Getir

Getir
Bertemu kamu


__ADS_3


"Aku sudah menolakmu, Han. Aku tidak bisa melepaskan pikiranku soal itu."


"Kamu tidak menolakku." Han meyakinkan Zia. "Itu pertama kalinya kita melakukannya. Kita memulai ... Bukan, tapi aku yang memulainya dengan terlalu cepat. Rasa sakit hatimu karena aku masih membekas. Maafkan aku Zi. Aku terlalu terburu-buru dan hanya mementingkan diriku sendiri." Han meminta maaf soal penyatuan mereka tadi malam.


"Aku memang terkejut saat kamu menangis, tapi aku memahaminya. Perasaanmu lebih penting daripada keinginanku." Hanen memeluk tubuh Zia. "Aku bisa menunggu, Zi. Hatimu tidak akan bisa tenang jika aku memaksa. Aku mengerti. Singkirkan dulu keinginanku."


Malam itu adalah malam pertama bagi mereka berdua sebagai suami istri melakukan kegiatan intim. Namun sungguh miris bagi Hanen bahwa Zia masih memikirkan Gara. Han memang tidak tahu itu, tapi Han merasakannya. Namun dia tidak marah. Hubungan mereka yang baru saja terjalin setelah kacau balau memang memerlukan kesabaran.


Petang ini, Hanen dan Zia sedang berdialog di dalam kamar.


"Ada undangan makan malam dari mama," ujar Hanen yang baru saja pulang dari tempat kerja.


"Oh, ya? Kapan mama kasih tahu?" Sementara itu Zia yang tadi mengekorinya masuk ke dalam kamar, membantu Hanen membuka kemeja kerjanya.


"Tadi siang. Aku bilang lihat nanti saja."


"Kenapa tidak langsung bilang iya. Mungkin mama kangen. Lihat ke atas." Han mengikuti intruksi istrinya. Zia merunduk ingin membuka dasi pria ini.


"Karena aku butuh pendapatmu."


"Kenapa hal semacam itu masih butuh pendapatku?" Zia berhasil melepas dasi. Lalu berjalan menjauh dari Han dan meletakkan dasi di gantungan kecil. Kemudian kembali ke hadapan Han.


"Semua keluarga kumpul jadi satu di sana, Zi. Termasuk Gara," ujar Hanen. Zia terkejut. Beberapa detik dia membeku. Hanen tahu itu. Pria ini bisa menemukan keterkejutan Zia meski hanya secuil saja. Bagaimanapun Gara adalah orang yang memberikan Zia banyak perhatian di saat dirinya lebih memilih bersama Kayla daripada istrinya sendiri. Dia paham itu.


"Emm ... Langsung bilang setuju kan bisa." Zia mencoba tidak menampakkan rasa terkejutnya. Lalu Zia membantu Han membuka kancing kemeja.


"Aku bilang menunggu kamu setuju atau tidak."


"Itu terserah kamu, Han. Jika kamu bilang ingin mengajakku ke acara makan malam keluarga, aku akan ikut. Namun jika kamu sendiri tidak berminat, aku tidak mungkin memaksa dan kesana sendirian." Zia mengatakan ini setelah menghapus raut wajah sendu karena mendengar nama Gara.

__ADS_1


Zia tidak boleh lagi memikirkan Gara. Dia sudah memilih jalan ini. Memilih kembali bersama Hanen yang pernah mempermainkannya. Melanjutkan hubungan suami istri yang sempat hancur porak poranda.


"Benarkah, tidak apa-apa?" tanya Han. Sebenernya dia tidak hanya bertanya pada Zia, pertanyaan itu juga sedang di tujukan untuk dirinya. Hatinya juga ikut bertanya-tanya. Benarkah tidak apa-apa, jika Zia dan Gara bertemu? Dia sendiri masih punya rasa takut. Takut Zia akan kembali mencintai Gara dan memilih meninggalkannya jika nanti bertemu.


Bagaimanapun riwayat kisah cinta dirinya dan Zia tidak ada yang sungguh-sungguh bahagia dan indah. Dirinya hanya memanfaatkan putri mantan orang kepercayaan papa itu, demi mendapatkan hak waris atas perusahaan kosmetik.


"Ya. Kamu bisa bilang mama kalau kita akan datang nanti." Zia menyetujui ikut dalam undangan makan malam keluarga Laksana. Itu pasti. Meskipun di sana ada Gara.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan menelepon mama." Zia mengangguk.



Sudah lama mereka berdua tidak berkunjung ke rumah ini. Karena sebagai pasangan yang menyembunyikan kenyataan soal rumah tangga mereka yang penuh prahara, tidak ada pikiran untuk ber-ramah tamah kepada keluarga maaing-masing.


