Getir

Getir
Balkon


__ADS_3


Hanen membiarkan Zia bercengkrama dengan saudara-saudaranya di lantai dua. Dia sendiri bergabung dengan yang lain di ruang tamu. Karena di sana juga ada Rara, adiknya, jadi dia tidak perlu khawatir. Ia bisa mengandalkan Rara untuk menemani Zia.


"Kapan-kapan kita ke rumah kak Zia ya, Kak Rara," tutur saudara Hanen yang masih sekolah di bangku SMA.


"Ya. Aku antarin kalian, tapi jangan lupa ...." Semua menoleh ke Rara. Zia melirik. "Harus bawa oleh-oleh buat kak Zia," ingat Rara pada mereka.


"Oke. Pasti. Pasti. Jangan khawatir." Mereka menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk OK.


"Hei, tidak perlu. Kalau mau datang, ya datang saja. Rara aneh-aneh," ujar Zia sambil menepuk paha Rara yang ada di depannya dengan gemas. Adik ipar itu tergelak. Mereka lagi bercengkrama di balkon ruang santai di lantai atas. Duduk bersama di sofa. Ruangan yang sedikit terisolasi karena letaknya yang menyendiri. Terpisah dengan hiruk pikuk orang tua di lantai bawah. Dengan balkon di luar dan pemandangan taman yang indah di belakang rumah besar ini.


"Kak Rara, kita foto di taman yuk. Buat posting status di media sosial aku," pinta gadis itu.


"Aku rasa sejak tadi kamu sudah foto-foto," kata Rara sambil memicingkan mata. Karena sejak awal gadis ini sudah jeprat-jepret sana sini.


"Iya sih, tapi masih kurang. Aku sudah posting yang tadi. Ganti di tempat lain dong." Yang lain pun setuju dengan usul gadis itu. Rara menghela napas.


"Okelah. Ayo ke taman." Rara menyetujuinya. Semua berdiri dan beranjak menuju taman. Sebenarnya Zia tidak berminat, tapi tidak mungkin dia menolak. Itu terkesan tidak ramah. Akhirnya dia turut serta turun ke bawah. Sampai di lantai bawah, Zia teringat sesuatu.


"Tunggu, Ra." Zia menghentikan langkahnya. Di ikuti gadis-gadis di depan yang akhirnya ikut berhenti dan menengok ke belakang.


"Ada apa, Kak?"


"Sepertinya handphone ku ketinggalan deh." Zia melongok ke dalam clucth bag miliknya. Karena ukuran tas ini tidak terlalu besar, mudah bagi Zia langsung yakin bahwa apa yang di carinya tidak ada di sana.

__ADS_1


"Di atas sana?" tanya Rara sambil menunjuk.


"Ya." Zia mengangguk lemas.


"Ayo kita ambil," ajak Rara.


"Tidak." Zia menahan tubuh Rara. "Kamu tidak perlu ke atas. Biar aku sendiri yang ke atas buat ambil. Kalian semua ke taman duluan saja. Aku akan menyusul." Zia menyukai ide ini. Hitung-hitung untuk mengurangi durasi kegiatan yang kurang di sukai Zia dengan mereka.


"Baiklah kalau begitu." Rara setuju.


"Cepat menyusul ya, Kak." Suara mereka perlahan tenggelam karena menjauh dari Zia.


"Ya." Zia tersenyum melepas kepergian mereka. Setelah mereka pergi, Zia kembali masuk ke dalam rumah. Sesampai di bawah tangga, Zia berhenti seraya menatap tanggan. "Hh ... Ini melelahkan, tapi memang harus di ambil." Zia terpaksa menaiki tangga lagi. Dengan high heel yang di pakainya, kakinya lumayan bekerja keras untuk naik ke lantai dua setelah tadi di atas sana.


Tangan Zia mencari di sela-sela sofa di dalam ruangan. Namun dia tidak menemukan apapun. Ya, mereka sempat keluar. Berfoto dan duduk di sofa. Kakinya melangkah menuju pintu ke arah balkon. Zia merasa heran karena ternyata pintunya terbuka sedikit. Seingat Zia pintu ini sudah di tutup oleh gadis-gadis tadi.


