ya. Sepertinya bayiku juga menyukai alpukat sepertiku. Karena saat makan atau minum yang ada hubungannya dengan alpukat, perutku terasa nyaman.
...____...
__ADS_1