
Zia menundukkan wajahnya. Menunjukkan bahwa dirinya enggan bicara. Gara mulai menjauhkan tubuhnya berjalan menuju meja dapur. Perempuan ini menghela napas lega.
Suap demi suap, Zia menghabiskan alpukat-nya dengan pelan. Dia tidak ingin belepotan lagi dan mengulang kejadian yang sama tadi.
Setelah melakukan sesuatu disana. Sepertinya membaut jus. Gara muncul dengan mangkuk dan gelas berisi alpukat potong dan jus. Lalu menyodorkan gelas pada Zia tanpa bicara.
Pria ini memilih diam di kursinya dengan mangkuk. Akhirnya pria itu juga membuat alpukat potong yang sama. Bahkan topingnya pun sama.
Mereka masih di dapur. Tidak kemana-mana. Menunggu Rara yang masih berlama-lama di ruang tamu dengan kekasihnya.
“Kamu pasti tidak peduli aku berdebar atau tidak. Semua kenangan kita jadi tidak penting lagi karena kamu sudah bersatu dengan Han. Jika begini, sepertinya aku yang jadi pengganggu kalian," kata Gara. Zia masih diam. "Jika Hanen masih tetap dengan Kayla, apa kita masih bisa bersama Zi?" tanya Gara. Masih dengan topik yang sama.
Zia diam tidak ingin menjawab. Dia meraih gelas dan mengganti tempatnya dengan mangkuk buah yang kosong. Ia ingin minum jus buatan pria itu.
"Katakan saja apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang Zi," desak Gara tidak sabar.
Zia mendongak.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan terus bertanya tentang itu, Ga? Bukankah kita sepakat itu sudah usai?" Sekali lagi Zia mengingatkan. Karena pria ini terus saja mendesaknya.
"Tidak. Aku tidak pernah sepakat dengan itu. Aku terpaksa melakukannya. Terpaksa, Zi," kata Gara dengan sorot mata tajam. Di sana berisi marah dan sedih.
"Maafkan aku Ga. Sudah membuatmu terluka. Aku yang memulai, tapi aku yang memilih menjauh dan melukai. Aku egois. Maaf, Ga. " ujar Zia sungguh-sungguh dengan bola matanya yang berkaca-kaca.
“Bahkan meskipun Hanen masih dengan Kayla, kamu tetap memihak padanya.”
“Lalu? Hanen menyerah begitu saja? Membiarkan dia di permainkan wanita itu begitu saja? Itu sungguh pengecut Zi,” kata Gara tajam.
“Hanen melakukan itu demi aku, Ga,” jelas Zia.
“Demi kamu? Apa yang ia lakukan sampai kamu berpikir dia menemui mantan kekasihnya lagi saat istrinya mengandung karena kamu? Itu tidak masuk akal, Zi!” Gara marah. Matanya tajam dan sedikit merah
“Hanen menuruti permintaan Kayla untuk bertemu, demi skandal yang sudah aku buat dengan mu,” tunjuk Zia tegas. Gara langsung tertegun. “Hanen tidak ingin publik tahu soal itu karena ingin menjaga nama baikku. Di melakukannya karena peduli padaku, Ga.” Zia menunjuk dirinya sendiri dengan sedih yang tertahan. “Aku tidak ingin keluargaku sedih dan malu karena tahu aku punya skandal dengan adik ipar suamiku.
__ADS_1
Gara diam.
“Kalau boleh aku jujur. Aku ingin publik tahu bahwa kita punya hubungan spesial, Zia,” kata Gara lirih.
“Gara!”
“Aku lebih memilih semuanya tahu tentang aku dan kamu yang saling mencintai,” ulang Gara emosional.
“Itu sudah lama, Ga,” ujar Zia dengan suara lirih. “Kamu berjanji tidak akan membahas itu lagi.”
“Walaupun kamu membuang ku demi kembali menjalin rumah tangga dengan Hanen, perasaan ku tetap sama. Aku masih mencintaimu, Zia.”
Zia akhirnya diam seraya menggigit bibir bawah guna menelan rasa bersalah yang teramat dalam pada pria ini. Juga menahan derai air mata yang sepertinya akan membanjiri wajahnya sekarang.
...____...
__ADS_1