
"Kenapa bersusah payah, makan disini?" tanya Zia pada akhirnya. Menanyakan tujuan Han muncul di kantin.
"Makan siang bersama istri bukanlah hal yang aneh." Han menjawab dengan tenang.
"Itu aneh karena aku tahu bagaimana kamu," tuding Zia. Tentunya dengan suara pelan.
"Kamu terlihat sangat menikmati kebencianku padamu. Ada apa?" Han membuka topik yang membuatnya penasaran tadi.
"Apa?" Zia menautkan kedua alisnya.
"Aku juga tahu kamu. Kamu begitu marah dan terluka saat aku mengatakan aku tidak mencintaimu. Dunia seakan runtuh bagimu saat aku mengatakan kebenaran itu. Namun sekarang, kamu tidak lagi seperti itu." Han mengatakan itu dengan suara halus, tapi dengan sorot mata dingin.
"Jadi kamu lebih puas jika aku merasa tersakiti dan terpuruk karena ternyata suamiku tidak mencintaiku?" tanya Zia dengan mata menatap dingin juga.
"Mungkin."
Zia mendengkus. "Aku tidak harus selamanya seperti itu. Jika kamu bisa bersama denganku tanpa mencintaiku, kenapa aku tidak?"
"Jadi kamu mulai menghilangkan rasa cintamu?"
"Kamu yang meminta. Untuk apa aku mencintaimu yang ternyata punya banyak waktu dengan Kayla daripada denganku." Zia
"Kamu meminta waktuku?"
"Itu wajar jika kita benar suami istri yang sesungguhnya, Han. Jelas sekali jika seorang istri meminta waktu suaminya untuk selalu berada di sampingnya. Namun sayang ... kita bukan suami istri yang sebenarnya. Kita hanya menikah di atas kertas. Itu yang aku pahami darimu yang sudah memberitahuku bahwa kamu menikahiku bukan karena mencintaiku."
Han melihat Zia dengan lama. Melihat ini Zia melanjutkan makan siangnya. Dia tidak peduli pada Han. Makan siang dengan Memey sudah gagal. Dia tidak harus menggagalkan makanan masuk ke dalam perutnya. Dia harus makan meskipun ada Han yang entah kenapa terlihat aneh sekarang.
"Aku terbiasa melihatmu berusaha mendekatiku. Berusaha menjadi istriku meskipun aku tidak mencintaimu. Sekarang, saat aku melihatmu begitu dingin dan seakan segera menjauh, aku merasa aneh dan heran." Setelah mengatakan itu dengan lirih, Han mulai menikmati makan siangnya. Zia menatap Han dengan kesal.
Apa mau pria ini? Kenapa dia seakan terluka dengan sikap dinginku?
"Ga! Sini!" panggil Gege yang langsung membuat Zia menoleh cepat ke arah pintu kantin. Mata Zia dan Gara beradu. Mereka saling berpandangan. Gara memandang Zia lalu Han.
Ada sedikit rasa unik yang mengalir dalam darah Gara. Perasaan yang tidak biasa. Dia paham itu mungkin cemburu, tapi dia sadar kemudian bahwa saat ini tidak berhak cemburu.
__ADS_1
Zia menemukan sorot mata itu. Sorot yang mengatakan bahwa mengapa Han kini berada di sana. Pemandangan yang jarang terjadi.
"Kenapa berhenti makan?" tegur Han tiba-tiba. Zia terkejut. Apalagi saat kepala Han menoleh melihat ke arah yang sama dengan Zia tadi.
"Tidak," jawab Zia sekenanya saja. Mata Han menemukan Gara di sana.
"Ga! Kita makan bersama saja," pinta Han membuat Zia tidak tenang. Di dalam hati Zia berharap Gara menolak.
"Aku tidak mau mengganggu suami istri yang sedang makan siang," tolak Gara.
"Apa yang kamu bilang. Di rumah kita biasa makan bersama-sama meski aku sedang bersama istriku." Itu benar. Kata-kata Han memang benar.
"Baiklah." Gara menerima tawaran itu. Akan telihat aneh jika Gara memaksa menolak hanya karena ada Zia di sana. Doa Zia tidak terkabul. Gara mendekat ke arah meja mereka. Zia menunduk. Melihat ke arah
"Aku sangat jarang melihat kakak makan siang di sini," ujar Gara mengantar dirinya untuk duduk tepat di depan Zia.
