Getir

Getir
Bab 105


__ADS_3

"Kenapa mama lebih fokus pada Hanen, karena dia punya tanggung jawab lain, yaitu Zia." Mama melanjutkan bicaranya. Ia butuh menjelaskan pada putrinya karena mungkin di mata Rara, beliau tidak adil. "Selain dirinya, Hanen juga masih harus memperhatikan istrinya. Apalagi melihat riwayat rumah tangga mereka berdua. Mama perlu ekstra memperhatikan Hanen karena takut terjadi lagi.”


Suara pintu terbuka membuat mereka berdua menoleh bersamaan. Itu Hanen. Pria itu muncul tiba-tiba. Bibirnya tersenyum ketika Rara dan mama terpaku melihat kedatangannya.


"Aku datang," ujar Han.


"Han ..." Mama langsung berjalan mendekat dan memeluk putranya. Beliau mengelus kepala Hanen dan menepuk punggungnya. "Untunglah semua berjalan dengan lancar. Mama bisa lega," ujar mama setelah melepaskan pelukannya.


"Ya, tapi maaf ... Hanen tidak bisa menjaga kehormatan keluarga karena sudah membuat aib yang mencoreng nama keluarga," kata Han merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting semuanya sudah mulai tenang. Sekarang fokuskan pikiran mu pada kesehatan Zia. Dia yang sedang mengandung tidak seharusnya mendapatkan tekanan batin seperti ini." Mama menoleh pada Zia sebentar.

__ADS_1


Han menggeser tubuhnya dari mama dan menghampiri istrinya yang terbaring.


"Dia tidur atau bagaimana?" tanya Hanen yang melihat Zia begitu tenang. Hanen tampak khawatir.


"Setelah dokter memberi obat, dia tertidur pulas. Mungkin ada sedikit obat penenang juga," ujar mama.


Rara melongok ke arah pintu masuk. Dia sedang menunggu kakaknya yang lain. Namun Rara tidak segera melihat kemunculan Gara di sana.


Rara kembali masuk ke dalam dan bergabung dengan keluarganya. Namun ia tidak menyinggung sama sekali tentang Gara. Bibirnya tertahan untuk bertanya.


***

__ADS_1


Gara ternyata berada di rumah. Mengisi penuh gelasnya dengan minuman beralkohol. Menyesapnya perlahan demi menikmati minuman dengan intens. Juga untuk membunuh rasa sepi dan terpuruk yang sedang ia rasakan.


"Aku harap kamu sehat dan bahagia selalu Zia. Sepertinya takdir sedang berupaya menjauhkan aku darimu. Semakin jelas pengorbanan Hanen untukmu, semakin jelas jarak yang membentang antara kita." Gara menaikkan tangannya untuk mendekatkan pinggiran gelas pada bibirnya. Ia menyesap lagi hingga minuman beralkohol yang dingin itu melewati tenggorokannya dan kini bersarang di perutnya.


Pandangannya beredar ke sekitar. Ia ingat lagi kenangan itu. Ini tempat dia melihat perempuan itu duduk dengan penuh luka. Mencoba mengucilkan diri dari rasa sakit dan marah akibat sikap suami yang tidak mencintainya. Juga ketika perempuan itu melihat Hanen yang gila bercinta di ruang kerjanya.


Punggung itu terlihat rapuh meskipun berusaha di tutupi. Gara yang ingin minum pun urung. Namun ternyata langkahnya tetap memaksa untuk menuju kursi bar di samping Zia. Waktu itu dia tahu Hanen tidak akan pulang. karena pria itu masih akan sibuk dengan kekasihnya.


Tidak ada niatan apapun darinya selain duduk dan minum dalam diam, hingga bibir merekah itu menawarkan sesuatu yang begitu mengejutkan. "Bisakah, malam ini menemaniku?"


Mereka adalah dua orang dewasa, bukan anak-anak. Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan biasa. Itu sebuah permintaan. Gara tahu apa artinya itu. Dia juga yakin Zia juga tahu apa artinya permintaan itu.

__ADS_1


...____...


__ADS_2