
"Lepaskan!" Zia menepis tangan Han. Memang tangan pria ini terlepas dari dagunya, tapi kemudian lengan pria ini justru melingkar di pinggulnya. "Han!" teriak Zia.
Han bukan melepaskan Zia. Dia malah mengecup bibir perempuan ini yang begitu dekat dengan wajahnya. Tubuh Zia berontak. Namun Han lebih kuat.
"Sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan adikku?" tanya Han dengan wajah terlukanya. Masih tetap melingkarkan lengan pada pinggul Zia.
"Hapus raut wajah tersakitimu itu. Aku disini yang lebih sakit darimu, Han. Aku!" Dalam dekapan pria ini, Zia mengatakan rasa sakitnya. Han menatap lekat wajah Zia dari dekat. "Sejak awal akulah yang menjadi korban. Aku di nikahi, tapi kemudian di tinggalkan begitu saja olehmu. Kamu bahkan meninggalkanku dan memilih bersama Kayla saat malam pertama kita. Kamulah penjahat yang sesungguhnya, Han. Kamu akar dari semua permasalahan di antara kita berdua." Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Zia menunduk. Menyembunyikan raut wajah terlukanya.
Aku tidak harus menangis.
Han membeku. Ternyata sakit hatinya dirinya saat melihat Zia dan Gara tidaklah berat. Zia justru merasakan getir yang sesungguhnya. Ada rasa aneh di hatinya. Sejak pertama melihat Zia dan tatapan penuh perhatian Gara pada perempuan ini, dia merasa marah. Dia merasa miliknya tidak boleh di ambil.
Dugaannya soal Zia dan Gara benar. Ada yang lain dari mereka. Sekarang Han mengerti. Itu adalah cinta. Mereka sedang menjalin sesuatu yang tidak tepat di belakangnya.
Melihat itu Han merasa ada yang hilang. Seperti kata orang, kita akan merasa dia begitu berharga saat kita kehilangan mereka. Han merasa kehilangan Zia meskipun wanita ini tetap menjadi istrinya.
"Mungkin tidak pantas aku mengatakannya sekarang, tapi ... maaf." Han merubah lingkaran lengannya pada pinggang Zia menjadi sebuah pelukan. Zia yang sedang menahan diri untuk tidak menangis, hanya diam. Namun kemudiam tangisnya pecah saat Han memeluknya.
...----------------...
Gara menatap cermin di depannya. Melihat wajahnya yang lebam dan juga terluka. Ada sobekan yang tertoreh di wajahnya. Kemudian dia mengambil obat di atas meja. Hendak mengobati luka bekas pukulan Han.
"Bisa aku bantu?" tanya Rara. Dari cermin, Gara dapat melihat adiknya yang berdiri di ambang pintu.
"Kenapa tiba-tiba muncul?"
"Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali. Namun tidak ada jawaban. Padahal aku bisa lihat kakak sedang duduk di sana."
"Oh, ya? Aku tidak bisa mendengarnya. Maaf."
"Boleh aku masuk?"
"Masuklah." Rara masuk dan berdiri di dekat cermin. "Aku bantu mengobati luka itu." Rara menunjuk luka itu dan merebut obat di tangan Gara.
__ADS_1
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Aku tahu, tapi aku tetap ingin membantu kak Gara." Rara memaksa. "Kakak duduk dengan santai saja." Rara duduk di atas ranjang. Gara mengikuti. "Memangnya seorang pria harus berkelahi ya kalau sedang memperebutkan sesuatu?"
"Bicara apa kamu?" Rara dengan penuh perhatian membubuhkan obat pada luka di pelipis Gara.
"Aku bicara tentang dua orang pria yang sedang berselisih." Rara bercerita.
"Kenapa membicarakan mereka? Salah satunya adalah kekasihmu?" tanya Gara sambil sesekali meringis karena obat membuat lukanya perih.
"Bukan. Mereka bukan kekasih ataupun teman."
"Lalu apa pedulimu? Kenapa memikirkan tentang mereka?"
"Karena mereka berdua adalah kakakku." Gara langsung menatap adiknya. Rara juga menghentikan tangannya memberi obat. Gara menatap Rara dengan penuh tanya. "Iya. Itu kak Gara dan kak Hanen."