Rumah tangga mereka hanya di isi dengab marah dan menyakiti.


Meskipun sudah bertekad menjadi istri Han sepenuhnya, Zia bukan tidak perlu mempersiapkan apa-apa. Dia yakin hatinya akan berdenyut pedih memanggil Gara ketika bertemu nanti. Jadi dia juga mempersiapkan hatinya.


Saat memasuki rumah keluarga Han, manik mata Zia sudah tertambat pada sosok pria yang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu berdiri bersama keluarga yang lain. Mengobrol dan membahas sesuatu. Itu Gara.


"Halo Zia."


Zia langsung memindah arah pandangnya ke mertua perempuan yang berdiri menyambutnya. Mama memeluk menantunya. "Kamu sehat?" tanya mama perhatian. Mengelus pipi menantunya yang sepertinya semakin tirus.


"Aku sehat, Ma." Zia tersenyum dengan sedikit mengangguk.


"Kenapa kok kelihatan kurus?" Mama memperhatikan seluruh tubuh menantunya. "Pipinya juga semakin tirus." Mama kembali menyentuh pipi Zia.


"Benarkah, Ma? Tidak kok. Memang pipi Zia begini." Zia tergelak.


"Mungkin karena mama sudah lama tidak bertemu Zia. Makanya dia terlihat berbeda," ujar papa ikut nimbrung.

__ADS_1


"Mungkin, ya ... Bukan karena Hanen berulah lagi?" selidik mama sambil melirik tajam ke arah putranya yang berada di samping Zia.


"Hanen sudah tidak ingin berulah, Ma," bantah Hanen. Bola mata mama penuh antisipasi menatap Hanen. Karena mama Han tidak ingin percaya pada putra pertamanya itu. Beliau sangat takut itu terjadi lagi.


"Han bersungguh-sungguh, Ma." Zia membenarkan bantahan suaminya. Menurutnya, sekarang pria ini sudah mengarah ke jalan yang tepat.


"Baiklah. Mama percaya pada Zia. Bagaimana di rumah sana? Kamu bisa beradaptasi kan ..." Mama kembali fokus pada Zia.


"Tentu saja bisa, Ma. Di sana lingkungannya sangat menyenangkan. Juga asri." Zia bercerita.


"Ya. Semoga hal menyenangkan di sana, membawa dampak baik bagi kamu dan Han."


"Semoga," ujar Zia.


"Ayo, kumpul bareng semua saudara." Mama mempersilakan mereka berdua untuk gabung. Sepertinya ini makan malam besar. Karena saudara yang datang lumayan banyak. Kebanyakan Zia pernah tahu. Saat pernikahannya mereka juga datang.


Tanpa Zia menoleh pun, dia tahu bahwa Gara sedang memandanginya. Rasa resah gelisah yang di rasakannya pasti karena tatapan pria itu. Tiba-tiba tubuh Han bergeser. Berpindah dari sebelah kiri menuju ke kanan.


"Sepertinya kamu lapar. Mau makan dulu?" tawar Han dengan senyum.


"Ah, Tidak. Ini belum waktunya makan."


"Tidak apa-apa. Mereka akan mengerti jika kamu bilang kalau kamu lapar."


"Aku tidak lapar. Berhenti memaksaku makan duluan, Han," ujar Zia sambil mencubit lengan suaminya.


Awalnya Zia tidak terpikir apa-apa. Namun kemudian dia sadar. Kemungkinan pindahnya Han berdiri, di sebabkan oleh pandangan Gara yang selalu ke arah dirinya. Yang tidak di sadari Zia adalah pria itu tahu dan hanya diam.


Kesempatan berdekatan memang tidak mungkin. Karena Hanen selalu saja mendampingi wanita-nya saat berada di ruang makan yang luas ini. Bola mata Gara hanya mampu mengambil kesempatan tipis melihat perempuan itu.


Meski ingin mendekat, janjinya untuk melepas Zia masih teringat. Bukan rela. Gara hanya ingin menolong Zia. Wanita itu akan terlihat buruk jika tetap memilih dirinya. Di belakangnya ada keluarga angkat yang menginginkan Zia tetap bersama Han demi memenuhi janji dengan keluarga Laksana.

__ADS_1


Gara senang tapi juga tersiksa. Dia yang memang merindukan Zia, tetap tidak bisa mendekati. Ternyata tidak mudah bagi Gara bersikap biasa saja saat dia dan Zia sudah pernah melakukannya. Dimana ternyata wanita itu harus kembali kepada pelukan suaminya. Ada yang menggelegak di hatinya saat melihat perempuan itu. Masih. Gara ingin menyentuhnya lagi.



__ADS_2