
Aku yakin bola mataku membulat sebentar barusan. Mendengar ia mengatakan hal yang sudah aku ketahui juga, aku terkejut. Darimana dia tahu bahwa sekarang Han bersama Kayla?
"Aku tidak tahu apa yang di pikirkannya, tapi dengan begitu ... dia tidak sungguh-sungguh berubah."
"Urusan itu biar aku dan Han yang mengurusinya. Kamu tidak perlu ikut campur Ga. Kita bisa mengatasinya," desisku tidka tahan. Tolong Ga. Jangan menggoyahkan aku. Aku sudah bertekad ingin kembali membangun rumah tangga ku. Aku tidak ingin semuanya berantakan.
"Kehamilanmu sehat-sehat saja?" tanya Gara yang mulai menyandarkan punggungnya pada badan kursi. Menghela napas.
"Tentu saja."
"Akhirnya kalian terikat dalam ikatan yang sulit terpatahkan, Zi. Bayi itu." Gara mendesah. Aku diam. Rasa bersalah masih ada. Karena akulah biang keladi pria ini menjadi seperti ini. Karena keegoisan ku dia terluka.
Kehamilan Zia menguatkan hubungan Han dan istrinya. Itu membuat Gara merasa terdepak tanpa perlawanan. Semua itu membuat Gara resah.
"Maaf." Aku mengatakan itu dengan lirih. Gara memejamkan matanya sebentar.
Hubungan singkat itu menyakitinya.
"Kamu pasti mendapat pengganti yang lebih baik dari sekedar seorang wanita seperti aku. Aku yakin." Maksudku menghiburnya. Meskipun itu terasa hambar, tapi aku tidak bisa diam saja setelah mengambil hatinya lalu membuangnya. Gara menatap ke samping. Ke arahku yang juga melihat ke arahnya. Kupalingkan wajah agar tidak bertatapan.
"Buang keyakinanmu, Zi. Itu hanya kalimat penghibur klise untukku. Untuk saat ini tidak ada wanita lain yang mengisi benakku selain kamu." Gara mengucapkannya dengan wajah getir. Aku menunduk.
**
Aku tidak tahu kapan Han datang, karena setelah Gara pulang aku menunggu Han hingga terlelap. Sepertinya dia memindahkan aku ke atas ranjang. Karena kurasakan empuk di bawah tubuhku. Aku bangkit dan mencari sosok itu. Rupanya Han duduk di balkon dengan secangkir teh di tangannya. Sepertinya ini hari libur karena ia tidak bersiap-siap kerja.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya Han yang melihatku berjalan ke arahnya.
"Ya," sahutku dan memilih duduk di kursi lainnya.
"Maaf aku tidak sanggup membangunkanmu. Aku lihat kamu lelah."
"Ya. Aku lelah." Bibirku tidak membantah. "Jadi kemana sebenarnya kamu pergi, Han?" Sepertinya aku tidak mau berlama-lama dengan pikiran buruk soal Kayla.
"Aku menemui ..."
"Kayla?" tebakku sengaja memotong kalimatnya. Han diam. "Berterus terang saja." Wajahku berpaling darinya. Aku lelah. Sudah berniat membina kembali rumah tangga yang berantakan, nyatanya dia berbohong di belakang. Rasanya percuma berjuang.
"Gara datang mengunjungimu?" Mengejutkan Han justru bertanya soal Gara. Raut wajahku tertekuk mendengarnya.
"Apa dia bicara soal Kayla?" Bahuku naik turun karena menghela napas.
"Kenapa? Kamu tidak suka adikmu membongkar semuanya?"
"Kamu masih mencintainya?"
"Han! Apa yang sebenarnya kamu bicarakan?" Darahku mendidih. Han diam. "Hentikan pembicaraan soal Gara. Aku marah karena Kayla." Tidak bisa lagi banyak bicara, aku memilih menjauh dari kursi menuju nakas di dalam kamar. Mengambil ponselku dan menunjukkan pada Hanen. Foto-foto yang dikirim seseorang. Foto Hanen dan Kayla berdua. "Aku bicara soal ini," tegasku.
Manik mata Hanen melihat ke arah gambar dirinya di ponsel.
"Darimana kamu mendapatkannya?"
__ADS_1
"Jawab saja aku. Apa yang kamu lakukan di sana? Janji temu dengan klien? Teman? Atau mantan kekasih?" Kurasakan rasa panas menyengat tubuhku karena marah dan kesal. Ini seperti Dejavu. Aku pernah mengalami ini. Sewaktu ia baru menikahiku dan tetap bersama Kayla.
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Pikiran apa yang ada di benakku saat melihatmu makan malam dengan Kayla? Pasti itu curiga, marah. Tidak mungkin aku berpikir kamu sedang berbisnis dengannya. Jadi apa alasan mu dengan bukti-bukti ini?"
"Aku bukan sedang berkencan dengan Kayla, Zia ..."
"Lalu? Aku di sini sendiri, sementara kamu seenaknya makan malam dengan dia? Jangan mempermainkan aku lagi, Han. Jika memang tidak bisa bersama, lebih baik pisah."
"Zi! Aku juga sudah bertekad memperbaiki hubungan kita. Jangan sembarangan mengatakan pisah."
"Jadi tujuanmu apa?" tentangku tidak sabar. Jika awal pernikahan aku hanya diam dan merasa sedih, kali ini harus tegas.
"Ini menyangkut kalian berdua," kata Han dengan tatap wajah serius, tapi sendu.
"Berdua?" tanyaku dengan degup jantung bertalu kencang. "Apa maksudmu, Han?"
"Jika aku menolak undangan makan malam, Kayla akan mengumumkan pada publik soal hubungan kalian berdua. Kisah cintamu dengan Gara." Aku tahu Han bicara fakta. Memang sempat ada kisah cinta di antara aku dan adik ipar, tapi kini terasa seperti tengah menamparku.
"Jadi maksudmu kau melindungiku sekarang? Atau kau menutupi kekeliruan mu?"
"Aku harus menutup kisah itu. Bukan publik yang aku khawatirkan, tapi kamu. Terutama keluargamu." Aku terdiam mendengarnya. Kakiku melangkah untuk kembali duduk. Kisah Gara dan aku memang harus di sembunyikan. Lalu, apa pendapatmu jika tahu bahwa kisah kita harus di hapus dalam riwayat benakku, Ga? Kamu pasti marah.
**
__ADS_1