
Azra...aku ingin pulang...!" Ucap Annya yang meronta dari pelukan Azra dan menyudahi ciuman yang Azra paksakan.
"Annya...jadilah pendampingku yang selalu disisiku, agar aku selalu bisa melindungimu...aku janji aku akan memberikan segalanya untukmu...aku akan menjadi lelaki yang paling bisa kau andalkan...aku janji Annya!"
Ucap Azra begitu saja yang membuat Annya seketika terhenti dari langkahnya yang akan pergi meninggalkan kamar yang ia tempati dan Azra.
"Kau yakin Azra? kau yakin akan apa yang kau katakan barusan? meskipun aku memintamu untuk membalaskan dendamku? untuk menghancurkan Rama dan sekutunya? dan membuat jera orang yang telah mencampakkanku dengan keji, serta membuat kedua orang tua ku mati dengan mengenaskan!?" Ucap tanya Annya dengan serius nya, namun Azra hanya terdiam membisu, ia tahu betul selama itu yang Annya rasakan dan lalui, sepahit apa kehidupan yang Annya jalani, tapi walau bagaimanapun, Azra tak ingin dihati Annya di liputi dendam dan balasa dendam, Dan Azra tak ingin Annya yang polos menurutnya itu, menjadi Annya yang tidak ia kenal, karena balas dendam bukanlah balasan yang tepat untuk orang yang telah menjahatinya.
"Annya...apakah hanya balas dendam yang ada di pikiranmu saat ini? apakan tidak ada sedikit saja perasaan tulus untuku?" Tanya Azra yang mencoba menghilangkan perasaan ingin membalas di hati Annya.
"Sudah ku bilang Azra....aku tidak percaya lagi tentang hubungan! apa lagi tentang cinta!" Ucap Annya yang benar benar dari lubuk hatinya, meski ia tahu...Azra mungkin tulus menginginkannya, namun hatinya terlanjur mati, terlanjur pilu, bahkan untuk terbuka pun mungkin tak akan bisa dengan mudahnya, semua itu bukanlah kemauan Annya, namun kejadian pahit yang ia alami, dan keadaan yang memaksanya, dan mengharuskanya.
Sesaat Azra terdiam dan mematung di tempatnya, seluruh tubuhnya seakan tanpa tenaga saat mendengar apa yang Annya katakan, bahkan lidahnya seakan kelu seketika, Azra paham benar apa yang membuat pintu hati Annya tertutup, karena ia pun pernah mengalaminya, dan Azra pun tak mampu membuang perasaan hancurnya itu begitu saja, butuh waktu lama hingga bertahun tahun Azra menguatkan hatinya, mengokohkan jiwanya, sampai ia berada di titik mampu untuk merelakanya.
Bahkan mungkin sampai saat itu pun Azra tidak bisa percaya akan adanya pernikahan yang mampu menjaga dua insan yang saling mencintai dalam suatu hubungan, namun Annya tidak tahu akan hal itu, Azra hanya mampu mengalihkan pikiran yang selalu mengganggu dan membelenggunya saat masa masa kelam itu dalam dalam, namun tidak mampu untuk melepas atau merelakanya.
Dimana saat itu, karena terlilit hutang, ayahnya tega meracuni adiknya yang masih sangat balita, dan ibunya hingga mati mengenaskan, dan setelah nya sang ayah bunuh diri dengan menenggak racun yang sama, hingga meninggal pula, mungkin jika saat itu sang adik dan dirinya ada disana, pastilah akan mati pula bersama sama, tak ada saudara yang mau menampungnya, menampung anak yang ditinggali hutang oleh kedua orang tuanya, tak ada rumah yang Azra dan sang adik tinggali, semua telah di sita untuk gadai hutang kedua orang tuanya dan itu pun masih kurang, bahkan Azra sengaja melarikan diri agar tidak ada yang mengenalinya, ketakutan, kesedihan, tidak lah berguna, saat melihat sosok garang yang mendekat yang Azra kira akan membawanya dan sang adik, bahkan Azra takut jikalau ada yang akan memisahkanya dengan sang adik saat itu, mungkin ia hampir gila pula.
