Getir

Getir
Bab. 124


__ADS_3


Klak! Terdengar suara pintu kamar perawatan Hanen di buka. Gara langsung menoleh dan berdiri ketika Ibu Zia dan Kak Mila muncul.


"Saya harap Tuan muda Han cepat pulih dan sehat," ujar ibu.


"Ya. Doakan dia baik-baik saja, Wati. Apalagi Zia hamil."


"Kalau begitu saya permisi." Ibu Zia pamit undur diri.


"Kamu masih menjenguk Zia dulu kan?"


"Benar."


"Kalau begitu Rara akan mengantarmu ke kamar Zia," kata Mama menoleh ke Rara yang ada di samping beliau.


"Tidak perlu. Biar aku saja yang mengantar ibu ke sana," serobot Gara menawarkan diri. Mama mengerjapkan mata seraya menatap putranya. Rara juga ikut menatap kakaknya dengan pandangan sedikit terkejut.


Ibu tahu kenapa reaksi mereka seperti itu. Itu pasti karena skandal Gara dan Zia.

__ADS_1


"Biar saya sendiri yang ke kamar Zia," kata ibu langsung mengambil keputusan.


"Tidak apa-apa, Ibu. Rara temani mama saja di sini." Ibu kebingungan karena tidak enak dengan mama Han ataupun Gara.


"Hhh ... ya, antarkan Tante Wati ke kamar Zia." Mama memilih merelakan Gara menemani ibu Zia. Karena beliau juga tidak ingin membuat besan kebingungan.


"Ibu sudah selesai bicara dengan mama?" tanya Gara.


"Iya benar." Ibu Zia mengangguk. "Saya pergi." Ibu pamit undur diri. Mama mengangguk.


"Kalau begitu, mari aku antar ke kamar Zia Ibu." Gara mempersilakan beliau untuk jalan mengikutinya. Setelah berpamitan, mereka mengikuti langkah Gara menuju kamar putrinya.


Mama tidak langsung masuk ke kamar. Beliau masih menatap punggung putra keduanya yang membimbing ibu Zia di lorong dengan tatapan sedih.


"Rara tidak tahu, Ma."


****


Setelah berjalan melalui lorong rumah sakit, akhirnya mereka sampai di depan kamar Zia. Gara memutar kenop pintu dan mendorongnya pelan. Rupanya Gara takut menimbulkan suara yang membuat perempuan itu terbangun dari tidurnya. Namun nyatanya Zia yang ada di dalam kamar sudah membuka mata.

__ADS_1


"Ibu?" Zia terkejut melihat ibu muncul. Wajah perempuan itu langsung berubah seketika. Sepertinya dia gembira melihat keluarganya berada di sini. Mereka pun mendekat dan saling berpelukan. Bibir Gara tersenyum ikut senang melihatnya. "Aku tidak tahu ibu akan kesini." Zia tidak menyangka akan bertemu keluarganya hari ini.


"Gara tidak memberitahumu kalau aku menelepon?" tanya Kak Mila seraya menoleh ke arah Gara dengan heran. Pria ini mengerjapkan mata. Ia memang sengaja tidak memberitahukan kedatangan mereka pada Zia. Bahkan ketika berangkat untuk menjemput keluarganya pun, Gara tidak bercerita soal itu. Semuanya ia lakukan atas inisiatif sendiri. Dia rela melakukannya.


Mendengar itu, Zia menoleh pada Gara. Meski tidak mengucap sepatah kata pun, Gara tahu bahwa Zia mempertanyakan soal itu.


"Yah ... aku memang belum memberitahukan soal itu pada Zia Kak." Gara mengaku. "Maafkan aku kak Mila, ibu." Kepala Gara menunduk sedikit. "Aku hanya ingin memberi kejutan untuk Zia." Gara memberi penjelasan atas keputusannya.


"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mau melakukannya," kata ibu. Gara menggeser pandangannya pada ibu dan mengangguk menerima ucapan itu.


"Bagaimana ibu? Apa ibu baik-baik saja? Bagiamana perjalanan kalian?" tanya Zia cemas.


"Ibu pasti tidak apa-apa. Karena kami di jemput oleh Gara," ujar Kak Mila. Zia terkejut lagi. Zia tidak menyangka.


"Aku takut ibu kelelahan jika harus berangkat sendiri menjenguk mu Zi. Jadi aku menjemput mereka." Gara memberi penjelasan. Bola matanya mengerjap mendengar alasan pria ini. Namun secepatnya ia menarik pandangannya dari Gara ketika mata mereka berserobok. Karena pria itu justru terlihat menikmati ketika mereka saling berpandangan. Zia hanya mengangguk sedikit. Sekedar merespon Gara yang sudah berbaik hati menjemput ibu dan kakaknya.


"Justru kamu yang ibu khawatirkan." Kak Mila tahu harus memotong perkataan Gara karena Zia mulai terlihat gelisah. Ibu menatap putrinya.


"Aku tidak apa-apa, Ibu," ujar Zia menenangkan Ibu. Meskipun ibu diam saja seraya menyentuh pipi putrinya, sebenarnya beliau sangat cemas.

__ADS_1


"Semoga tuan muda Han baik-baik saja," tutur ibu. Gara sebenarnya tidak suka sebutan ini begitu juga Zia, tapi mereka tetap tutup mulut demi menghargai ibu yang begitu hormat pada keluarga Laksana.


...----------------...


__ADS_2