
Gara mengajaknya makan malam. Memang tidak begitu mewah, hanya terasa indah karena Gara memperlakukannya istimewa. Mereka berdua makan malam di sebuah restoran kecil. Tidak begitu ramai seperti yang di inginkan Zia.
"Kamu suka?" tanya Gara. Zia mengangguk. "Baguslah." Gara tersenyum. Dia merasa puas bisa menyenangkan perempuan ini. Itulah tujuannya.
"Terima kasih," ujar Zia tulus.
"Hanya seperti ini aku tidak pantas menerima terima kasihmu."
"Tidak. Ini benar-benar sangat berharga bagiku. Aku tidak pernah merasakan kesenangan sedikitpun seperti ini. Han terlalu sibuk dengan Kayla." Gara mendengarkan. Sudut hatinya berkedut. Ada nama pria yang di sebut Zia. Itu membuatnya merasa tidak tenang.
"Jangan pikirkan yang lain. Pikirkan hanya kita berdua. Karena saat ini hanya ada kita berdua." Gara menyentuh pipi Zia dan menatap kedua bola mata perempuan di depannya.
"Maaf. Aku menyebut nama Han. Itu pasti mengganggumu." Zia tahu gurat tidak suka barusan.
"Aku tidak berhak merasa terganggu, tapi iya ... Aku tidak suka." Gara berterus terang.
"Maaf. Sepertinya aku membuatmu dalam situasi seperti ini. Padahal seharusnya kita ..."
"Ssstt ... tidak apa-apa. Terima kasih sudah muncul di depanku saat itu." Maksud Gara pasti malam itu.
...----------------...
Han tengah berada di dalam mobil bersama Kayla. Klien yang dia temui adalah teman wanita ini. Jadi dia tidak mengajak Gara dan justru menemani klien itu dengan Kayla. Awalnya dia tidak menduga Kayla akan muncul juga.
"Terima kasih sudah mau bekerja sama dengan temanku, sayang ..." Kayla memeluk lengan Hanen yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Aku mau bekerja sama bukan hanya karena dia temanmu, tapi karena mereka punya potensi produk yang bagus ke depannya," bantah Han.
"Iya, iya. Enggak mau banget di bilang ini terjadi karena aku adalah orang yang kamu cintai." Kayla tersenyum manja sambil menyisir rambutnya dengan jari.
Saat itu bola mata Han melihat seseorang di sebuah restoran kecil. Zia dan Gara! Langsung saja Han membelokkan mobilnya ke arah restoran yang terletak di seberang jalan tanpa pikir panjang.
"Kita mau kemana, Han?" tanya Kayla bingung. Pelukannya pada lengan Han terlepas karena belokan mobil yang tajam. Bibir Han bungkam. Dia tidak menjawab. Dia ingin segera menemui mereka berdua. Untung saja jalanan di saat ini tidak begitu ramai. Han bisa mempercepat laju mobilnya untuk mencapai tempat Zia dan Gara.
Sesampainya di sana. Han langsung memberhentikan mobil secara asal. Untung saja tidak banyak pengunjung malam ini. Jadi mobil tidak terlalu mencolok jika di parkir dengan asal. Han keluar dari mobil dan berjalan mendekati mereka yang sepertinya hendak pergi. Kayla mengikuti Han keluar dari mobil juga. Tubuhnya mengikuti ritme jalan Han yang di percepat.
"Zia," tegur Han. Zia yang sedang bergandengan tangan dengan Gara terkejut.
"Han?" Zia terperangah mendapati pria ini muncul di sini. Kayla yang berada di belakang Han mulai memelankan langkahnya. Lalu melihat Zia dan Gara yang sedang bergandengan tangan.
"Apa-apaan ini, Ga?" tanya Han dengan napas memburu. Bola matanya melirik ke arah tangan mereka. Bukan bertanya pada Zia, Han justru menegur adiknya. Zia ingin melepaskan pegangan tangan Gara, tapi pria itu menahannya. Akhirnya Zia diam.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Gara tegas. Dia tidak terlalu peduli dengan kemunculan kakaknya yang tak lain suami dari Zia.
"Aku menyayanginya, Han," ungkap Gara tanpa basa-basi. Kayla membeliakkan mata tercengang mendengar pengakuan adik Han.
