Getir

Getir
Bab. 111


__ADS_3

Kancing kemeja Hanen sudah selesai di buka keseluruhannya. Zia mundur untuk memberi ruang pada pria ini melepas kemeja. Sesat, bola maat Zia menatap Hanen dengan seksama. Dia adalah pria yang pertama aku cintai, batin Zia.


Hanen memutar tubuh menghadap ke arah Lemari. Zia mendekat perlahan mengikuti. Lalu tanpa ragu ia melingkarkan lengannya pada tubuh Hanen tiba-tiba.


"Zia?" tegur Han terkejut. Bahkan perempuan ini menyandarkan kepalanya pada punggung Hanen. Dimana tubuh atas pria ini masih polos belum memakai baju karena Zia sudah memeluknya terlebih dahulu. Ini membuat Hanen menolehkan kepalanya ke samping. "Ada apa?" Tangan Hanen ikut memeluk tangan istrinya.


"Terima kasih," sahut Zia.


"Terima kasih soal apa?" tanya Hanen lembut.


"Soal konferensi pers itu."


Hanen diam. Seingat dia, tidak ada yang memberi tahu soal itu. "Jadi kamu tahu?"


"Ya. Berkat kamu, mereka berhenti membicarakan aku."

__ADS_1


Hanen melepas pelukan Zia dan memutar tubuhnya agar dapat saling berhadapan. Lalu menyentuh dagu Zia dan menengadahkan ke arahnya.


"Tidak perlu berterima kasih. Tugas ku untuk melindungi kamu," kata Hanen lalu memeluk tubuh perempuan ini. Dia mengecup ke Zia dengan penuh perasaan. Mereka pun berpelukan erat untuk saling menguatkan.


***


Gara masih terus saja menyendiri. Meski dia berangkat kerja seperti bisa, tapi pikirannya kacau. Pria ini masih tidak ingin dekat dengan wanita manapun. Hanya minuman beralkohol menjadi temannya.


Rara yang melihat keadaan Gara jadi prihatin.


"Apa kak Gara tidak ada janji di luar?" tanya Rara seraya mendekat. Lalu ikut duduk di atas bar stole.


"Tidak ada, apa sebaiknya aku yang mengajak Kak Gara keluar?"


"Jika ini untuk menghiburku, abaikan. Aku tidak ingin kemana-mana." Gara tahu adik perempuannya ini selalu mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Hhh ... Jadi tidak ada yang bisa membuat Kak Gara berhenti menjadi seperti ini kalau bukan Kak Zia, ya?" tanya Rara berani. Selama ini soal hubungan Zia dan Gara memang selalu di ketahui Rara. Gara sendiri terbuka pada adiknya.


Bibir Gara hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan adiknya.


"Aku tidak benar-benar paham soal cinta sejati, tapi sepertinya itu membuat kakak banyak terluka." Rara mengatakan ini dengan wajah sendu. Gara menyesap minumannya pelan. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dimana itu artinya keadaan hatinya memang penuh dengan luka.


"Apa Kak Gara tidak pernah berpikir kalau Kak Zia itu egois?" tanya Rara mengejutkan. Gara menoleh pada adiknya. "Kak Zia sekarang hidup bahagia, sementara Kak Gara terpuruk di sini. Bukankah cinta itu seharusnya bahagia, bukan menderita."


Jika yang mengatakan itu adalah orang lain, Gara pasti menghajarnya habis-habisan. Namun karena yang bicara adalah Rara, dia hanya tersenyum remeh. Bukan mencela Rara bicara. Namun dia tahu, gadis ini hanya memprovokasi dirinya untuk bangkit lewat cara yang beda, bukan sengaja menjelekkan atau mengomporinya.


"Di mataku, Zia juga sempat menderita seperti aku," jawabnya tenang. "Bahkan lebih dari yang bisa orang pikirkan. Aku merasa dia juga hancur melebihi kehancuran yang aku rasakan. Jadi jika memikirkan dia itu wanita egois, aku tidak mampu. Karena itu lebih menghancurkan hatinya."


Rara terdiam.


"Kakak sudah tidak bisa di selamatkan," ujar Rara setengah menggerutu dan mencela. Dia mengambil cola dan menuangkannya pada gelas.

__ADS_1


"Pftt ..." Di luar dugaan Gara tergelak mendengar kalimat adiknya.


..._____...


__ADS_2