
"Kita berdua pasti bertemu dengannya. Karena kita dalam satu rumah barusan." Zia memilih menjawab dengan diplomatis. Dia tidak berbohong. Dia memang bertemu dengan Gara. Hanya saja dia tidak mengatakan secara langsung bahwa dia bertemu pria itu hanya berdua. Dia ingin menyembunyikan pertemuannya dengan Gara.
Hanen diam saja mendengar jawaban Zia barusan.
"Dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak jujur," ucap Hanen di dalam hati. Setelah itu tidak ada pembicaraan lain. Hanen memilih terus fokus dengan mengemudinya. Sementara Zia melihat keluar jendela di sampingnya. Merasa bersyukur pria itu tidak bertanya-tanya lagi.
Mobil sampai di depan rumah dengan kesunyian panjang yang mendera mereka berdua. Zia dan Han keluar dari mobil hampir bersamaan. Perempuan ini tertinggal karena langkah Hanen yang lebar. Hanen berhenti tepat di depan pintu. Lalu menolehkan kepala ke Zia. Menunggu perempuan ini mendekatinya karena Zia yang memegang kunci rumah.
Melihat itu, Zia mempercepat langkahnya sambil mengeluarkan kunci pintu rumah dari dalam clutch bag-nya. Kemudian memasukkan ke dalam lubang kunci hingga pintu berhasil di buka. Han melangkah masuk setelah Zia masuk terlebih dahulu.
Setelah menutup pintu dan menguncinya lagi,
Zia masuk ke dalam kamar. Han sudah berada di dalam sambil membuka kancing kemejanya dengan pelan. Zia meletakkan clutch bag-nya di atas meja, setelah itu menghampiri Han. Mengulurkan tangan berniat membantu pria ini membuka kancing tanpa bicara.
Han yang mengerti maksud Zia, melepaskan tangannya dari kancing kedua yang hendak di bukanya. Lalu memberi kesempatan bagi Zia untuk membantunya. Dengan sedikit merunduk, Zia mulai membuka kancing.
Bola mata Hanen tidak lepas dari wanita di depannya. Dia terus saja menatap Zia dengan banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin di lontarkan. Namun entah mengapa dia tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Dia hanya mampu menatapnya saja.
Ketika Zia sudah selesai melepaskan kancing, Hanen tetap tidak dapat bicara apa-apa.
"Kamu ingin meminum sesuatu sebelum tidur?" tanya Zia seraya mendongak. Namun Hanen diam saja dengan tetap menatap ke arah dirinya. Melihat tatap mata Hanen seperti itu, Zia menelisik. "Han ...," ujar Zia berusaha membuyarkan lamunannya.
Bola mata Han mengerjap. Dia mulai sadar dari berbagai macam pikiran yang berkecamuk di otaknya.
__ADS_1
"Ya?"
"Kamu melamun barusan. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Zia seraya menyentuh pipi Hanen. Hanen tersenyum kemudian.
"Banyak. Banyak yang harus aku pikirkan." Han juga tidak ingin jujur soal dirinya yang melihat Zia dan Gara di balkon. "Termasuk memikirkan istriku," sambung Hanen berganti menyentuh tangan Zia dan menciumnya.
"Memikirkan aku ya ...." Zia tersenyum tersipu.
"Benar." Kini Hanen menarik pinggang Zia untuk lebih dekat dengannya. Kemudian memeluknya dengan erat. Zia membalasnya.
Entah mengapa, aku merasa malam ini pelukan Hanen terasa berbeda. Pelukan ini seakan ingin menahan ku, agar tidak menjauh. Apakah aku terlihat ingin menjauh darinya?
Han mendaratkan ciumannya pada tengkuk Zia. Sentuhan bibir Han di tengkuknya begitu dingin. Hawa malam yang dingin membuat sekujur tubuh membeku. Zia mempererat pelukan.
"Kamu kedinginan," ucap Zia.
Hasrat Hanen kepadanya tiba-tiba muncul. Zia tahu apa artinya itu. Han sedang menginginkannya. Sekarang. Zia ikut terlena dengan gigitan-gigitan kecil yang membuatnya berkali-kali menggeliat.
Hanen yang tadinya hanya ingin menguji apakah wanita ini masih mau di peluk dan di ciumnya, mulai terpancing dengan gerak tubuh Zia yang terlihat menggoda.
