Getir

Getir
Bab. 77


__ADS_3

“Aku hanya membantu kamu mencuci tangan. Tidak mungkin kamu bisa menggerakkan tanganmu dengan benar kalau mata itu tertutup Zia,” ujar Gara. Sepertinya dia berusaha menjelaskan agar Zia tetap tenang.


 


Dengan lembut ia membasuh tangan Zia yang terkena busa sabun. Walaupun dia berniat menunjukkan bahwa dia tidak ingin memanfaatkan keadaan, tapi nyatanya dia memang bahagia.


 


Dalam situasi matanya yang sedang tertutup, Zia membeku. Jantungnya berdegup kencang. Dadanya berdesir. Tangan kekar Gara menyentuhnya jari-jarinya perlahan.


 


“Sudah. Kamu bisa membersihkan matamu,” kata Gara melepas tangan Zia dari pegangannya. Tangan Zia naik ke atas perlahan. Kemudian mengucek matanya guna mengusir rasa perih karena sabun pencuci piring.


 


Rasa perih berkurang. Hingga Zia sudah mampu membuka mata perlahan. Yang pertama kali di lihat adalah senyum Gara yang lega tidak merasakan perih di matanya.


 


"Akhirnya perihnya hilang," kata Gara.


 


"Ya," sahut Zia menunduk. "Ssssh," desis Zia kesakitan tiba-tiba. Perempuan ini merasa ada yang sakit di perutnya.


 


"Zia, kamu kenapa?" tanya Gara panik.

__ADS_1


 


"P-perut ku sakit." Zia memegangi perutnya.


 


"Ayo, kita duduk Zi." Gara membimbing tubuh perempuan ini untuk duduk di kursi makan. "Kita ke rumah sakit sekarang." Gara sudah siap. Kepala Zia menggeleng. “Kita tidak tahu kenapa janin kamu, Zi.” Gara memaksa, tapi perempuan ini tetap tidak mau.


 


“Aku tidak apa-apa. Ini kadang terjadi. Mungkin saja, aku lelah,” jelas Zia tidak ingin merepotkan.


 


“Aku ambilkan air, agar kamu tenang dulu." Setelah membimbing Zia duduk, Gara kembali menuju meja dapur. Ia mengisi gelas Zia tadi dengan air. Lalu segera kembali ke Zia. “Minumlah.” Zia patuh.


 


 


“Mungkin,” sahut Zia lirih. Gara sedikit terkejut bahwa tebakannya benar. Lalu tersenyum pada akhirnya. Apalagi Zia sepertinya malu kalau ternyata sakit perutnya karena kelaparan.


 


“Atau karena tidak segera makan alpukat itu?” tunjuk Gara iseng pada buah alpukat yang sudah di kupas.


 


Mungkin saja. Karena tadi aku sangat ingin makan buah alpukat, batin Zia. Namun tentu saja ia diam. Gara mengambilkan mangkuk berisi buah alpukat yang sudah di potong. Membawanya ke meja lengkap dengan saus cokelat kental manis dan bubuk susu cokelat.

__ADS_1


 


“Ini. Makanlah.”


 


Tanpa mengatakan apa-apa, Zia langsung menyendok alpukat dengan toping bubuk cokelat itu. Perutnya terasa nyaman. Sepertinya bisa dipastikan ini buah favorit bayinya.


 


“Makannya pelan-pelan saja. Walaupun itu favoritku, aku tidak akan merebutnya darimu,” nasehat Gara dengan berkelakar. Zia menipiskan bibir mendengar itu. Pria ini pun ikut duduk. Namun sepertinya Zia jadi kalap karena telat makan buah dan sekarang keenakan. Hingga belepotan kemana-mana. “Kenapa makannya mirip anak kecil.” Tubuh Gara condong ke depan.


 


Tubuhnya membeku tatkala Gara mengusap sisa buah di pipinya.


Karena tubuh Gara begitu dekat dengannya, Zia sampai terkesiap. Dia sempat menahan napas beberapa detik karena terkejut. Sentuhan Gara, lagi-lagi membuat Zia berdebar.


 


Saat itu tatapan mereka beradu. Gara sadar bahwa wajahnya terlalu dekat dengan Zia. Bola mata Zia kebingungan. Lalu perempuan ini memilih menundukkan pandangan. Menatap mangkuk di atas meja. Dia tidak berkutik.


 


“Sampai sekarang aku masih berdebar, Zi. Kamu tahu?” kata Gara membuat Zia merasakan detak jantungnya terdengar lebih keras daripada biasanya. “Bukan hanya karena kita sekarang sedekat ini. Melihatmu dari jauh saja aku masih berdebar-debar. Bagaimana denganmu?”


 


Zia tidak menjawab. Itu pertanyaan yang menjerumuskan untuknya. Jalan pas adalah diam. Tidak perlu menjawab.

__ADS_1


...____...



__ADS_2