
Hanen menyadari ada yang aneh dengan Zia yang memeluknya. "Aku menyakitimu, Zi?" tanya Han dengan kepala Zia masih berada di atas pundaknya. Kepala itu menggeleng. "Kamu tidak setuju aku melakukan ini?" tanya Han lagi. Kepala Zia juga menggeleng untuk kedua kalinya.
"Ada apa, Zi?" Hanen kebingungan. Irama bercinta mereka berantakan. Han memilih duduk dan mempererat pelukan pada tubuh Zia. Perempuan ini tidak bisa memperlihatkan tangisannya pada Han. Jadi dia diam sambil tetap menenggelamkan kepalanya pada bahu Hanen.
Pagi yang dingin karena berembun, Zia sudah berada di depan rumah menyirami bunga-bunga di taman kecil miliknya.. Dia sudah selesai membersihkan diri dan ingin bermain-main dengan tanaman-tanaman kesukaannya.
Zia menyukai jenis daun-daunan yang berwarna warni seperti Aglaonema (Chinese Evergreen) atau biasa juga dikenal sebagaiĀ 'Sri rejeki'. Meskipun ada juga bunga anggrek kesukaan mertua yang di berikan kepadanya.
Masih terekam dengan jelas bahwa dirinya menangis di saat kegiatan penyatuan mereka pertama kali tadi malam.
"Gara. Tidak aku sangka dia terus saja membekas di hati. Meski singkat, perasaanku masih terikat padanya," gumam Zia dengan tangannya yang masih memegang gembor ( ceret besar, ujung pancurannya bertutup corong yang diberi lubang-lubang kecil, dipakai untuk menyiram tanaman ) di tangannya.
Bola matanya tidak fokus pada apa yang sedang di lakukannya. Zia menerawang. Memikirkan kesalahan yang di lakukannya saat Han menyatukan diri dengannya.
Tubuh Zia berjingkat saat sebuah suara berdialog.
"Tanaman-tanaman itu akan punya persediaan air cukup untuk beberapa bulan lagi jika kamu terus saja menyiramnya seperti itu," tegur Han lembut di dekat telinga Zia. Rupanya itu suara pria ini.
"Han." Zia menengok ke samping.
"Lihatlah," tunjuk Hanen ke arah tanaman itu. Zia menoleh ke bawah. Dimana gembornya terus saja menyiram pada satu titik hingga kini air di dalamnya mulai kosong.
"Aduh, apa yang aku lakukan?" Zia terkejut. Dia sedang melamunkan Gara tadi. Hingga kegiatan yang biasanya menyenangkan hatinya ini teralihkan sementara.
Hanen tersenyum. Dia memutar tubuh Zia untuk menghadapnya. "Kamu sedang memikirkan hal yang berat?" tebak Han. Kepala Zia menggeleng. "Jika bisa, berbagi denganku."
"Aku tidak memikirkan apa-apa. Hanya lelah saja," kilah Zia sembari melukis senyum di atas bibirnya.
"Begitu ... Baiklah. Ayo kita masuk. Kita bisa masak bersama. Karena ini hari libur, aku akan membantumu. Kedepannya aku juga akan selalu membantumu. Lelahmu bisa terkurangi." Han langsung membuat pernyataan baru.
"Tidak perlu. Sekarang kegiatanku hanya di rumah. Jika memasak di ambil alih olehmu, kegiatan di rumah akan berkurang. Itu membosankan." Zia menolak seraya berlagak cemberut.
"Oke. Aku ganti. Aku akan memasak jika istriku lelah."
__ADS_1
"Itu mungkin benar." Zia menunjuk suaminya dengan bangga. Han tersenyum. Tidak ada raut wajah terluka atau kesal dengan kejadian tadi malam pada Han. Pria ini bahkan bisa tersenyum dan bersikap lembut pada Zia.
Tidak mungkin kamu lupa soal tadi malam. Kamu pasti berpura-pura tidak memikirkan itu.
"Aku sudah membeli beberapa bahan masakan dari tukang sayur tadi," kata Zia.
"Benarkah? Jadi kita siap memasak?" Zia mengangguk.
Mereka berdua masuk ke dalam. Menuju ke dapur setelah Zia meletakkan gembor di pintu belakang. Kaki Zia menuju kulkas berwarna hitam mengkilap. Mengambil belanjaan yang di belinya tadi.
"Bantu aku mengupas ya .."
"Oke." Hanen mendekat. Zia menyerahkan pisau pada suaminya.
Acara memasak ini sungguh ampuh bagi pasangan suami istri ini. Mereka berdua saling mencela dan meledek hasil potongan sayur masing-masing. Tertawa, bercanda, seakan tidak pernah ada prahara yang pernah terjadi di dalam rumah tangga mereka. Mereka cukup rileks. Meskipun tadi malam permainan ranjang mereka juga sempat terganggu karena tangisan Zia.
