
"Alasan apa yang bisa menjelaskan tentang semua itu? Itu sudah jelas."
"Ya. Memang laki-laki langsung bernafsu saat melihat tubuh perempuan. Apalagi saat dengan suka rela mereka memberikan tubuhnya untuk di tiduri." Gara mendengus. Tersenyum seraya mencemooh dirinya sendiri. "Maaf, jika aku ternyata menyanggupi keinginan gilamu itu. Maaf, jika aku sudah memenuhi keinginanmu untuk di hangati."
"Itu bukan salahmu. Itu salahku." Aku membuang muka. Permintaan maaf Gara seperti menamparku. Aku yang menawarkan tubuhku, dia yang meminta maaf sudah meniduri ku. Pembicaraan ini sungguh tidak masuk akal.
"Namun perlu kamu tahu," lanjut Gara. "Aku tidak akan menyanggupi dan terlena oleh sentuhan maupun ciuman perempuan lain semudah itu. Aku terperdaya karena itu kamu. Karena kamu adalah Zia ..." Aku tertegun. Lalu membuang muka kalah. Karena Gara menatapku dengan tatapan hangat. Lebih hangat dan indah daripada saat Hanen menatapku dulu.
"Aku mencintaimu, Zia," ulang Gara membuatku frustasi. Dia tetap menyatakan perasaannya. "Mungkin bagimu, malam itu hanyalah pelampiasan kemarahanmu pada Hanen. Tidak ada makna apapun selain itu. Namun bagiku ... itu adalah malam yang mengesankan. Aroma tubuhmu masih melekat. Aku masih bisa mengingat."
Mendadak mataku nanar dan panas. Sekali lagi relung hatiku mampu tersentuh oleh kata-kata pria ini. Dia mampu memporak-porandakan hatiku. Gara mendekat membuat aku gugup dan memilih mundur ke belakang.
"Aku tidak bisa mencintaimu, Gara ..."
"Karena kamu mencintai Han? Karena kamu tidak mencintaiku? Apa?"
"Sudah jelas karena aku istri Han. Ini tidak tepat. Kamu dan aku tidak harusnya bersatu."
"Kalau begitu, lepaskan Han."
"Tidak mungkin, Ga."
"Jadi hanya karena itu kamu tidak bisa menerimaku. Berarti jelas bukan karena kamu tidak mencintaiku, kan?" kejar Gara membuatku kebingungan.
"Aku tidak tahu. Aku ..." Tiba-tiba saja bibir Gara sudah menempel di atas bibirku. Mengecup bibirku kemudian. Menarik tubuhku untuk mendekat yang dimana, jarak tidak ada lagi di antara kita.
Anehnya, aku tidak berontak. Aku tidak bisa mendorong tubuh pria ini. Mataku terpejam. Ciumannya yang hangat begitu ku nikmati. Aku menyukai ciumannya yang begitu lembut tapi menggebu.
Gara melepaskan bibirku dan menatapku dalam. "Tolong perhatikan aku. Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku. Pria ini mulai selalu ingin berada di dekatmu."
"Ini rumit, Ga." Aku tertunduk lemah.
"Tidak." Gara menangkup kedua pipiku dan memaksaku menatapnya. "Aku tahu Han selalu bersama Kayla. Dia tidak mencintaimu. Ku harap kamu juga membuang pikiran cintamu padanya."
"Aku masih istri Han, Ga. Kamu tahu itu. Bagaimana bisa aku menerima pernyataan cintamu ini? Lalu ... bagaimana bisa kamu ..." Aku tidak bisa lagi meneruskan kata-kata. Tidak sanggup.
"Cukup pikirkan aku. Cobalah untuk mencintaiku." Gara memelukku. Aku hanya diam. Tidak tahu. Tidak tahu. Aku tidak bisa berpikir.
__ADS_1
Zia yang haus kasih sayang sedikit terlena dengan pernyataan cinta Gara. Pria yang lebih sering memberi perhatian padanya daripada Hanen suaminya. Hubungan terlarang sepertinya mulai terjalin pasti. Jika malam percintaan mereka adalah suatu kesalahan, tapi saat ini ... semua sentuhan fisik ini bukan karena amarah atau pelampiasan. Zia benar-benar menikmati ciuman dan pelukan Gara.
...Hanen POV...
.......
.......
.......
Bola mataku memperhatikan dia yang baru saja keluar dari ruang adikku. Ku lihat Gara juga masih di depan pintu seakan tidak ingin melepas Zia. Gara ... kamu seperhatian itu? Kenapa?
"Sayang ... kenapa melamun?" tanya Kayla sambil menepuk lembut pipiku. Pertanyaanya membuatku kembali sadar bahwa saat ini aku sedang berada di kamar Kayla. Bukan sedang di kantor dan memperhatikan Gara.