Meski mendadak, Zia tidak menolak. Dia membiarkan Hanen melakukan apapun yang di diinginkannya. Pun saat Hanen membawa tubuhnya ke atas ranjang dan melucuti kain yang menutupi seluruh tubuhnya. Keinginan Han sudah tidak tertahankan. Pada akhirnya pria itupun melakukan pelepasan dengan tuntas tanpa hambatan dari dirinya seperti malam yang pernah di lewati mereka. Seakan sebagai tebusan rasa bersalah karena dia sudah melakukannya lagi dengan Gara.
...----------------...
Suara ciap-ciap burung terdengar dari luar jendela. Itu menunjukkan bahwa mereka siap menjalani aktivitas di pagi hari. Namun berbeda dengan pria yang tengah tertidur di atas ranjangnya berukuran besar itu. Tubuh pria itu masih terbaring tidak beraturan.
__ADS_1
Meski berselimut, tapi itu hanya tertutupi sebagian tubuhnya saja. Fungsi selimut tidak lagi sebagai pelindung tubuh dari serbuan rasa dingin yang menyerang, tapi hanya sekedar aksesoris yang di letakkan begitu saja di atas badan.
Semua ini bukan tanpa sebab. Gara tidur dengan berantakan karena rasa mabuk semalam. Dia minum beberapa gelas karena gundah melihat Zia muncul di hadapannya, tapi tidak dapat di sentuhnya. Setelah itu dia meneguknya lagi setelah merasa frustasi sudah menghujamkan pusat dirinya pada wanita itu. Hingga membuat air mata wanita itu meleleh.
Rasa bersalah kian besar melihat itu. Gara marah pada dirinya dan juga gusar melihat Zia seperti tidak bisa memaafkannya.
Saat suara ciap burung justru sebagai pendendang tidurnya, suara keras bergema di dalam kamar. Kemungkinan itu suara alarm ponsel yang berteriak lantang karena ingin si empu terbangun dari tidur. Ini berhasil karena tangan Gara mulai meraba-raba ke arah suara alarm.
Klik.
Alarm berhasil di atasi. Ruangan sunyi lagi karena tidak ada pengganggu. Gara menggerak-gerakkan kelopak matanya perlahan. Matanya serasa sangat sulit untuk terbuka. Meskipun akhirnya bisa terbuka sedikit, panas mentari yang masuk dari celah-celah kecil gordennya menyilaukan matanya. Sampai-sampai, matanya sulit melebar karena masih membutuhkan waktu beberapa detik hingga mata itu terbiasa.
Perlahan tubuhnya bangkit untuk duduk.
"Arrggh ...," erang Gara saat berhasil setengah duduk. Tangannya memegang kepalanya yang sangat berat. Itu sakit kepala karena alkohol yang di tenggaknya semalam.
Menenggak banyak alkohol tanpa disadari membuat tubuh jadi dehidrasi. Rasa pusing yang dirasakan saat bangun merupakan sinyal yang disampaikan otak untuk meminta asupan cairan lebih.
Maka setelah mencoba menenangkan diri, Gara bangkit masih dengan tangannya di atas kepala memijit kepala. Mencari botol air untuk minum agar sedikit meredakan hangover yang dirasakannya.
Gara ingin ke kamar mandi. Namun cermin di depannya membuat tubuhnya berhenti sekaligus tertegun menatap dirinya sendiri. Wajah lelah karena marah dan rasa bersalah terlihat di sana.
"Bodohnya kau Gara! Dia tidak bahagia dengan perlakuan buruk mu. Kau pikir kau adalah segalanya baginya, hah?!" Gara di mencemooh dirinya sendiri di depan cermin. "Meskipun begitu, meskipun dia masih mencintaimu, bukan berarti kau bisa memperlakukan dia seenaknya! Bodoh! Brengsek! Aargghh!!"
Prang! Teriakan Gara terdengar bercampur dengan suara pecah yang keras barusan. Gara marah dan sengaja menghantam keras cermin di depannya. Darah segar mulai mengalir dari kepalan tangannya. Napas Gara juga terengah-engah.
__ADS_1
Gara mencoba memejamkan mata sebentar. Merasakan semua sesal yang menderanya. Teringat dengan jelas air mata Zia yang menetes membasahi pipinya. Wanita itu terluka justru karena ulahnya. Mulut Gara menggeram. Mencibir kesal mengingat kebodohan yang sudah di dilakukannya.