Karena di lakukan berdua, memasak pun terasa menyenangkan. Hingga waktu makan pun tidak terasa. Piring mereka berdua bersih dari sisa makanan. Hanen membantu membawakan sisa makanan yang masih ada, untuk di letakkan di meja dapur. Lalu menyerahkan perabot yang kotor ke Zia yang sudah siap mencuci.
"Oke." Han mengikuti usulan Zia dan duduk di kursi meja makan. Zia mulai mencuci piring. Kegiatan sehari-harinya adalah ibu rumah tangga. Meskipun masih terasa asing karena seringkali dia menghabiskan waktu dengan bekerja di luar.
Zia terkejut dan berjingkat saat lengan Hanen memeluknya dari belakang. Kebiasaan laki-laki ini.
"Han ... kamu membuatku kaget," seru Zia seraya menyodok perut Hanen dengan pelan. Pria ini hanya terkekeh pelan.
"Kamu sudah mandi?" tanya Han yang menghirup aroma segar dari rambut Zia saat meletakkan kepalanya di pundak wanita ini. Dia juga merasakan rambut Zia sedikit basah saat tangannya menyentuh rambut itu.
"Tentu saja sudah."
"Makanya harum sekali."
"Gombal," cibir Zia. "Kamu belum mandi?" tanya Zia balik. Lalu menengok ke arah Han di pundaknya.
"Sudah juga."
__ADS_1
"Ayo lepaskan aku. Perabot ini tidak akan selesai di cuci jika kamu seperti ini." Karena kedua tangan Zia basah, dia menggesekkan kepalanya ke arah kepala Hanen bermaksud mengusirnya.
"Tidak. Aku tidak mau melepaskanmu lagi, Zi," ucap Hanen dengan matanya yang tertutup. Kepala pria ini masih bersandar pada bahu Zia.
"Aku mau mencuci piring, Han." Zia berusaha berontak dengan menggerak-gerakkan tubuhnya agar terlepas dari dekapan Hanen.
"Biarkan kita begini." Han semakin mendekap tubuh Zia erat. "Aku tidak ingin di tolak Zia," bisik Han lirih dan terdengar menyedihkan. Kalimat itu membuat Zia akhirnya memilih diam. Dia meletakkan piring di tangannya dan mencuci busa sabun yang menempel.
Zia mengira ini ada hubungannya dengan kejadian semalam. Saat dirinya mengijinkan penyatuan, tapi justru menangis saat Hanen pada puncak hasratnya. Itu mungkin adalah suatu penolakan bagi Hanen.
Keadaan sunyi. Hanen memeluk Zia yang diam tidak melakukan apapun di depannya.
"Han. Tadi malam aku ..." ujar Zia yang sudah tidak tahan lagi untuk mengatakannya. Ia ingin membahasnya soal dirinyam
"Jika kamu membahas tentang kita tadi malam, jangan. Biarkan saja." Hanen langsung menangkap maksud Zia.
"Tapi aku ... "
"Aku memahaminya," potong Hanen cepat.
"Aku selalu teringat saat malam itu aku menolakmu, Han. Aku tidak tenang." Zia mulai mengungkap isi hatinya.
Hanen mengangkat kepala dan melepaskan dekapannya. Memutar tubuh Zia agar menghadap padanya. Tangannya menyentuh pipi Zia. Wanita ini diam seraya menatap Hanen. Tidak lagi meneruskan kalimatnya.
"Aku tidak apa-apa. Kamu bisa bersikap biasa saja. Jika tidak, itu akan membuat suasana menjadi tidak nyaman di antara kita," ujar Han.
"Aku sudah menolakmu, Han. Aku tidak bisa melepaskan pikiranku soal itu."
"Kamu tidak menolakku." Han meyakinkan Zia. "Itu pertama kalinya kita melakukannya. Kita memulai ... Bukan, tapi aku yang memulainya dengan terlalu cepat. Rasa sakit hatimu karena aku masih membekas. Maafkan aku Zi. Aku terlalu terburu-buru dan hanya mementingkan diriku sendiri." Han meminta maaf soal penyatuan mereka tadi malam.
Zia sebenarnya ingin meminta maaf juga, tapi rupanya kalah cepat dengan Han yang sudah mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Han memang berubah, batin Zia.
"Aku memang terkejut saat kamu menangis, tapi aku memahaminya. Perasaanmu lebih penting daripada keinginanku." Hanen memeluk tubuh Zia. "Aku bisa menunggu, Zi. Hatimu tidak akan bisa tenang jika aku memaksa. Aku mengerti. Singkirkan dulu keinginanku." Zia ikut melingkarkan lengannya pada pinggang Han. Lalu semakin menenggelamkan kepala pada dada pria ini.
__ADS_1