"Kamu tahu?" Rara diam. "Kamu melihat kita berkelahi di depan restoran kecil itu?"
"Tidak." Rara menggeleng. "Namun, aku tahu."
"Emm ... jauh."
"Hanen marah karena tahu tentang aku dan Zia dari kamu?"
"Tidak. Meskipun aku ingin memberitahunya aku tidak bisa. Kak Hanen juga pada posisi salah. Dia yang sudah menikah harusnya memperhatikan istrinya, tapi dia malah menyibukkan diri dengan perempuan lain. Dan kak Zia ... dia korban. Seorang korban itu pasti dalam keadaan labil. Dia sangat labil hingga bisa melakukan kesalahan."
"Kenapa kamu hanya diam?"
"Maksud kakak, aku harus melakukan apa? Mengadu domba kakak-kakakku? Mengadu pada mama-papa? Atau mencaci maki kak Zia yang juga terjerumus dalam kesalahan seperti kak Hanen? Tidak ada satupun dari pilihan itu yang aku anggap tepat." Gara menghela napas panjang mendengar kata-kata adiknya. Rara menatap kakaknya. Pasti saat ini kakaknya tengah di landa galau.
"Maaf. Kamu menanggung semua itu sendirian."
"Aku sudah bilang kalau kak Gara adalah orang baik. Harusnya kakak bisa dapat orang lain. Kenapa harus kak Zia?"
"Jika aku punya jawaban, aku juga akan berpikir lagi. Namun aku tidak punya jawaban. Aku hanya mulai tertarik dengannya. Kakak iparku."
__ADS_1
"Jika begitu aku tidak bisa lagi memberi nasehat. Orang yang sedang di landa cinta itu seperti orang kehilangan akal. Mereka ada dalam dunia mereka sendiri."
"Jadi ... kamu menyebutku gila, adikku?"
"Mungkin." Gara tersenyum mendengar jawaban Rara. Tangan Gara terulur untuk mengusap-usap rambut adiknya. Rara ikut tersenyum.
"Kak Zia itu baik, tapi tidak untuk kak Gara."
"Hanen menyakitinya, Ra. Zia tidak salah, tapi Hanen tidak memperlakukannya dengan semestinya."
"Jadi kak Gara melindunginya karena kasihan?"
"Apa mungkin begitu? Tidak. Aku juga tertarik padanya. Setelah malam ...." Gara menghentikan kalimatnya dan melihat ke arah Rara. Dia tidak harus mengatakan soal malam panas itu. Walaupun mungkin saja Rara juga tahu soal itu, dia tidak harus membahas itu dengan Rara. "Jika aku tidak jatuh cinta padanya, aku tidak akan selalu memikirkannya, Ra. Aku rasa ini cinta."
"Aku tidak bisa menghujat jika kakak merasakan itu. Aku sayang kakak-kakakku. Jadi aku ingin kalian semua mendapatkan apapun yang terbaik. Termasuk soal pasangan hidup."
"Terima kasih. Semoga hal paling baik juga selalu mengikutimu, Ra." Gadis ini beranjak berdiri.
"Hhh ... Sudah. Sepertinya aku banyak ngomong pagi ini. Perlu aku perban lukanya?"
"Tidak. Ini bukan luka korban kecelakaan," tolak Gara.
"Bagaimana jika besok belum pulih? Kakak akan bekerja dengan lebam seperti itu?" tunjuk Rara pada wajah Gara.
"Jika belum sembuh, ya terpaksa."
"Ah, akan banyak orang yang bertanya dan bergosip nantinya." Rara sudah bisa membayangkan itu. "Tapi ... setelah aku pikir, rasanya tidak. Dengan karakter kak Gara yang tidak banyak bicara dan dingin, pasti mereka tidak berani bertanya. Baguslah. Aku pergi, kak." Gadis itu melenggang keluar dari kamar Gara.
"Terima kasih, Ra. Tolong tutup pintu."
"Ya." Gara langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menghela napas. Setelah kepergian Rara dari kamarnya, dia juga gelisah dan khawatir. Apa yang akan di lakukan Han pada Zia? Teleponnya juga tidak di jawab. Pagi ini pun dia belum melihat mereka berdua. Zia dan Han.
Apa yang terjadi pada mereka?
__ADS_1