
“Enggak apa-apa. Aku hanya membantu sedikit. Selebihnya tetap bibik kok,” kilah Zia berharap dia mengerti.
“Aku senang kamu mengerjakan sesuatu yang menjadi kesukaanmu, tapi aku tetap cemas.” Sorot mata Hanen menunjukkan dia serius mengatakan itu. Zia memberikan senyum padanya guna menentramkan hatinya.
“Tunggu sebentar. Sedikit lagi dan ... Selesai.” Zia tersenyum pada Hanen.
Zia merasakan lega yang luar biasa. Tatap mata Han yang cemas juga ikut menyiksanya tadi. Dia terus saja bergumam menunjukkan kekhawatirannya.
“Bik, tolong piring,” pinta Zia. Bibik mengambil piring saji dan di sodorkan padaku. Zia menuangkan sayur itu ke atas piring. “Tolong bereskan ini ya?” pinta perempuan ini pelan. BiBik mengangguk.
Meskipun Zia terlihat jahat karena meninggalkan bekas masak agak banyak, tapi bibik terlihat lebih nyaman daripada saat aku memaksa masak saat Hanen kurang setuju. Beliau menghela napas lega.
Lalu kaki Zia mendekat ke meja makan seraya membawa makanan itu. “Kita akan sarapan bareng,” kataku saat sudah berada di dekatnya.
“Ya. Aku sudah tidak tahan melihatmu terus memasak. Aku takut kamu kelelahan,” kata Hanen seraya mengulurkan tangan menyentuh garis wajahku. Bibirku tersenyum tipis.
“Tidak. Aku ini kuat,” kata Zia. Hanen menganggukkan kepala dan tersenyum.
__ADS_1
“Aku tahu itu. Aku percaya.” Hanen tersenyum damai.
...***...
Tv di depan sofa ruang keluarga yang letaknya bersanding dengan meja makan, menyala. Awalnya semua baik-baik saja. Namun mendadak berganti dengan ketegangan saat sebuah berita muncul. Berita yang menggemparkan.
“ ... Menantu keluarga Laksana berselingkuh dengan adik ipar, Gara Laksana ...”
Deg!
“Zia! Kamu tidak apa-apa?” tanya Hanen cemas.
Bibirnya tidak menjawab. Dia diam. Tangannya masih mengambang. Dia sangat terkejut. Bahkan lebih dari kata terkejut. Tangannya mulai melipat menutupi tubuh. Hanen lihat tubuhnya gemetaran. Dengan cepat, dia langsung memutar untuk sampai di kursi Zia.
Hanne memeluknya. Bibirnya masih diam. Zia rasakan gemetar yang sangat hebat. Bahkan tubuhnya kini dingin.
“Zia,” panggilku seakan mencoba membuat ia tetap sadar.
__ADS_1
Hanen memeluknya lebih erat. Memberikan kehangatan pada tubuhnya yang benar-benar membeku. Dia menutup matanya sejenak merasakan hangat yang sepertinya menjalari tubuhnya.
“Ada apa ini, Han? Kenapa aib itu terkuak di publik?” tanya Zia dengan bibir bergetar.
“Aku akan mencari tahu, Zia. Sekarang tenangkan dulu dirimu," kata Hanen mencoba menenangkan istrinya.
Sekarang di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Bibik sepertinya membuang sampah keluar.
“Aku takut, Han. Aku takut aib ini akan membuat semua orang terluka. Bahkan bisa berpengaruh pada perusahaan milik keluargamu. Terutama kamu sebagai suamiku,” kata Zia ketakutan.
Ternyata yang dipikirkan Zia, bukan dirinya. Perempuan ini takut orang-orang di dekatnya terkena dampak dari berita yang menggemparkan itu.
“Jangan memikirkan yang lain. Cukup tenangkan dirimu. Tetap tenang di rumah. Aku akan menyelesaikan ini,” kataku masih memeluknya. “Aku harus segera menelepon ke pusat televisi itu,” kata Hanen.
Dering ponsel tiba-tiba di atas meja membuat mereka berdua menoleh bersamaan. Tidak tahu siapa itu, tapi sudah membuat suasana di ruangan ini makin tegang.
...____...
__ADS_1