__ADS_1
Sampai...Azra yang hampir remaja bertemu dengan Annya Bintara, barulah ia mengerti, ia harus berjuang untuk hidupnya, dan hidup adiknya yang menjadi tanggung jawanya.
Kisah kelam yang Azra alami lebih mengerikan di banding kejadian yang Annya alami, namun Azra bisa mengerti akan hal itu, ia tidak ingin menuntut apapun dari Annya, tidak mengeluh apapun dari sikapnya, dari perasaan gadis itu, ia tidak ingin memanfaatkan rasa simpati dan cintanya agar mendapatkan hati Annya.
"Makan lah dulu baru aku antar kembali Annya...aku sudah memasakkan pasta untukmu, mungkin kau akan menyukainya." Ucap Azra, hingga Annya merasa sikap Azra barusan menjadi dingin dan tidak bersahabat padanya, dan tatapan yang Annya lihat, sulit ia artikan hingga membuat nya sedikit ketakutan di sana.
Azra lalu turun terlebih dahulu dari lantai dua, barulah di susul Annya yang mengekori di belakangnya.
Keduanya kemudian berjakan menuju ke meja makan, tidak lupa Azra dengan ramahnya menarikkan kursi untuk di duduki Annya, dan Annya pun dengan senang hati turut duduk di sana, meski Annya merasakan sikap lelaki tampan di hadapanya itu menjadi berubah agak dingin.
"Iya...aku selalu memasak makanan yang aku makan sendiri." Uap Azra kini dengan nada dingin dan tidak bersahabat nya. namun Annya mulai bisa mengerti, mungkin itu karena penolakan Annya barusan.
Lalu Annya pun tanpa pikir panjang melahap habis hidangan yang rasanya benar benar luar biasa nikmat nya itu, ia ingin segera pergi dari rumah mewah tersebut, terlebih lagi dari depan lelaki tampan yang baru mengutarakan perasaanya padanya tadi.
Akh...kenyangnya..." Ucap Annya yang benar benar merasa puas akan masakan yang Azra buat untuknya.
"Jika kau ingin pulang...pak supir dan mobil sudah aku suruh menungguimu di luar...jika kau mau tinggal dan istirahat disini lebih lama pun silahkan, aku tinggal dulu ke ruang kerjaku,"
__ADS_1
Ucap Azra begitu saja, dan berlalu pergi meninggalkan Annya yang tengah bengong tanpa jawaban atau kata kata dan Annya hanya menatapnya dari belakang.
Azra berjalan menuju lantai atas ke ruang kerjanya, hingga sikap dingin Azra membuat Annya salah paham denganya.
"Akhir nya...muncul juga sifat aslimu Azra Adi Admaja...! keaslianmu tadi yang kau balut dengan ucapan lembut dan tingkah halus sebelumnya, yang aku kira itu nyata, nyatanya...hanya omong kosong belaka, lelaki semuanya sama!" Ucap dalam hati Annya.
"Baiklah aku pergi sekarang...terimakasih tuan Azra..." Ucap Annya kemudian berlalu pergi bagitu saja, meninggalkan tempatnya, dan Azra yang ia lihat sudah sampai lantai atas.
Dan sesaat Azra menoleh ke arah Annya yang sudah benar benar pergi, hatinya begitu sakit...sangat sakit...kenapa ia sampai se tidak suka itu saat Annya ingin balas dendam pada mantan suaminya.
"Akan aku lakukan apa yang kau inginkan Annya...apapun itu...!" Ucap dalam hati Azra dengan mata terus menatap punggung Annya yang semakin menjauh...jauh...dan hilang dari pandanganya karena Anya sudah masuk ke dalam mobil.
Tanpa terasa tiga bulan sudah Azra tidak terlihat mengunjungi Annya, dan Annya juga tidak melihat laki laki yang biasanya di suruh Azra membeli lukisan lukisannya.
Entah mengapa di hati Annya sedikit ada rasa sedih di sana, mungkin ia kelewatan atau mungkin Azra benar benar sakit hati dengan tolakan yang ia lakukan.
Hingga...siang itu, Azra sendiri datang mengunjungi Annya di tempat lapaknya dengan membawa pasta yang terakhir kali Annya makan dengan lahap nya.
__ADS_1