"Ya. Sepertinya ini pertama kalinya aku berada di kantin perusahaan. Namun sepertinya aku akan sering makan di sini," sahut Han menanggapi keheranan adiknya. Zia meringis dalam hati. Jika itu benar, Han akan sering berada di sekitar perusahaan.
"Apakah jadwal makan siangmu di luar belakangan ini sudah selesai?" tanya Zia bermaksud menyindir. Han menoleh pada perempuan ini. Sepertinya Zia mulai berani menunjukkan bahwa hubungan mereka tidak rukun. Itu tercipta dari cara bertanya Zia yang sedikit dingin.
Bibir Han tersenyum. "Tidak. Jadwal makan siangku di luar kemungkinan masih ada. Karena banyak rekan bisnis yang mengundangku. Itu tidak boleh di abaikan bukan. Namun, aku akan lebih sering makan siang di sini jika tidak ada undangan semacam itu."
Zia memilih menyelesaikan makan siangnya yang suasananya kini justru lebih sesak daripada tadi. Di depannya ada dua pria yang ada hubungan erat dengannya. Yang satu adalah suami yang hanya menikahinya tanpa cinta. Sementara yang satu, pria tempat pelampiasan hatinya yang kacau balau. Dan kemungkinan hatinya sedang menuju ke arah pria itu.
"Kak Zia tampak bersemangat menghabiskan makanannya," ujar Gara mengomentari Zia yang memilih fokus pada sepiring makanan. Han menoleh.
"Istriku sedang dalam nafsu makan yang besar rupanya." Han mengomentari seakan dia tahu bagaimana keadaan istrinya sehari-harinya.
Zia memang merasa sangat berselera untuk makan siang ini. Han tidak salah. Nafsu makannya bertambah. Bibir Zia tidak menanggapi omongan kedua pria itu. Dia diam.
***
Berulang kali Zia mendesah lelah. Membayangkan tadi saat di meja kantin. Tiit! Pintu lift terbuka. Kaki Zia melangkah masuk dan hendak langsung menutup pintu lift, ketika seseorang menghentikan pintunya.
"Tunggu." Gara muncul.
"Gara." Zia segera menekan tombol pintu di buka. Lalu pria itu masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Hampir saja." Gara mengeluh. "Kita pergi hari ini?" tanya Gara tanpa basa-basi.
"Han bilang akan mengantarku pulang."
"Kenapa Han sekarang sering sekali mengikutimu?"
"Aku tidak tahu. Jangan tanya aku."
"Itu membuat jarak kita semakin jauh."
"Aku tidak bisa menolaknya. Dia sendiri yang mendekatiku." Pintu lift akhirnya terbuka di lantai dasar. Mereka berjalan keluar dan akan berpisah di depan. Gara perlu menuju ke area parkir, sementara Zia menunggu Hanen di sofa lobi. Pria itu meminta Zia untuk menunggunya turun.
Ada pesan masuk, dari Han.
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Ada rekan bisnis yang ingin bertemu denganku sekarang. Jika mau, kamu bisa ikut denganku."
"Tidak. Aku akan pulang sendiri."
"Baiklah. Jaga dirimu."
Jaga dirimu? Jauh sebelum ada kata itu darimu, aku sudah berusaha keras menjaga diriku sendiri. Apa sebaiknya aku menghubungi Gara?
Zia menekan nomor Gara. Nada tunggu berbunyi di sana, tapi belum ada yang menjawab.
"Zia." Zia menoleh ke belakang. Pria itu sudah ada di belakangnya.
"Gara. Aku barusan menghubungimu."
"Oh, ya?" Gara melihat ponselnya. Ada nama Zia di sana.
"Kenapa kembali?"
"Entahlah. Aku merasa kamu pasti masih di sini. Han tidak turun?" tanya Gara melihat Zia masih sendirian.
"Dia masih ada pertemuan dengan rekan bisnis. Jadi aku diminta untuk pulang lebih dulu."
"Kita pergi?" tawar Gara. Bola mata Zia mengerjap dan melihat sekitar. "Semua akan mengira kita hanya saudara." Gara tahu apa yang di pikirkan Zia.
__ADS_1
"Baiklah. Kita pergi." Zia akhirnya mengikuti ajakan Gara. Mereka akan berkencan.