"Kau tahu siapa dia? Dia istriku! Dia tidak berhak kamu sayangi kecuali sebagai kakak ipar. Tidak ada hubungan yang pantas untuk kalian berdua selain adik dan kakak ipar!" Han tidak bisa lagi menahan diri.
"Lalu? Dia siapa?" Gara menunjuk Kayla yang berdiri di belakang Han dengan dagunya. Kayla mengerjapkan mata ikut di bawa dalam pertengkaran ini.
"Jangan mengalihkan pembicaraanku, Gara. Aku sedang bertanya tentang kalian berdua," desis Han.
"Jika begitu, Zia juga pantas bertanya soal hubungan kalian berdua."
__ADS_1
"Kamu sengaja ingin melawanku, Ga? Kakakmu ini?" Mata Han melebar marah.
"Awalnya tidak. Aku tidak mau berurusan dengan keluarga Laksana. Kamu tahu aku sudah pernah keluar dari rumah untuk lepas dari keluarga Laksana. Namun, jika sekarang aku punya perhatian dan sayang pada Zia itu akan menjadi lain."
"Kamu tahu dia istriku, kan?" tanya Han berang. Sekali lagi pertanyaan itu di ulang. Zia yang mendengar menjadi kesal.
"Hanya istri di atas kertas," sahut Zia seraya mendengkus. "Jangan lupakan hal itu Han. Aku hanya sebagai boneka untukmu." Zia ikut bicara. "Sebaiknya kita pergi. Akan banyak orang yang melihat kita bertiga," ajak Zia ingin menghentikan kehebohan ini.
Bug! Tiba-tiba Han langsung melayangkan pukulan pada wajah Gara.
"Gara!" teriak Zia histeris. Dia langsung memegang bahu pria ini. "Gara, kamu tidak apa-apa? Han, apa yang kau lakukan?!" tanya Zia marah.
"Aku sedang memukul pria yang mengusik istriku. Dan kamu ..." Han menarik lengan Zia untuk mendekat ke arahnya. "Kamu ini istriku. Tidak pantas jika kamu bergandengan tangan dengan pria lain! Apalagi dia adikku."
"Jangan bicarakan hal pantas atau tidak, Han. Kamu sendiri berkencan dengan wanita lain saat aku sudah menjadi istrimu. Bukankah berarti kita sama? Kita berdua ini sama buruknya. Jangan egois!" teriak Zia.
"Walaupun begitu, aku lebih berhak mengatur hidupmu. Karena aku suamimu yang sah!" Zia berusaha melepas tangannya dari pegangan tangan Han, tapi sulit. "Ikut aku."
"Aku bagaimana, Han?" tanya Kayla yang masih di sana kebingungan. "Kamu akan meninggalkanku disini?" Kayla menatap Han tajam. Kemudian bersidekap. Dia bermaksud merajuk demi mendapatkan perhatian dari pria ini.
"Jangan bermanja-manja denganku sekarang, Kayla. Aku tidak sedang dalam keadaan baik hati." Kayla terkejut Han menolaknya. Sorot mata Han berubah tajam dan dingin kepadanya. "Kita berpisah di sini. Lain waktu kamu bisa temui aku, tapi tidak malam ini. Suasana hatiku sedang buruk." Han membawa Zia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Kayla tetap di sana bersama Gara.
Kayla mengerjapkan matanya berulang kali. Dia seperti sedang mendapat tamparan keras. Linglung. Ada apa ini?
"Apa-apaan itu? Kenapa aku di tinggalkannya begitu saja." Kayla menautkan alisnya kebingungan dan kesal. Gara yang sempat terjatuh tadi segera bangkit dan mendekati mobilnya. "Bisa kamu antarkan aku ke apartemenku, Gara?" tanya Kayla meminta bantuan Gara.
"Aku tidak terlalu mengenalmu. Lebih baik panggil saja pria lain yang sudah jelas-jelas mengenalmu." Setelah mengucapkan kalimat penolakan itu, Gara pergi dengan mobilnya meninggalkan Kayla sendirian di sana.
__ADS_1
"Kurang ajar mereka berdua! Awas saja nanti! Aku akan membuat perempuan itu menderita," desis Kayla marah.