
"Kalau begitu mama kupasin buat kamu ya ...," tawar mama ingin menyenangkan menantunya. Gara berhasil. Sepertinya dia sengaja membuat mama melakukan itu. Gara membawakan piring dengan buah alpukat di atasnya. lalu menyerahkan pada beliau. Raut wajah pria ini terlihat bahagia ketika mama menunjukkan perhatiannya pada Zia.
"Terima kasih, Ma.” Zia berucap.
"Oh, ya ada yang lupa." Gara berjalan kembali ke meja. "Zia suka alpukat dengan cokelat kental manis di atasnya." Tak lupa Gara mengeluarkan susu kental manis dengan wadah refill yang sudah ada corong dan tutup untuk menuangkannya. Ini suatu kebetulan yang hakiki jika Gara begitu paham apa yang di sukai perempuan ini. Semua orang pasti akan berpikir kalau Gara sangat dekat dengan Zia.
"Ternyata mama belum tahu banyak ya tentang menantu mama yang sedang hamil ini," ujar mama seakan membandingkan dirinya dan Gara yang hanya menjadi adik ipar. Rasa bersalah mama begitu kentara.
"Sering-seringlah melihat keadaan Zia, Ma. Jadi mama tahu apa kesukaannya. Dia sedang mengandung cucu Mama bukan," ujar Gara mengejutkan.
__ADS_1
Zia menoleh cepat ke arah Gara dengan sangat terkejut. Lalu menoleh pada Mama yang masih melihat ke arah Gara dengan bola matanya yang tertegun mendengar itu. Tangan beliau yang hendak mulai mengeksekusi buah alpukat, urung.
"Zia tidak apa-apa, Ma," ujar Zia tidak ingin membuat suasana tidak nyaman karena perkataan Gara.
"Kecelakaan itu bukan hanya Hanen. Di sana ada Zia juga. Meski tubuhnya tidak banyak luka seperti Hanen, dia juga pasti syok melihat sendiri kejadian itu," lanjut Gara tidak peduli mama tertegun mendengarnya. Sedikit kurang ajar tapi itu benar. Ini sebuah nasehat.
"Gara! Berhenti bicara seperti itu pada mama! Kamu sangat kurang ajar!" seru Zia marah. "Tidak apa-apa Ma. Hanya masalah buah alpukat saja tidak membuat mama menjadi mertua yang tidak mengerti tentang Zia. Mama sudah menjadi mertua yang sangat baik dan mau memaafkan kesalahan Zia." Zia kembali menenangkan mertuanya.
"Aku mohon berhenti menyudutkan Mama, Gara! Mama tidak mengabaikan aku. Beliau sangat cemas dengan keadaan Hanen. Buatku itu tidak aneh. Karena keadaan ku juga lemah, aku tidak bisa melihat keadaan Hanen setiap waktu. Jadi aku merasa beruntung ada mama yang menemani Hanen setiap waktu. Jadi berhenti bicara pada mama seperti itu!" Zia membela mertuanya.
"Mama mengerti apa yang di katakan Gara, Zia. Mungkin mama memang sempat mengabaikan menantu dan cucu mama." Pukulan telak untuk mama. Beliau akhirnya menurunkan ego untuk mengaku salah. Zia menatap mertuanya dengan rasa bersalah juga. Dia melirik Gara dengan tatapan menuduh dan marah. Gara hanya diam seraya melihat keduanya.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, Ma. Itu tidak benar." Zia menyentuh tangan mertuanya. Memohon beliau untuk tidak terpengaruh pada kalimat Gara.
"Sudahhhh ... Mama tahu. Kamu pasti juga menderita melihat keadaan Hanen." Mama berkata dengan lembut. Beliau tidak marah. Bahkan tersenyum seraya menyentuh garis pipi Zia setelah meletakkan piring buah di atas ranjang. "Maafkan mama, ya."
"Mama tidak perlu meminta maaf, justru Zia yang harus meminta maaf karena Zia yang banyak salah." Zia menggelengkan kepalanya.
Tangan mama terulur menyentuh kepala menantunya. "Terima kasih sudah menerima Han dengan segala keburukan yang ia punya," ujar mama membuat kamar penuh dengan rasa haru. Bola mata mama berkaca-kaca. Zia tidak bisa membuka bibirnya lagi untuk bicara, karena ia juga hampir menangis jika satu kata saja keluar dari bibirnya.
Gara menatap Zia agak lama. Ada rasa sakit yang tak terucap, ketika bola mata perempuan ini terlihat tenggelam dalam kalimat mama. Sepertinya Zia tengah memikirkan Hanen sekarang. Gara mengerjapkan mata seraya membuang wajah ke arah lain. Bagaimanapun baik dan penuh perhatiannya dia pada Zia, perempuan itu tidak akan pernah menjadi miliknya. Hanen akan tetap menjadi pemenangnya.
Terus berjuang? Apa kau sengaja mengatakannya karena ingin mencelaku yang tidak akan pernah bisa mendapat Zia sepenuhnya Han? Gara mendengus. Ia ingat kalimat yang Hanen katakan waktu itu.
__ADS_1
...----------------...