"Hai, Zia," sapa seseorang membuat Zia terkejut. Saat mendongak dia menemukan seorang pria. Itu Gara. Dia tidak mengira akan bertemu dengannya saat sudah sejak tadi mereka tidak bisa bertemu. Setelah pertemuan pertama mereka di ruang makan, pria ini tidak nampak sama sekali.


Pria itu tengah bersandar pada pagar balkon. Kaki Zia berhenti. Bersamaan dengan dadanya yang mulai berdebar. Ternyata debaran Zia tidak hilang. Masih sama. Bahkan terasa lebih kencang di banding saat mereka bersama.


"Hai," sahut Zia datar. Kepala Zia menoleh ke arah kanan. Ke taman belakang yang indah.


Terdengar hiruk pikuk para gadis. Itu suara Rara dan yang lain sedang ber-swafoto di bawah. Jika dari dinding ruang santai dan sofa, orang yang di bawah tidak akan bisa melihat ada apa di atas sini. Dinding pagar balkon dibuat agak tinggi. Orang yang di balkon ini juga perlu mendekat dulu ke bibir dinding pagar agar bisa melihat orang yang di bawah.


Meskipun kepalanya tidak menunduk, bola matanya melihat ke bawah. Bukan tidak ingin memandang Gara, tapi mencoba tidak memandangnya. Mencoba menghindar.

__ADS_1


"Kamu sedang mencari sesuatu, Zi?" tanya Gara yang mungkin saja sejak tadi melihat Zia kebingungan. Suara pria ini terdengar sedikit aneh. Lambat dan tersendat-sendat. Sepertinya dia juga merasakan debaran yang sama.


"Ya. Handphone-ku," jawab Zia seraya memandang Gara sekilas, lalu melihat ke arah lain lagi. Dia tidak berani melihat pria ini terlalu lama. Tidak.


"Kamu meninggalkannya di sini?" Zia melihat ke depan. Tanpa melihat ke wajah pria ini. Gara menunjuk sofa dan pagar tempatnya berdiri.


"Ya. Aku rasa." Seingat Zia memang iya. Karena dia lumayan lama menemani gadis-gadis tadi berswafoto disini. Setelah menjawab, Zia memilih menggerakkan kaki menuju sofa di dekat Gara. Dia tidak harus berhenti mencari ponselnya karena ada Gara di sini. Dia harus tetap mencari dan segera turun ke bawah. Jangan berlama-lama di tempat ini.


Tangan Zia berhasil menemukan ponselnya yang terselip di sela sofa. Kemudian melangkahkan kaki berniat segera masuk dan turun.


"Tidak tanya kabarku, Zi?" tanya Gara mengejutkan. Pria ini seperti bukan hanya bertanya, tapi meminta. Gara memohon Zia menanyakan kabarnya. Kaki Zia berhenti. Menghela napas dan membalikkan tubuh.


"Bagaimana kabarmu, Ga?" Akhirnya Zia memilih mengabulkan permintaan Gara. Bola matanya menatap Gara lurus. Ia ingin menyelesaikan percakapan dengan cepat. Dari tatapan ini Zia tahu bahwa Gara tengah tidak dalam keadaan normal. Mata sayu itu menandakan pria ini sedikit mabuk.


"Aku baik."


"Syukurlah." Zia menjawab dengan singkat.


"Jika aku tidak meminta, kamu pasti tidak akan melakukannya."


Zia menghela napas berat. "Maaf. Aku hanya merasa kamu sudah terlihat baik, jadi aku tidak harus bertanya. Aku juga ..."


"Aku mengerti." Gara memotong kalimat Zia. "Kamu takut Hanen berpikiran aneh-aneh saat kita terlihat mengobrol, tapi aku merasa itu sedikit kejam untukku. Seharusnya kamu tidak perlu bersikap dingin padaku. Itu hanya sebuah sapaan."


Zia menelan salivanya sendiri mendengar kata-kata Gara.

__ADS_1


Kejam? Aku memang kejam. Sangat kejam. Maka dari itu jangan menatapku dengan hangat. Aku tidak berhak mendapatkan itu.



__ADS_2