"Ya ...," jawabku malas.
"Kamu tidak semangat hari ini ..." Kayla merebahkan kepalanya di dadaku. Siang ini saat jam makan siang, aku mendatangi apartemen Kayla. Seperti biasa. Untuk membunuh rindu atau sekedar beristirahat di sini.
"Benarkah?"
"Tidak."
"Apa papamu membahas soal pewaris lagi?"
"Tidak. Papa tidak membahas itu. Mungkin mereka sudah memastikan bahwa aku adalah pewaris selanjutnya. Gara juga mengatakan bahwa kemungkinan aku yang di pilih papa sebagai pewaris tahta perusahaan."
"Benarkah?"
"Ya. Apalagi aku masih berstatus suami Zia. Salah satu syarat untuk menjadikanku sebagai pewaris masih ku genggam."
"Lalu aku? Bagaimana dengan aku, Han?" tanya Kayla mendongak. Menatapku dengan wajah berharapnya.
"Tunggu saja Kay. Setelah papa mengumumkan secara resmi bahwa aku adalah pewaris perusahaan, aku akan membuang Zia."
"Apa dia mau? Keluarga wanita itu bukannya kini sedang tergantung dengan donatur dari keluargamu? Apa mungkin dia mau meninggalkanmu ..." Kayla menegakkan tubuhnya.
"Jika aku sudah memutuskan, dia harus mau."
__ADS_1
"Cara apa yang kamu buat untuk membuangnya?"
"Aku belum menemukan cara, tapi tenanglah. Kamu akan berada di sisiku secara resmi saat dia aku buang dari daftar keluarga Laksana."
"Terima kasih Han. Aku mencintaimu." Mendengar ini Kayla mengecup bibir Han. Bukan kecupan biasa. Itu cumbuan panas yang membuat Han menggeliat gerah. "Ingin melakukannya?" tanya Kayla seperti sengaja memancingku. Tangannya menjalar kemana-mana. Membuat gairahku naik.
"Kamu tidak lelah? Bukannya kamu meminta ijin pada atasanmu untuk beristirahat?" Kayla menggeleng.
"Tidak. Untukmu aku merasa tidak pernah lelah ..." kata Kayla lembut seperti suara *******. Aku terpancing. Apalagi Kayla menelanjangi dirinya sendiri. Tentu saja membuat tubuhku panas dingin. "Nikmati saja aku untuk membunuh semua perasaan tidak nyamanmu." Wanita ini mulai bergerak menggodaku.
Aku merunduk dan menciumi lehernya. Desahannya semakin keras saat bibirku turun mendapati gundukan kenyal miliknya.
Benar Han. Seperti itu. Nikmati aku. Lupakan semua termasuk istrimu. Kamu harus selalu membutuhkanku. Hingga akhirnya aku bisa menjadi istrimu. Menjadi nyonya di keluarga Laksana yang kaya raya. Aku harus meraih posisi itu apapun caranya.
"Han ..." Tiba-tiba mendengung suara Zia di telingaku. Aku yang sedang menikmati tubuh Kayla terkejut. Berhenti dan menoleh ke seluruh penjuru kamar.
Di bawahku, Kayla membuka matanya dan melihatku heran.
"Kenapa, Han? Kenapa berhenti?" tanyanya bingung. Aku tidak menjawab. Dengan jelas aku dengar suara Zia tadi. Namun jika di lihat lagi dimana aku sekarang, sangat tidak mungkin perempuan itu berada di sini.
"Kita sudahi saja siang ini." Aku berangsur bangkit dan duduk. Membiarkan tubuh telanjang Kayla terlentang di atas ranjang. Karena aku duduk dan enggan melanjutkan permainan panas tadi, Kayla bangkit.
"Sudah? Ini belum kilmaksnya, Han. Bukankah kamu suka saat aku membuatmu *******?" tanya Kayla masih berusaha menggodaku untuk membangkitkan gairahku yang menurun.
"Tidak kali ini, Kay."
"Tidak? Kenapa?"
"Aku ingat ada meeting penting hari ini."
"Begitu ... Baiklah." Kayla tidak memaksaku lagi. Namun aku lihat dia setengah menggeram saat memunguti pakaian kami yang berserakan.
"Aku mau mandi." Kayla mengangguk. Dia menuju lemari dan memberikan handuk baru padaku. Lalu aku menuju ke kamar mandi dengan tubuh masih telanjang. Ku rasa Kayla memperhatikanku dari belakang punggungku. Ku abaikan itu. Aku ingin segera mandi dan kembali ke kantor.
Dia tidak menyelesaikan permainan kesukaannya? Sangat aneh dan baru. Namun dia bilang ada meeting penting. Mungkin itu yang jadi penyebabnya.
Kayla memakai kimononya untuk mandi setelah Hanen selesai.
__ADS_1